Kenaikan BI Rate Bayangi Industri Mebel, Investasi dan Modal Kerja Tertekan

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% dinilai bakal berdampak langsung ke industri mebel dan kerajinan. Tingkat suku bunga baru dapat meningkatkan tantangan pembiayaan usaha. 

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan pihaknya memahami langkah BI menaikkan suku bunga sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan tekanan ekonomi global. 

Kendati demikian, kenaikan suku bunga acuan yang umumnya diikuti peningkatan bunga kredit perbankan dia sebut dapat membuat akses pembiayaan menjadi lebih ketat bagi pelaku usaha mebel dan kerajinan.

“Bagi pelaku industri, pembiayaan bukan hanya untuk ekspansi, tetapi juga untuk modal kerja sehari-hari seperti pembelian bahan baku, pembayaran tenaga kerja, hingga pembiayaan produksi pesanan ekspor,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (21/5/2026).

Dia menjelaskan kenaikan bunga kredit akan menambah biaya sehingga beban keuangan perusahaan meningkat. Kondisi tersebut dinilai cukup memberatkan, terutama bagi industri dengan margin usaha yang relatif tipis.

“Bagi industri dengan margin yang relatif tipis, tambahan biaya bunga dapat langsung memengaruhi arus kas,” sebutnya.

Baca Juga

  • Bukan Fabrikasi Cip Canggih, Ini Sektor Semikonduktor yang Realistis Digarap RI
  • Apindo: RI Berpeluang Masuk ke Rantai Pasok Semikonduktor Global
  • Memaksimalkan Potensi Aspal Buton dalam Proyek Jalan Tol

Akibatnya, lanjut Abdul, pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil pinjaman baru, sehingga modal kerja menjadi lebih terbatas dan ekspansi usaha berpotensi melambat.

Di sisi lain, HIMKI melihat dampak suku bunga tinggi terhadap permintaan pasar domestik relatif lebih cepat terasa. Pasalnya, industri mebel memiliki keterkaitan erat dengan sektor properti, perumahan, apartemen, hotel, dan interior.

“Suku bunga tinggi biasanya memengaruhi daya beli masyarakat dan sektor properti,” tuturnya.

Sementara untuk pasar ekspor, dampaknya cenderung tidak langsung. Meski demikian, peningkatan biaya produksi yang disebabkan pembiayaan yang lebih mahal dapat memengaruhi daya saing harga produk Indonesia di pasar global.

Adapun industri mebel nasional saat ini masih menghadapi persaingan ketat dengan negara produsen lain seperti Vietnam, China, dan Malaysia.

Selain itu, kondisi biaya pinjaman yang lebih mahal juga berpotensi menunda investasi industri, termasuk pembelian mesin, modernisasi fasilitas produksi, hingga perluasan kapasitas usaha. Sobur berpendapat pelaku usaha saat ini cenderung memprioritaskan menjaga likuiditas dibanding mengambil risiko investasi baru hingga kondisi pasar dan pembiayaan lebih stabil.

Untuk menjaga daya saing di tengah tren suku bunga tinggi, dia mengatakan pelaku industri mebel dan kerajinan mulai memperkuat efisiensi internal, mulai dari peningkatan produktivitas tenaga kerja, pengurangan pemborosan bahan baku, hingga percepatan perputaran persediaan.

Selain itu, industri juga mulai memperkuat desain dan inovasi produk, diversifikasi pasar, serta digitalisasi pemasaran agar tidak bergantung pada satu pasar tertentu.

Abdul juga mengingatkan bahwa perlambatan investasi dan produksi dalam jangka panjang dapat memengaruhi penyerapan tenaga kerja karena industri mebel dan kerajinan merupakan sektor padat karya. Saat ini, mayoritas pelaku usaha masih berupaya mempertahankan tenaga kerja karena sumber daya manusia terampil dianggap sebagai aset penting industri.

“Yang perlu diantisipasi adalah apabila perlambatan berlangsung cukup lama dan terjadi bersamaan dengan penurunan permintaan pasar,” imbuhnya. 

Bicara strategi dalam menjaga keberlangsungan industri di tengah tren suku bunga tinggi, HIMKI katanya berharap pemerintah dan perbankan menghadirkan sejumlah kebijakan pendukung.

Beberapa di antaranya yakni skema kredit berbunga kompetitif untuk industri produktif, penguatan dukungan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Lalu, pembiayaan modal kerja berbasis purchase order ekspor, restrukturisasi kredit yang lebih fleksibel, serta insentif investasi mesin dan teknologi.

“Stabilitas ekonomi memang penting, tetapi keberlangsungan industri dan lapangan kerja nasional juga perlu dijaga secara seimbang,” tambah Sobur.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Terima Dituding Pesugihan, Kuasa Hukum Sarwendah akan Tempuh Jalur Hukum, Pesulap Merah: Harusnya Terima Kasih ke Kami
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
2 Wanita Viral Curi HP Tertinggal di Photobox Jakpus, 1 Orang Diamankan
• 5 jam laludetik.com
thumb
Update: Daftar Mata Uang Terlemah di Dunia Versi Forbes Advisor 2026
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Trump Klaim Batalkan Serangan Baru ke Iran Setelah Dibujuk Negara‑negara Teluk
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Pertamina Beberkan Strategi Jaga Keamanan Energi Nasional di Hadapan Mahasiswa
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.