JAKARTA, KOMPAS.TV - Pedagang elektronik mengeluhkan harga-harga dagangan yang naik imbas melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan harga ini dikhawatirkan membuat barang tidak laku karena tidak sesuai daya beli masyarakat.
Suis, pedagang alat elektronik di Glodok, Jakarta Barat, mengaku harga-harga terus naik karena perubahan kurs rupiah terhadap dolar AS.
Suis menyebut barang seperti pendingin ruangan (AC) dan televisi naik hingga sekitar 10 persen. Menurutnya, kenaikan harga elektronik saat ini lebih tinggi dibanding sebelumnya.
"Mungkin persentasenya (kenaikan) paling besar TV, karena bentuk panel, katanya panel naiknya tinggi sekali katanya," kata Suis dilaporkan tim liputan KompasTV, Kamis (21/5/2026).
"Kayak TV Sony sebelumnya 20 jutaan, saya jual sekarang mungkin sekitar 22-23 (juta), hampir 10 persen lebih kan. Nggak gampang naik 10 persen, itu untungnya mana ada dua juta."
Baca Juga: PT Danantara Sumber Daya Dibentuk, Airlangga Yakin Reformasi Ekspor SDA Perkuat Rupiah
Suis mengaku tidak mengambil keuntungan besar dari penjualan alat elektronik. Namun, dirinya berharap pemerintah bisa menstabilkan nilai tukar rupiah.
Kendati penjualan alat elektronik disebut semakin lesu sejak pandemi Covid-19, dia berharap pemerintah bisa membuat langkah nyata untuk menguatkan nilai rupiah dan menjaga daya beli masyarakat.
"Kalau bisa stabil lah, bikin stabilnya gimana, kan bukan kita yang nentuin, market stabil kita juga jualan tenang mau beli apa tenang, mau beli sesuai rencana lah," kata Suis.
"Kalau ini kan rencana bisa bubar, semua apa yang udah mau dipikirkan bisa bubar semua. Harga ada perubahan-perubahan kurs besar dampaknya."
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- harga elekronik naik
- nilai tukar rupiah
- rupiah melemah
- pedagang elektronik
- rupiah





