Bisnis.com, JAKARTA - Aktivitas pagi Suyanto terasa berbeda dalam beberapa hari terakhir. Selepas menyeruput kopi di serambi rumahnya, petani palawija di Desa Tampang Baru, Kecamatan Bayu Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan ini bergegas menuju ke kebun semangka miliknya.
Setelah melewati proses semai, pembungaan hingga pematangan dalam hampir 3 bulan belakangan, kebun semangka yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya itu bersiap untuk dipanen. Perhatiannya pada perkembangan buah juga makin intens. Bila tak ada aral, semangka siap petik dan dijual pada akhir bulan ini.
“Sekitar 25 Mei ini Insyaallah sudah bisa dipanen. Semoga harga di pasar tinggi, buahnya juga banyak,” ceritanya kepada Bisnis di sela agenda Indonesia Petroleum Association Convention & Exhibition 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (20/5/2026).
Dia tak mau sesumbar. Berhasil memproduksi sekitar 25 ton saja sudah sangat syukur. Bayangan angka ini keluar setelah pada panen sebelumnya dia mendapat hasil sekitar 23 ton. Dengan harga jual sekitar Rp5.000 per kilogram pada tahun lalu, bapak satu anak ini meraup pendapatan sekitar Rp90 juta.
Hasil berkebun ini tidak disia-siakan oleh Suyanto. Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, uang besar itu segera diputar kembali untuk modal kerja. Sebagian bahkan disisihkan untuk membeli lahan baru seluas 2 hektare dan membeli sejumlah alat termasuk mesin bajak. Rencananya, lahan baru ini untuk memperluas area tanam semangka yang kini masih 1 hektare.
Kisah yang dijalani Suyanto saat ini bertolak belakang dengan kondisinya empat tahun lalu. Pada 2022 saat memulai menanam semangka, dia benar-benar terpuruk. Tanpa ilmu memadai ditambah alat yang terbatas, Suyanto berulangkali menghadapi gagal tanam akibat kesulitan dalam proses semai.
Baca Juga
- Ikhtiar Medco (MEDC) Memperkuat Ketahanan Energi Nasional
- Produksi Migas Medco Melonjak ke 170.000 Boepd pada Kuartal I/2026
- Medco (MEDC) Beroperasi 20 Tahun di Oman, Produksi 110 Juta Barel Minyak
Belum lagi dia tak menemukan formula pupuk yang cocok untuk karakteristik lahan di kebunnya. Walhasil, kebun seluas 1 hektare itu hanya menghasilkan 4 ton semangka, jauh dari rata-rata nasional sekitar 20 ton per hektare. Angka tersebut cukup menggambarkan kerugian yang dialami Suyanto di tengah merosotnya harga semangka kala itu.
“Keluarga bahkan sempat menyarankan saya untuk tidak menanam semangka lagi. Tapi syukurnya, kami berusaha terus,” katanya.
Bagi Suyanto, akan selalu ada cahaya di ujung lorong. Di tengah suasana hati yang nyaris putus asa, kelompok tani Sumpal Palawija Makmur tempat Suyanto bernaung, mendapat pendampingan dari PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), melalui anak usahanya, Medco E&P Grissik Ltd lewat Program Local Business Development (LBD).
Dari sinilah perubahan mulai dirasakan. Sejak 2023, kelompok tani tersebut diberi sejumlah bekal penting dalam penanaman tumbuhan palawija. Dimulai dari pelatihan pembuatan pupuk organik, proses semai, sterilisasi tanah kebun hingga penyediaan alat-alat pendukung pertanian dan akses pasar.
“Dari pelatihan produksi pupuk organik, kami bisa memangkas ongkos tanam menjadi sangat hemat. Lalu, proses semai sampai cara pengolahan lahan, juga bantuan lain,” katanya.
Perlahan namun pasti, hasil panen pertama sejak mendapat pendampingan Medco melonjak drastis dari sebelumnya hanya 4 ton pada menjadi 16 ton pada 2024. Dari hasil panen itu, suami dari Puji Prihatin ini memeroleh untung sekitar Rp15 juta. Sementara tahun lalu, Suyanto mencatat keuntungan terbesarnya dari kebun semangka.
Hasil panen 2025 merupakan perolehan tertinggi yang pernah di capai baik secara tonase maupun keuntungan. Pencapaian ini menjadi momen yang sulit dilupakan pria asal Lampung tersebut. Pendampingan dari Medco benar-benar menjadi titik balik bagi petani di Desa Tampang Baru dan kelompok taninya.
