“Jantung Ekonomi Iran” Diserang AS, Houthi dan Hizbullah Mulai Goyah

erabaru.net
12 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam pada pertengahan Mei 2026. Di tengah negosiasi nuklir yang terus menemui jalan buntu, pemerintahan Presiden Donald Trump mulai menggabungkan tekanan diplomatik, operasi ekonomi, sanksi finansial, hingga ancaman militer terbuka terhadap Teheran.

Persoalan utama yang hingga kini belum menemukan titik temu tetap berkisar pada uranium Iran dengan tingkat pengayaan tinggi. Isu ini menjadi hambatan terbesar dalam perundingan nuklir antara Washington dan Teheran selama beberapa bulan terakhir.

Iran Usulkan Pemindahan Uranium ke Rusia

Dalam perkembangan terbaru, Iran menyatakan kesediaannya untuk memindahkan uranium hasil pengayaan tinggi ke Rusia dengan syarat-syarat tertentu. Langkah itu dipandang Teheran sebagai salah satu jalan kompromi untuk meredakan tekanan internasional.

Namun usulan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sejak Maret 2026, Presiden Donald Trump dilaporkan sudah secara tegas menolak gagasan serupa yang sebelumnya pernah diajukan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Menurut sumber pemerintahan AS, Trump menilai pemindahan uranium ke negara sekutu Iran bukanlah solusi permanen. Washington disebut tidak ingin material nuklir Iran sekadar dipindahkan atau “disembunyikan” di negara lain, melainkan benar-benar menghilangkan kemampuan Iran untuk membangun senjata nuklir.

Bagi pemerintahan Trump, tujuan utama negosiasi bukan sekadar pengawasan, melainkan penghancuran total infrastruktur yang dianggap dapat mendukung program senjata nuklir Iran di masa depan.

Trump: Serangan Bisa Dimulai Kapan Saja

Situasi semakin memanas setelah Trump pada 19 Mei 2026 kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang dianggap memadai oleh Washington, maka militer Amerika Serikat telah diperintahkan untuk selalu berada dalam kondisi siaga penuh.

Trump bahkan menyebut bahwa “jendela waktu” menuju keputusan akhir kini semakin sempit.

Menurut sumber Gedung Putih, opsi serangan militer besar-besaran terhadap Iran dapat dilakukan dalam hitungan hari. Pemerintahan AS disebut mempertimbangkan berbagai skenario, mulai dari serangan terbatas terhadap fasilitas nuklir hingga operasi militer berskala luas.

Sejumlah pejabat pertahanan AS mengungkapkan bahwa akhir pekan ini hingga awal pekan depan dianggap sebagai periode paling kritis dalam perkembangan krisis tersebut.

Operasi “Iran Fury” Resmi Diluncurkan

Di saat ancaman militer meningkat, Washington juga meluncurkan operasi tekanan ekonomi besar-besaran yang diberi nama “Iran Fury”.

Pada 19 Mei 2026, Departemen Keuangan Amerika Serikat resmi menjatuhkan sanksi terhadap lebih dari 50 target yang dituduh terlibat dalam jaringan keuangan rahasia Iran.

Salah satu target utama adalah Amin Exchange, yang disebut sebagai jaringan “bank bayangan” utama milik Iran.

Selain itu, berbagai perusahaan cangkang yang beroperasi di Uni Emirat Arab, Turki, dan Hong Kong juga masuk daftar hitam Washington.

Pemerintah AS menuduh jaringan tersebut selama bertahun-tahun membantu Iran menyembunyikan transaksi keuangan internasional, mencuci uang hasil penjualan minyak, serta memindahkan dana secara diam-diam untuk mendukung operasi militer dan aktivitas kelompok proksi di Timur Tengah.

Armada Bayangan Iran Ikut Disanksi

Tidak hanya sektor keuangan, Amerika Serikat juga memperluas sanksi ke sektor pelayaran Iran.

Sebanyak 19 kapal yang disebut sebagai bagian dari “armada bayangan” Iran dimasukkan ke dalam daftar sanksi AS. Kapal-kapal itu dituduh digunakan untuk mengangkut minyak mentah dan produk petrokimia Iran secara rahasia guna menghindari embargo internasional.

Menurut Departemen Keuangan AS, jaringan pelayaran dan bank bayangan Iran setiap tahun membantu memindahkan miliaran dolar pendapatan minyak secara ilegal.

Washington menuduh dana tersebut kemudian digunakan untuk:

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, bahkan secara terbuka menyebut sistem keuangan rahasia Iran sebagai:

“saluran transfusi bagi ekstremisme.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Washington kini tidak lagi hanya menargetkan program nuklir Iran, tetapi juga berusaha menghancurkan fondasi ekonomi yang menopang pengaruh regional Teheran.

