Guru dan Murid Rawan Terjerat Pinjol, Literasi Keuangan Kian Penting

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Literasi keuangan jadi bekal penting bagi generasi muda yang dapat disiapkan dari bangku sekolah dan kuliah. Kemampuan mengelola keuangan secara cerdas dan bijak dapat menyelamatkan anak-anak muda dari kesalahan pengelolaan keuangan di tengah ancaman judi online, pinjaman online ilegal, maupun investasi bodong.

Belum lama ini, Direktur Eksekutif Yayasan Cahaya Guru (YCG) Muhammad Mukhlisin mengungkapkan, literasi keuangan yang rendah membawa dampak serius, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga para guru dan murid di dunia pendidikan. Bermunculan kasus para guru dan pelajar yang terlibat judi online (judol) maupun pinjaman online (pinjol) yang berdampak pada karakter yang tidak baik seperti pencurian.

Mukhlisin mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) , sekitar 42 persen peminjam daring adalah guru. “Ini menjadi tanda bahwa literasi keuangan perlu diperkuat secara serius di lingkungan pendidikan. Kita juga melihat berbagai kasus yang memprihatinkan, mulai dari guru yang terjerat pinjaman online hingga pelajar yang terpapar judi online,” ujarnya.

Tidak hanya guru, para pelajar juga terkena dampak literasi keuangan yang rendah. Seorang siswa SMP di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, diketahui bolos sekolah selama satu bulan karena malu terlilit utang akibat judol dan pinjol. Bahkan, seorang mahasiswa di Cianjur ditangkap karena mengedarkan ganja dengan motif membayar utang pinjol dan judol.

Baca JugaProfesi Guru Paling Banyak jadi Korban “Pinjol” Ilegal

Pada Selasa (19/5/2026) lalu, Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, Mohammad Ismail Riyadi menyampaikan literasi keuangan bukan hanya soal memahami uang, tetapi bagaimana masyarakat mampu membangun ketahanan finansial dan melindungi diri dari berbagai risiko kejahatan keuangan digital. ”Literasi keuangan memiliki hubungan erat dengan kesejahteraan individu maupun negara,” ucapnya, di acara Kick Off Bulan Literasi Keuangan, yang dirangkaikan dengan Hari Pendidikan Nasional 2026, dari Jakarta.

Adapun bulan Mei dijadikan Bulan Literasi Keuangan oleh OJK, menyasar dunia pendidikan yang juga tengah memperingati Hari Pendidikan Nasional. Bulan Literasi Keuangan 2026 ini menjadi momentum penguatan edukasi serta inklusi keuangan masyarakat secara nasional melalui kolaborasi antara OJK, kementerian/lembaga, dan industri jasa keuangan.

Literasi keuangan bukan hanya soal memahami uang, tetapi bagaimana masyarakat mampu membangun ketahanan finansial dan melindungi diri dari berbagai risiko kejahatan keuangan digital.

Baca JugaLiterasi Keuangan sejak Dini dalam Kurikulum Sekolah

Ismail mengatakan penipuan digital, pinjaman online ilegal, dan investasi bodong terus berkembang di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital di masyarakat. Karena itu, pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan perlu terus diperkuat secara kolaboratif.

Akibat rendahnya literasi keuangan ini, Muklisin mengungkapkan, muncul sejumlah kasus, seperti penggelapan uang tabungan siswa di sekolah. Di Sumatera Selatan, misalnya, seorang guru SD di Ogan Ilir diduga menggelapkan tabungan siswa hingga lebih dari Rp 100 juta untuk membayar utang pinjol.

Kasus serupa juga melibatkan guru SD di Indralaya Utara yang menggelapkan uang tabungan siswa senilai Rp 95 juta demi menutup kebutuhan pribadi dan utang pinjol. Sementara di Jakarta, seorang guru Sosiologi SMA diduga menggadaikan laptop milik siswa akibat tekanan finansial yang berkaitan dengan pinjol.

Tidak hanya guru, para pelajar pun terkena dampak literasi keuangan yang rendah. Seorang siswa SMP di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, diketahui bolos sekolah selama satu bulan karena malu terlilit utang akibat judol dan pinjol.  Bahkan, seorang mahasiswa di Cianjur ditangkap karena mengedarkan ganja dengan motif membayar utang pinjil dan judol.

Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Bareskrim Polri menunjukkan, sejak awal 2025 terdapat 16 pelajar dan mahasiswa yang menjadi terlapor kasus perjudian online maupun offline. Sementara data Pusat Pelaporan dan Analisi Transaski Keuangan menunjukkan, pada kuartal pertama 2025, pemain judol usia 10–16 tahun menyetorkan dana lebih dari Rp 2,2 miliar, sedangkan kelompok usia 17–19 tahun mencapai Rp 47,9 miliar.

“Rendahnya literasi keuangan melalui sekolah menginisiasi kami untuk membantu pembelajaran inovatif untuk meningkatkan literasi keuangan. Ini dilakukan dengan pendekatan board game atau papan permainan edukatif bernama CUAN,” kata Mukhlisin.

Baca JugaAnak Muda dalam Pusaran Judi ”Online”, Kebelet ”Gacor” sampai Dompet Bocor
Papan bermain CUAN

Mukhlisin menjelaskan, CUAN alias Cara Untung Atur Uang merupakan papan permainan yang ditujukan bagi guru dan pelajar tingkat SMA/SMK/MA. Peluncuran ini, menurut rencana, akan dilaksanakan pada 23 Mei 2026 di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lebih lanjut, Mukhlisin mengatakan YCG berkolaborasi dengan PT Insight Investments Management  dan Apparo Game dalam menyusun board game CUAN sekitar  lima bulan. Melalui pendekatan bermain, papan permainan CUAN diharapkan mampu meningkatkan pemahaman guru dan pelajar mengenai pengelolaan keuangan, risiko pinjaman, investasi, serta dampak judi online.

