”Sawah ijo ngubengi desa tanpa kendhat,
Padhang sumringah nalika srengenge sumunar anget,
Para tani nyambut gawe kanthi tulus lan sebar,
Ngolah lemah dadi berkah sing ora kendhat mili,
Wargane rukun, urip bebarengan guyub,
Gotong royong dadi adat sing ora tau surut,
Yen ana gawe, kabeh padha melu nyengkuyung,
Ora ana sing rumangsa dhewe, kabeh dadi sedulur sekampung.”
Kedua bait bagian dari puisi berjudul ”Bumi Kawuryan” itu dibacakan oleh Tiara (19) di hadapan warga yang duduk mengelilingi tempat acara peringatan Hari Peradaban Desa di Dusun Susukan, Desa Sukorejo, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (21/5/2026). Mereka menyimak dengan saksama pembacaan puisi karya perempuan remaja itu sambil sebagian memandang alam sekitar mereka yang digambarkan oleh karya sastra itu.
Puisi tersebut berkisah tentang kehidupan masyarakat di perdesaan yang masih asri dan hangat dalam relasi sosial antarwarga. Beberapa kearifan lokal, seperti semangat gotong royong, rukun, dan damai, seolah mengingatkan warga tentang kekayaan nonmaterial yang sebenarnya telah mereka miliki dan kerap menjadi utopia bagi masyarakat yang tinggal di kota.
Siang itu, Komunitas Lima Gunung (KLG) kembali mengajak warga desa merayakan peringatan Hari Peradaban Desa. Acara ini diisi dengan sejumlah atraksi kesenian khas kawasan lereng Gunung Merbabu, seperti atraksi tari buto dan topeng ireng. Sanggar seni yang beranggotakan warga Dusun Susukan yang baru saja dibentuk dan dinamai Sekar Wahyu Manunggal pun unjuk gigi dan memukau tetangga mereka yang berduyun-duyun datang ke acara yang baru pertama kali digelar di dusun itu.
Menurut Wakil Ketua KLG Hari Atmoko (56), peringatan tahunan setiap tanggal 21 Mei itu digelar oleh masyarakat seni penghuni lereng Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Andong, dan Pegunungan Menoreh tersebut secara bergilir untuk mengajak warga melestarikan kekayaan peradaban berbasis kearifan lokal masyarakat perdesaan.
Bermacam warisan leluhur, seperti kesenian, tata krama, dan sikap ramah-tamah, dipandang sebagai sesuatu yang wajib dilestarikan di tengah deru roda kehidupan masyarakat modern yang menuntut berbagai aspek kehidupan harus serba cepat, instan, dan kerap melupakan akar budaya.
Puncak acara itu diisi dengan orasi budaya oleh budayawan Sutanto Mendut. Menurut dia, warga desa tidak hanya wajib melestarikan seni tradisi asli dari kawasan mereka, tetapi juga harus selalu mengikuti perkembangan dunia global agar tidak tertinggal.
Meski belum dideklarasikan secara resmi oleh negara, Hari Peradaban Desa menjadi ikhtiar bagi masyarakat pegiat seni di Jawa Tengah itu untuk terus mempertahankan kearifan lokal yang beragam dan memiliki kekhasan masing-masing. Hal itu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat global bahwa kemajuan suatu negara ditentukan oleh kesejahteraan masyarakat dan terjaganya adat istiadat sejak dari level perdesaan.





