HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Bank Rakyat Indonesia mulai memperluas fokus bisnisnya di luar penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Melalui anak usaha BRI Manajemen Investasi, perseroan kini agresif menggarap pasar investasi reksa dana yang tumbuh pesat, khususnya di kalangan generasi muda.
Langkah itu menjadi bagian dari transformasi BRI menuju konsep “Satu Bank untuk Semua” dengan memperkuat layanan universal yang tidak hanya menyasar pelaku UMKM. Akan tetapi juga investor ritel dari berbagai lapisan masyarakat.
Head of Digital Channel Distribution Division BRI Manajemen Investasi, Tunggul S Sitindjak, mengatakan pertumbuhan perusahaan meningkat signifikan sejak Danareksa Investment Management resmi bergabung ke dalam Grup BRI.
“Sejak menjadi bagian dari Grup BRI, pertumbuhannya sangat signifikan. Dulu kami berada di peringkat tujuh atau delapan industri, sekarang sudah naik menjadi peringkat tiga nasional,” ujar Tunggul, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut dia, kekuatan utama BRI terletak pada jaringan distribusi yang menjangkau hampir seluruh segmen masyarakat, mulai dari kelas menengah bawah hingga nasabah premium. Bank BRI menjangkau seluruh kalangan masyarakat. Dari kelas menengah bawah sampai level atas.
“Jadi kami memanfaatkan jaringan distribusi BRI yang sangat luas,” katanya.
Ia menjelaskan, perubahan pola pikir masyarakat terhadap investasi juga mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok usia produktif disebut menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan investor reksa dana nasional.
Untuk memperkuat penetrasi pasar, BRI-MI menggandeng tenaga pemasaran BRI hingga ke daerah-daerah. Edukasi investasi dilakukan langsung melalui jaringan kantor dan layanan perbankan yang selama ini dekat dengan masyarakat.
“Seluruh tenaga sales BRI ikut berkolaborasi melakukan sosialisasi. Mereka benar-benar turun sampai level bawah,” ujar Tunggul.
Kawasan timur Indonesia, khususnya Makassar dan Sulsel, dinilai menjadi pasar potensial yang masih terbuka lebar. Bahkan, Makassar kini masuk lima besar wilayah dengan pertumbuhan investor BRI-MI terbesar di Indonesia.
“Makassar termasuk daerah yang potensinya sangat besar. Istilahnya masih blue ocean, pasarnya luas dan peluang pertumbuhannya masih tinggi,” ulasnya.
Di sisi lain, industri reksa dana nasional juga menunjukkan tren pertumbuhan yang agresif. Data Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) mencatat dana kelolaan industri reksa dana sepanjang 2025 tumbuh 35,06 persen menjadi Rp679,24 triliun.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Moch. Muchlasin, mengungkapkan hingga Februari 2026 terdapat 569.610 investor reksa dana di Sulawesi Selatan. Instrumen reksa dana disebut menjadi pilihan investasi paling diminati, terutama oleh generasi milenial dan Gen Z.
“Minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat, terutama dari generasi muda. Artinya, ruang peningkatan inklusi investasi masih sangat luas dan perlu didorong secara serius,” kata Muchlasin.
Menurutnya, tingginya minat terhadap reksa dana dipengaruhi kemudahan akses investasi yang kini bisa dimulai dari nominal kecil, bahkan mulai Rp10 ribu. Kondisi itu membuat reksa dana semakin diminati investor pemula yang ingin mulai membangun kebiasaan investasi.
“Edukasi keuangan tetap menjadi faktor penting agar masyarakat tidak hanya tergiur keuntungan, tetapi juga memahami risiko investasi dan legalitas produk yang dipilih,” ucapnya.
Sementara itu, Dewan Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia, Marsangap P Tamba, menilai pertumbuhan industri reksa dana mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen investasi yang dikelola secara profesional.
“Momentum ini perlu terus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, terutama di kalangan generasi muda yang kini mendominasi komposisi investor,” katanya. (edo)





