28 Tahun Reformasi: Detik-detik Soeharto Mundur dari Kursi Presiden

liputan6.com
2 jam lalu
Cover Berita

 

Liputan6.com, Jakarta - Tepat di hari yang sama, 28 tahun yang lalu, Presiden ke-2 RI Soeharto membacakan pidato singkat yang menjadi penanda runtuhnya rezim Orde Baru.

Advertisement

BACA JUGA: Kisah Satiyah Sang Juru Masak Andalan Keluarga BJ Habibie dan Ainun

"Dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," ucap Soeharto kala itu.

Dalam buku Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie: dari Ilmuan ke Negarawan sampai Minandito karya Marmkur Makka, diceritakan sebenarnya sejak tanggal 19 Mei 1998, Presiden Soeharto sudah mengundang sejumlah tokoh, bahkan disiarkan langsung melalui televisi, di mana membicarakan tuntuntannya untuk mundur secara konstitusional.

"Karena itu, menurut Presiden Soeharto, tidak masalah jika ia harus mundur. Hanya saja, ia mengingatkan apakah dengan kemundurannya sebagai presiden akan membuat keadaan genting akan segera bisa diatasi. Presiden masih sangsi, apakah pengganti yang sesuai konstitusi yaitu wakil presiden dapat melanjutkan tugas-tugasnya," demikian seperti dikutip.

Di buku yang sama, pada tanggal 20 Mei 1998, BJ Habibie sempat menghadap Presiden Soeharto di jalan Cendana dalam kapasitasnya sebagai Ketua Koordinator Harian Keluarga Besar Golkar untuk membahas berbagai keadaan yang telah berkembang.

"Menurut BJ Habibie, Presiden Soeharto sama sekali tidak memerhatikan ucapannya, bahkan mengatakan, bahwa ia bermaksud menyampaikan kepada Pimpinan DPR/ MPR untuk mengundurkan diri sebagaı presiden setelah Kabinet Reformasi dilantik. Namun yang menjadi pertanyaan B.J. Habibie saat itu, Presiden Soeharto sama sekali tidak menyampaikan alasan mengapa dia mundur, padahal baru saja disusun Kabinet Reformasi, bahkan setelah melalui dialog yang cukup seru," demikian seperti dikutip.

BJ Habibie pun mendapatkan informasi soal waktu pengunduran Soeharto pada 21 Mei 1998, setelah mendapat laporan dari ajudan, bahwa Presiden Soeharto tak berkenan menemuinya, di mana pada tanggal 20 Mei 1998, dia ingin melaporkan hasil ad hoc terbatas kabinet pembangunan VII.

"Presiden hanya menugaskan Menteri Sekretaris Negara, Saadilah Mursyid untuk menyampaikan keputusan bahwa esok harinya pukul 10.00 pagi, Presiden Soeharto akan mundur sebagai Presiden. Sesuai UUD 1945, Presiden Soeharto menyerahkan kekuasaan dan tanggung jawab kepada Wakil Presiden RI di Istana Merdeka. Pengambilan sumpah wakil presiden menjadi presiden akan dilaksanakan oleh Ketua Mahkamah Agung di hadapan para anggota Mahkamah Agung lainnya," demikian seperti dikutip.

 

 

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Strategi KPK di 2026 Pakai KUHAP Baru: Terbitkan Sprindik Tanpa Nama Tersangka
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
KNKT: KA Argo Bromo Tiba Lebih Cepat 3 Menit di Bekasi Timur Tak Sesuai Gapeka
• 59 menit lalukumparan.com
thumb
Kasus Tabrakan KRL di Bekasi Timur Segera Disidang, Tersangka Belum Diungkap
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Wamenhaj Tinjau Sektor 10 Makkah, Cek Kelaikan Akomodasi Jemaah
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Rekomendasi Komisi Percepatan Reformasi Dibahas dalam Revisi UU Polri
• 22 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.