Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari Kamis (29/5/2026). Pasar masih merespons kebijakan ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia.
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah sebesar 0,40% ke level Rp17.670. Pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar AS sejalan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya.
Yen Jepang terhadap dolar AS juga melemah 0,11%, yuan China mengalami pelemahan 0,01%,dolar Singapura melemah 0,20%, won Korea melemah 0,51%. Dolar Hong Kong terhadap dolar AS juga melemah 0,01%.
Selanjutnya peso Filipina terhadap dolar AS melemah 0,11%, serta baht Thailand melemah 0,34%. Sementara itu, Dolar Taiwan menguat 0,18%, rupee India turun sebesar 0,13%, ringgit Malaysia mengalami pelemahan terhadap dolar AS sebesar 0,03%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini di tengah sentimen risk off yang masih membayangi pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah ditutup turun 13,5 poin ke level Rp17.667 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring tekanan jual di pasar ekuitas domestik yang belum mereda dalam beberapa sesi terakhir.
Pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dinamika kebijakan domestik. Salah satu sentimen yang menjadi perhatian adalah wacana pemerintah terkait ekspor komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia.
Rencana tersebut dinilai memicu kekhawatiran investor mengenai potensi ketidakpastian regulasi maupun meningkatnya kontrol negara terhadap sektor swasta, khususnya pada industri berbasis sumber daya alam.
Selain sentimen domestik, investor juga masih mencermati perkembangan global, terutama prospek perdamaian di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia. Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda membuat pelaku pasar cenderung memilih aset safe haven seperti dolar AS.
Di sisi lain, penguatan indeks dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turut memberikan tekanan tambahan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Untuk perdagangan besok, pasar akan menantikan rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal I/2026. Defisit transaksi berjalan diperkirakan masih terjadi, meskipun lebih kecil dibandingkan periode sebelumnya, yakni sekitar US$0,8 miliar.
Adapun untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS dengan volatilitas tinggi.





