Tangerang, CNBC Indonesia - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo meyakini masa depan industri minyak dan gas bumi (migas), serta energi baru terbarukan (EBT) Indonesia akan tumbuh menjanjikan.
Menurutnya, keyakinan ini salah satunya didorong oleh lonjakan kebutuhan energi untuk menopang revolusi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta pertumbuhan demografi nasional yang masih didominasi penduduk usia muda.
Hashim menilai Indonesia memiliki faktor unik yang tidak dimiliki oleh banyak negara lain, seperti ketersediaan air bersih dan sumber daya energi yang melimpah.
Ia menilai perkembangan pusat data (data center) berskala besar dari perusahaan teknologi global akan membuat permintaan listrik nasional meroket dalam lima tahun ke depan.
"Saya sampaikan kepada hadirin sekalian hari ini bahwa sesungguhnya saya optimis. Saya optimis mengenai sektor migas dan pada umumnya saya juga optimis mengenai masa depan sektor energi Indonesia. Bukan hanya migas tapi juga sektor lain misalnya batu bara, misalnya juga energi terbarukan EBT. Karena kebutuhan akan energi di masa depan akan sangat-sangat besar," ungkap Hashim yang juga merupakan Dewan Pengawas IPA, dalam acara The 50th IPA Convention & Exhibition (Convex) di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Indonesia dinilai memiliki daya tarik investasi kuat dibandingkan negara maju di Asia Timur yang mengalami penyusutan populasi. Hashim menyebut pertumbuhan ekonomi yang stabil di level 5,6% dan target menuju 8% menjadi fondasi utama bagi para investor untuk menanamkan modal di sektor energi primer maupun pendukung infrastruktur digital.
"Indonesia punya keunggulan. Kita punya populasi besar, ekonomi kita berkembang 5,6% dan kita harapkan bisa 7-8%. Tapi kita juga punya salah satu sumber yang juga dibutuhkan untuk AI yang banyak negara tidak mempunyai, yaitu ada air bersih. AI perlu energi, perlu air. Indonesia punya air banyak," tuturnya.
Di sisi lain, Hashim menekankan bahwa kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto memberikan jaminan kepastian hukum bagi para pelaku usaha hulu migas. Menurutnya, latar belakang Presiden yang pernah menjabat sebagai pimpinan perusahaan minyak selama tujuh tahun sudah sepaham mengenai kebutuhan investor terhadap stabilitas kontrak dan kebijakan fiskal yang kompetitif.
"Satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang memiliki pengalaman selaku pengusaha minyak juga adalah Presiden sekarang ini namanya Prabowo Subianto. Pak Prabowo selama 7 tahun Komisaris Utama perusahaan saya yang bergerak di bidang minyak Kazakhstan, Azerbaijan. Jadi Presiden Prabowo tahu apa artinya, bagaimana rasanya menjadi investor di negeri asing," jelas Hashim.
Pemerintah saat ini juga tengah serius mengkaji kebijakan mandatori konversi 140 juta sepeda motor berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik (electric vehicle/EV) guna menekan beban subsidi energi. Langkah ini diprediksi akan mengubah profil konsumsi energi nasional, di mana permintaan terhadap gas bumi akan semakin besar untuk mendukung pembangkitan listrik yang lebih bersih.
"Kita ada masa depan yang sangat cerah, sangat menjanjikan, tapi bersyarat. Syaratnya adalah kepastian hukum, fiscal terms, dan stabilitas politik, dan ada keamanan dan ketertiban. Kalau tidak ada itu semua, investor akan hengkang, investor akan meninggalkan kita," paparnya.
Posisi Indonesia sebagai negara netral di tengah konflik geopolitik Timur Tengah menjadi nilai tambah bagi keamanan investasi global. Melalui diplomasi yang dilakukan pemerintah, Indonesia telah berhasil mengamankan komitmen pasokan minyak dari Rusia guna menjamin ketahanan stok energi domestik hingga akhir tahun ini.
"Para hyperscaler seperti Amazon dan Microsoft, Apple, dan sebagainya melihat Indonesia sebagai tempat utama investasi untuk pusat data dan itulah yang akan menjadi alasan mengapa penggunaan energi akan meroket. Saya rasa dalam lima tahun ke depan penggunaan energi akan melampaui batas," pungkas Hashim.
(wia) Add as a preferred
source on Google