“Literasi keuangan tidak cukup hanya diajarkan melalui ceramah atau teori. Anak muda perlu pendekatan yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan keseharian mereka. Karena itu, board game ini kami hadirkan sebagai media belajar yang lebih relevan,” lanjut Mukhlisin.

Literasi keuangan tidak cukup hanya diajarkan melalui ceramah atau teori. Anak muda perlu pendekatan yang menyenangkan, interaktif, dan dekat dengan keseharian mereka.

Permainan keuangan melalui board game, menurut Mukhlisin, juga dapat mempererat kembali interaksi sosial yang nyata dan mengasah kemampuan berpikir strategis. “Yang paling penting melepaskan diri sejenak dari ketergantungan gawai,” tegasnya. 

Setelah peluncuran, para guru peserta akan menerapkan metode pembelajaran menggunakan board game CUAN di sekolah masing-masing sebagai bagian dari edukasi literasi keuangan yang kontekstual dan partisipatif. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat literasi keuangan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh generasi muda.

“Kami berharap permainan ini dapat disebarluaskan ke lebih banyak sekolah dan komunitas pendidikan. Kami juga membuka peluang kerja sama dengan pemerintah maupun sektor swasta untuk bersama-sama membangun ekosistem pendidikan literasi keuangan yang lebih kuat dan inklusif,” kata Mukhlisin.

Memitigasi risiko finansial

Sementara itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, kemnterian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Fauzan Adziman  mengatakan literasi keuangan menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan global yang sangat cepat. Generasi muda perlu memiliki pemahaman menyeluruh dalam mengelola keuangan, tidak hanya tentang cara memperoleh pendapatan, tetapi juga mengatur pengeluaran, menabung, berinvestasi, hingga memahami berbagai risiko finansial.

Menurut Fauzan, Kemendiktisaintek mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dalam akademik dan teknologi, sekaligus memiliki kecakapan finansial yang kuat menuju Indonesia Emas 2045. “Belajar dan meningkatkan keterampilan merupakan investasi yang memberikan hasil terbaik. Ketika ilmu pengetahuan dipadukan dengan pemahaman finansial yang baik, maka akan lahir inovasi dan kontribusi nyata untuk pembangunan bangsa,” ujar Fauzan.

Baca JugaMengapa Kaum Muda dengan Ekonomi Terbatas Disasar Iklan Judol dan Pinjol?

Sementara itu, Dony Abdul Chalid saat pengukuhan sebagai guru besar ilmu manajemen di Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia  pada April 2026 mengemukakan inovasi keuangan memudahkan seseorang mengakses informasi produk dan instrumen keuangan tanpa perlu adanya interaksi dengan agen yang mewakili lembaga keuangan atau institusi di pasar keuangan. Namun, kemudahan ini juga meningkatkan potensi kesalahan dalam pengambilan keputusan karena bergantung pada kemampuan individu dalam memahami informasi.

Dony menyoroti fenomena menurunnya kepercayaan terhadap institusi keuangan tradisional serta meningkatnya pengaruh generasi Z dan fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dalam perilaku investasi. Kondisi ini dinilai dapat mendorong keputusan investasi yang tidak rasional.

Literasi keuangan secara luas dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan individu untuk memahami konsep keuangan

Oleh karena itu, literasi keuangan sebagai bentuk intervensi untuk memitigasi risiko, kian penting. “Literasi keuangan secara luas dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan individu untuk memahami konsep keuangan serta menggunakan pengetahuan tersebut dalam membuat keputusan keuangan yang efektif,” katanya.

Baca JugaMahasiswa Butuh Penguatan Literasi Finansial

Literasi keuangan, lanjut Dony, tidak hanya mencakup pemahaman produk keuangan, tetapi juga prinsip dasar keuangan, perilaku keuangan rasional, serta sikap keuangan (financial attitude) yang berorientasi pada tujuan jangka panjang dan kesejahteraan finansial. Karena itu, literasi keuangan menjadi kompetensi penting dalam menghadapi sistem keuangan modern yang semakin kompleks dan digital.

“Peningkatan literasi keuangan jadi faktor kunci dalam mendorong kesejahteraan masyarakat serta pembangunan ekonomi berkelanjutan. Karena itu, pemerintah, lembaga pendidikan, dan institusi keuangan perlu memprioritaskan mendukung peningkatan kemampuan finansial dari sisi pendidikan dan kebijakan yang mendukung,” katanya.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Merangkak Keluar Rumah, Bayi 1 Tahun di Sulbar Tewas Tercebur Sungai
• 6 jam laludetik.com
thumb
Kertajati Jadi MRO Hercules, Legislator PDIP: Persepsinya Jadi Pangkalan Militer AS
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Biasa Pakai Bahasa Inggris, Jihane Almira Curhat Kesulitan Kuasai Dialek Jawa di Film Sekawan Limo 2
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Aston Villa Akhiri Puasa Gelar 30 Tahun usai Juarai Liga Europa dengan Gasak Freiburg 3-0
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Pembelian Dolar dalam Jumlah Besar Bakal Dipantau Ketat, BI Gandeng OJK
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.