AS Buka Perburuan Informasi Jaringan Garda Revolusi

Tekanan terhadap Iran semakin meningkat ketika Departemen Luar Negeri AS pada Selasa, 19 Mei 2026, mengunggah poster program “Rewards for Justice” melalui platform resminya.

Dalam pengumuman tersebut, pemerintah AS menawarkan hadiah hingga 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai jaringan keuangan Garda Revolusi Iran.

Washington menyebut Garda Revolusi menggunakan berbagai metode untuk memindahkan dana secara internasional, termasuk:

Pemerintah AS juga secara terbuka meminta masyarakat internasional untuk memberikan informasi melalui aplikasi Signal maupun jalur anonim di dark web.

Mereka yang dianggap memberikan informasi penting bahkan disebut bisa memperoleh perlindungan khusus, hadiah finansial besar, hingga bantuan relokasi ke negara lain.

Langkah ini menunjukkan bahwa operasi terhadap Iran kini bukan hanya berbentuk sanksi ekonomi, tetapi juga sudah memasuki level operasi intelijen internasional.

CENTCOM Klaim Jalur Senjata Iran Mulai Lumpuh

Pada waktu hampir bersamaan, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Jenderal Michael Kurilla, mengumumkan bahwa operasi militer AS telah berhasil mengganggu jalur pengiriman senjata dan dukungan Iran kepada kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.

Menurut Kurilla, jalur logistik menuju Hamas, Hizbullah, dan Houthi mulai mengalami gangguan serius.

Selama bertahun-tahun, Iran diketahui mengandalkan jaringan finansial Garda Revolusi untuk mempertahankan pengaruh geopolitiknya melalui kelompok-kelompok bersenjata di kawasan.

Namun kini, menurut CENTCOM, kombinasi operasi militer, patroli laut, sanksi ekonomi, dan pengawasan intelijen mulai memutus rantai pendanaan serta distribusi senjata tersebut.

Kurilla bahkan menyatakan bahwa kondisi ini secara signifikan mengurangi kemungkinan terulangnya serangan besar seperti peristiwa 7 Oktober 2023 di Israel.

Houthi Mulai Menjauh dari Teheran?

Sementara itu, analis senior urusan Iran dari Channel 14, Parazadeh, mengungkapkan perkembangan yang dinilai sangat penting terkait kelompok Houthi di Yaman.

Menurutnya, selama enam bulan terakhir Houthi hampir tidak menerima bantuan dana maupun suplai senjata dari Iran.

Kondisi tersebut membuat kelompok Houthi kini berada dalam posisi yang semakin sulit.

Parazadeh menyebut Houthi saat ini menghadapi dua ancaman besar sekaligus:

  1. serangan udara Amerika Serikat yang terus berlanjut di kawasan,
  2. kemungkinan Arab Saudi kembali melakukan intervensi militer besar-besaran di Yaman.

Akibat melemahnya dukungan Iran, Houthi disebut mulai enggan terlibat dalam rencana konfrontasi baru Teheran, kecuali bantuan finansial dan persenjataan kembali dipulihkan.

Timur Tengah Memasuki Fase Paling Berbahaya

Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini telah memasuki fase yang jauh lebih serius dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Washington tampaknya tidak lagi hanya berfokus pada negosiasi nuklir semata, melainkan juga berusaha menghancurkan seluruh jaringan ekonomi, finansial, dan militer yang selama ini menopang pengaruh regional Iran.

Di sisi lain, Iran masih berusaha mempertahankan posisi tawarnya melalui diplomasi, jaringan proksi, dan hubungan strategis dengan Rusia.

Namun dengan meningkatnya tekanan ekonomi, ancaman serangan militer, serta operasi intelijen internasional yang semakin agresif, kawasan Timur Tengah kini berada di ambang eskalasi besar yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi konflik terbuka berskala luas. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pakai Teknologi ANPR, ETLE Drone Patrol Presisi Teruji Efektif Tindak Sumbu 3
• 7 jam laludetik.com
thumb
Tilang ETLE Semakin Canggih, Polisi Gunakan Alat Baru
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Kakak Beradik Diduga Ambil HP Temuan di Photobox Mal Cempaka Putih, 1 Ditangkap
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Tiga Supertanker Akhirnya Lewati Selat Hormuz, Bawa 6 Juta Barel Minyak ke Asia
• 20 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sahroni soal Marak Teror ‘Pocong’: Harus Dilawan, Jangan Jadi Mainan Meresahkan
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.