Rupiah Semakin Tertekan, Kadin Jatim Nilai Relokasi Anggaran KDMP Diperlukan

suarasurabaya.net
3 jam lalu
Cover Berita

Adik Dwi Putranto Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) menilai pelemahan kurs rupiah mulai memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat Indonesia.

Ia pun menilai pemerintah seharusnya sudah mulai merencanakan skema untuk mengatsi permasalahan tersebut, seperti mengalihkan anggaran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) untuk program yang mampu menggerakkan ekonomi dan menyerap tenaga kerja lebih besar.

Menurutnya, realokasi anggaran ini diperlukan karena KDMP belum memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.

“Pemerintah harus berani merealokasi anggaran. Infrastruktur itu menyerap tenaga kerja dan memicu perputaran ekonomi,” ucap Adik Dwi Putranto dalam keterangannya di Surabaya, Kamis (21/5/2026).

Selain itu, ia juga meminta pemerintah untuk memperkuat bantuan sosial guna menjaga daya beli masyarakat di tengah tekananan ekonomi yang terjadi saat ini.

“Yang paling diperlukan sekarang bansos, bantuan tunai. Jadi daya beli masyarakat bisa naik lagi dan pengusaha juga terbantu,” tegasnya.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), menyentuh Rp 17.667 per dolar AS. Pelemahan ini sendiri mulai memberikan tekanan besar terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat.

“Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan dampak berlapis terhadap dunia usaha dan industri nasional. Setidaknya terdapat tiga lapisan dampak utama yang kini mulai dirasakan pelaku usaha, mulai dari kenaikan biaya produksi hingga melemahnya daya saing industri,” katanya.

Pelemahan rupiah memberikan dampak negatif yang signifikan pada moda ekonomi masyarakat, salah satunya fenomena kenaikan biaya produksi bagi pelaku industri. Kondisi ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.

“Bahan baku seperti besi, baja, plastik, bahan kimia, hingga komponen elektronik masih didominasi impor. Ketergantungan impor bahan baku industri manufaktur Indonesia bahkan disebut masih berada di atas 70 persen,” lanjutnya.

Faktor itulah yang membuat sejumlah sektor industri tertekan, khususnya di bidang industri manufaktur, farmasi, otomotif, dan tekstil. Peningkatan biaya industri membuat margin keuntungan terus tergerus, tetapi di sisi lain pelaku usaha tak bisa langsung menaikkan harga jual di pasaran.

Selain itu, pelemahan rupiah juga membuat daya saing industri nasional melemah. Di pasar ekspor, produk domestik menjadi lebih mahal, sehingga daya saing terus menunjukkan tren penurunan dibandingkan dengan produk dari negara lain.

“Para pelaku usaha kini mulai menahan stok bahan baku dan melakukan efisiensi produksi karena khawatir daya beli masyarakat terus menurun,” lanjut Adik.

Ia menilai kondisi seperti ini dapat memicu terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) jika berlangsung terlalu lama dan daya beli masyarakat yang ikut melemah.

“Pendapatan masyarakat tetap, sementara harga barang naik. Ini jadi problem daya beli. Akhirnya pengusaha membatasi impor bahan baku dan mengurangi produksi. Kalau lama-kelamaan begini, ancaman PHK akan terus mengintai,” tuturnya.

Menurut Adik, sebagian pelaku usaha memilih untuk mengurangi margin keuntungan dibanding langsung menaikkan harga produk di pasaran. Upaya ini dinilai sebagai langkah pertahanan bagi sebagian pelaku usaha.

“Mungkin selain efisiensi, yang dilakukan pengusaha adalah mengurangi keuntungan. Jadi tidak menaikkan harga dulu sementara, tapi mengurangi keuntungan. Tapi itu juga tidak bisa terlalu lama,” ucapnya.

Di sisi lain, Adik mengamati adanya sisi positif dari berbagai dampak negatif itu, seperti adanya peluang bagi produk lokal yang justru dapat lebih kompetitif dengan produk impor. Apalagi produk pertanian yang menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

“Produk-produk yang betul-betul lokal ini bisa lebih kompetitif dari produk impor yang sama. Contohnya petani jeruk atau durian, mereka bisa lebih menang dibanding produk impor langsung dari luar negeri,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Jatim memiliki kekuatan pada sektor pertanian dan peternakan. “Produk pertanian, peternakan juga surplus. Itu salah satu kekuatan Jawa Timur,” katanya.

Kendati demikian, Adik memiliki kerisauan atas dampak yang terjadi jika gejolak perekonomian dunia akan terus berlanjut dalam waktu yang lama.

“Pasti terkoreksi. Sekarang memang sudah bagus, tapi kalau kondisi ini terlalu lama, pertumbuhan ekonomi pasti terkoreksi,” ujarnya.

Meskipun begitu, ia mengaku tetap meyakini bahwa pemerintah tetap memiliki langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

‘Kita sebagai pengusaha nggak boleh berpikir negatif atau pesimis. Kita percayakan pada pemerintah, tapi tetap harus memakai strategi-strategi untuk menjaga usaha tetap berjalan,” tandasnya.(mar/bil/ham)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Netanyahu & Menlu Israel Kecam Ben Gvir yang Unggah Video Aktivis Ditangkap
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Janice Tjen Tersingkir di Babak 16 Besar Maroko Terbuka 2026
• 16 jam lalupantau.com
thumb
KPK: Program MBG Harus Punya Tolok Ukur Keberhasilan atau Output yang Komprehensif
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sultan HB X Bentuk Tim Usut Kasus Pelajar Tewas Dibacok usai Saling Tantang Geng
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Instruksi Prabowo, Andre Rosiade Salurkan 122 Sapi Kurban di Sumbar
• 14 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.