Jakarta (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat lalu lintas sapi menjelang Idul Adha 2026 mencapai 198.925 ekor pada Januari-April 2026 atau meningkat 70 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan peningkatan itu menunjukkan pergerakan hewan kurban antarpulau semakin intensif menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
“Tahun ini menurut pemantauan Best Trust, aplikasi atau sistem data kita yang ada di Barantin, ada (pergerakan) sekitar 198.925 ekor sapi, lalu untuk kambing ada sekitar 103.216 ekor,” kata Karding di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan daerah pengeluaran sapi terbesar berasal dari Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Timur.
Baca juga: Sumsel terima 18 sapi kurban bantuan Presiden Prabowo
Menurut dia, NTT menjadi salah satu daerah pemasok utama sapi kurban ke berbagai wilayah tujuan termasuk DKI Jakarta.
“Kalau asal paling banyak rata-rata NTT. NTT penyumbang terbesar-lah kira-kira,” ujarnya.
Sementara itu, lalu lintas kambing dan domba pada Januari-April 2026 tercatat mencapai 103.216 ekor atau meningkat 77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Daerah pengeluaran terbesar untuk kambing dan domba meliputi Jawa Timur, Lampung, NTT, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding meninjau langsung kondisi sapi asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), di kapal pengangkut ternak saat inspeksi kedatangan hewan kurban di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) Di Pelabuhan Tanjung Priok, Barantin mencatat pemasukan sapi lokal sejak awal Januari hingga 21 Mei 2026 telah mencapai 2.837 ekor.
Karding mengatakan tingginya lalu lintas ternak membuat pengawasan karantina perlu diperkuat agar distribusi hewan kurban tetap aman dari risiko penyakit.
Menurut dia, setiap ternak yang masuk wajib melalui pemeriksaan dokumen, kesehatan, hingga pengawasan dan disinfeksi alat angkut ternak selama distribusi untuk memastikan kelayakan sebagai hewan kurban.
Baca juga: Pramono larang pedagang hewan kurban berjualan di trotoar
Ia menambahkan Barantin juga melakukan mitigasi risiko terhadap penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, serta brucellosis menjelang Idul Adha.
“Kita ingin memastikan bahwa semua hewan calon-calon kurban itu dipastikan aman dari penyakit,” tegas Karding.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan peningkatan itu menunjukkan pergerakan hewan kurban antarpulau semakin intensif menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
“Tahun ini menurut pemantauan Best Trust, aplikasi atau sistem data kita yang ada di Barantin, ada (pergerakan) sekitar 198.925 ekor sapi, lalu untuk kambing ada sekitar 103.216 ekor,” kata Karding di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan daerah pengeluaran sapi terbesar berasal dari Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Timur.
Baca juga: Sumsel terima 18 sapi kurban bantuan Presiden Prabowo
Menurut dia, NTT menjadi salah satu daerah pemasok utama sapi kurban ke berbagai wilayah tujuan termasuk DKI Jakarta.
“Kalau asal paling banyak rata-rata NTT. NTT penyumbang terbesar-lah kira-kira,” ujarnya.
Sementara itu, lalu lintas kambing dan domba pada Januari-April 2026 tercatat mencapai 103.216 ekor atau meningkat 77 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Daerah pengeluaran terbesar untuk kambing dan domba meliputi Jawa Timur, Lampung, NTT, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding meninjau langsung kondisi sapi asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), di kapal pengangkut ternak saat inspeksi kedatangan hewan kurban di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (ANTARA/Aria Ananda) Di Pelabuhan Tanjung Priok, Barantin mencatat pemasukan sapi lokal sejak awal Januari hingga 21 Mei 2026 telah mencapai 2.837 ekor.
Karding mengatakan tingginya lalu lintas ternak membuat pengawasan karantina perlu diperkuat agar distribusi hewan kurban tetap aman dari risiko penyakit.
Menurut dia, setiap ternak yang masuk wajib melalui pemeriksaan dokumen, kesehatan, hingga pengawasan dan disinfeksi alat angkut ternak selama distribusi untuk memastikan kelayakan sebagai hewan kurban.
Baca juga: Pramono larang pedagang hewan kurban berjualan di trotoar
Ia menambahkan Barantin juga melakukan mitigasi risiko terhadap penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, serta brucellosis menjelang Idul Adha.
“Kita ingin memastikan bahwa semua hewan calon-calon kurban itu dipastikan aman dari penyakit,” tegas Karding.