“Di luar itu bahkan produksi pupuk organik hasil pembinaan Medco kepada kelompok tani kami sudah mulai diminati dan dibeli oleh petani lain,” katanya.
Manager Field Relations & Community Enhancement Corridor Asset, Sudewo mengatakan bahwa program LBD dijalankan secara bertahap sejak 2023 untuk menjawab berbagai tantangan yang sebelumnya dihadapi para petani, mulai dari keterbatasan modal, rendah produktivitas, keterbatasan pengetahuan teknis budidaya, hingga belum optimalnya jaringan pemasaran.
Medco E&P Grissik Ltd. sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di Blok Corridor, memberikan dukungan melalui pendampingan teknis, penyediaan sarana produksi, serta memfasilitasi akses pemasaran.
Pada pelaksanaannya, MedcoEnergi bersama Plantari mendampingi Kelompok Sumpal Palawija Makmur yang beranggotakan delapan petani. Keberhasilan ini menunjukkan program pengembangan masyarakat yang dilakukan konsisten dapat berdampak ekonomi nyata.
“Sebagai perusahaan yang beroperasi secara bertanggung jawab, MedcoEnergi berkomitmen terus mendukung program pengembangan masyarakat yang tepat sasaran. Melalui penguatan usaha lokal seperti ini, kami berharap masyarakat dapat semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Sudewo.
Program ini sejalan dengan komitmen MedcoEnergi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan masyarakat di sekitar wilayah operasi, khususnya penguatan ekonomi lokal, peningkatan kapasitas usaha, dan kemandirian masyarakat.
Sejauh ini kata dia, Medco telah memberdayakan sekitar 20.000 masyarakat setempat dengan fokus pada sejumlah program. Beberapa di antaranya seperti pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Adapun dalam pendampingan kelompok tani seperti yang dialami Suyanto, Medco berupaya meningkatkan kapasitas masyarakat petani untuk mendukung ketahanan pangan hingga ekonomi keluarga. Dampaknya, Suyanto dan kelompok taninya dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain di Sumatra Selatan terutama petani palawija.
Di luar program pemberdayaannya, MedcoEnergi turut menegaskan perannya dalam memperkuat ketahanan energi nasional dengan peningkatan produksi migas hingga 18%, pengembangan proyek gas strategis, ekspansi ketenagalistrikan, dan pertumbuhan energi terbarukan.
Pertumbuhan Kinerja MEDC
Senior VP Business Support MedcoEnergi, Iwan Prajogi menyampaikan bahwa MedcoEnergi membukukan produksi migas sebesar 170 mboepd pada kuartal I/2026, meningkat 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di level 156 mboepd pada 2025.
“Lima dekade kemitraan energi Indonesia menjadi fondasi penting untuk melangkah ke era pertumbuhan berikutnya. MedcoEnergi berkomitmen untuk terus mengambil peran melalui pengembangan proyek yang terukur, andal, dan mendukung ketahanan energi nasional,” katanya.
Di Sumatra Selatan, pengembangan gas terus berlanjut. Corridor PSC berproduksi penuh di bawah kepemilikan 70%, sementara Sakakemang PSC bergerak menuju FID pada kuartal III/2026 dengan produksi perdana ditargetkan 2027.
Di Sulawesi, Senoro Phase 2A ditargetkan beroperasi penuh pertengahan tahun ini. Di tingkat regional, Bualuang Phase-1 di Thailand dijadwalkan onstream Kuartal Kedua 2026. Perusahaan juga memperluas peran strategis melalui operatorship Cendramas PSC di Malaysia yang akan efektif di September 2026.
Terbaru, Medco juga dipercaya untuk mengelola WK migas Nawasena yang mencakup area seluas sekitar 7.031 km² di daratan dan lepas pantai Provinsi Jawa Timur. Melalui anak usahanya, PT Medco Energi Nawasena, MedcoEnergi bertindak sebagai operator menggunakan skema Production Sharing Contract (PSC) cost recovery. Dari berbagai pengembangan proyek tersebut, MedcoEnergi menargetkan produksi 165-170 mboepd dan penjualan listrik 4.550 GWh pada 2026.
Di tengah optimisme perseroan, Suyanto menitipkan harapan besar bahwa pendampingan yang dilakukan Medco dapat berlangsung dalam jangka panjang.





