Soal Seruan IRGC Iran, Tegar Bimantoro: Alarm Keras Bagi Aktivasi Sel Tidur Terorisme di Indonesia

jpnn.com
10 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini berada di titik paling kritis, memicu kekhawatiran global yang mulai berimbas pada peta keamanan domestik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ketegangan terbaru ini memuncak setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum keras dari Gedung Putih.

BACA JUGA: Iran Siap Gunakan Senjata Canggih Jika AS Menyerang

Trump menegaskan Washington tidak akan ragu untuk melancarkan serangan militer baru dalam hitungan hari jika Teheran menolak kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya.

Merespons gertakan tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran langsung mengambil posisi menantang.

BACA JUGA: WNI yang Diculik Israel Sudah Dibebaskan, Bakal Dipulangkan ke Indonesia

Pada Rabu, 20 Mei 2026, melalui saluran resmi mereka Sepah News, IRGC merilis pernyataan yang mengonfirmasi bahwa jika agresi militer terhadap kedaulatan Iran benar-benar terjadi, skala konflik tidak lagi akan terlokalisasi.

IRGC memperingatkan bahwa mereka siap membawa perang baru ini melampaui batas wilayah Timur Tengah (Asia Barat) menuju tempat-tempat yang "tidak pernah dibayangkan" oleh Amerika Serikat maupun Israel.

BACA JUGA: Komisi X DPR RI Komitmen Kawal dan Evaluasi SPMB 2026/2027

Status Teroris dan Efek Domino ke Indonesia

Garda Revolusi Iran sendiri bukan lagi sekadar kekuatan militer regional biasa di mata Barat. Sejak tahun 2019, AS telah memasukkan IRGC ke dalam daftar Organisasi Teroris Asing (FTO).

Langkah ini makin diperkuat setelah Uni Eropa resmi mendeklarasikan IRGC sebagai organisasi teroris pada Januari 2026 lalu, menyusul keterlibatan siber dan jaringan asimetris mereka yang dianggap mengancam keamanan global.

Bagi Indonesia, ancaman IRGC untuk memperluas medan perang ke luar Timur Tengah bukanlah sekadar retorika geopolitik yang jauh.

Kriminolog yang berfokus pada isu terorisme, Tegar Bimantoro menilai dampak paling instan dan berbahaya bagi Indonesia bukanlah serangan militer langsung, melainkan manifestasi kriminalitas ideologis di dalam negeri.

Meskipun secara geografis Indonesia tidak termasuk dalam wilayah Timur Tengah maupun Asia Barat, pernyataan IRGC ini tetap akan menimbulkan efek domino yang signifikan bagi kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

Dinamika ini membuka ruang bagi munculnya multiperspektif dan banyak skenario ancaman yang harus dipetakan untuk analisis keamanan ke depan ujar Tegar Bimantoro.

Namun, untuk membaca arah gerak jangka pendek, Tegar menyoroti dua skenario krusial yang saat ini sedang terjadi di permukaan:

Dua Skenario Utama yang Sedang Berjalan

1. Aktivasi Sel Tidur dan Aksi Lone Wolf

Pernyataan perang terbuka dari kelompok sebesar IRGC yang memegang status organisasi teroris global dapat menjadi pemantik (trigger) bagi kelompok ekstremis lokal.

Tegar Bimantoro memperingatkan bahwa momentum kekacauan ini bisa dimanfaatkan oleh sel-sel tidur, baik yang berafiliasi dengan ISIS/Sunni maupun simpatisan Syiah yang lebih militan, untuk bangun dan melakukan aksi teror mandiri (lone wolf) di dalam negeri sebagai bentuk solidaritas atau pemanfaatan momentum.

2. Propaganda Narasi Anti-Barat dan Rapid Radicalization: Eskalasi militer AS terhadap negara Muslim hampir selalu digoreng oleh kelompok radikal lokal sebagai narasi "Barat menyerang Islam".

Tegar menekankan narasi seperti ini adalah bahan bakar utama untuk propaganda online.

"Kondisi ini memicu proses radikalisasi cepat (rapid radicalization) di media sosial, yang mempermudah rekrutmen jaringan teror serta mengarahkan sentimen kebencian terhadap aset-aset Barat di Indonesia," ujarnya.

Sebagai Kriminolog, Tegar membedah ikut menganalisi terkait seruan dari IRGC dian menganalisis bagaimana skenario-skenario ini bertransformasi dari sekadar narasi menjadi tindakan teror nyata di tanah air,

Dalam konteks digital saat ini, ruang interaksi tersebut telah bergeser ke ruang siber (cyber-space).

Ketika eskalasi AS-Iran memanas, kelompok radikal lokal mengintensifkan komunikasi online.

Walaupun Indonesia jauh dari Asia Barat, individu di dalam negeri yang terpapar secara konstan pada narasi "Barat penindas" di ruang siber akan mempelajari teknik, motif, dan rasionalisasi untuk melakukan tindakan radikal di wilayahnya sendiri.

Kemudian adamya Ketegangan Sosial (social Strain).

Ketegangan global dan visualisasi konflik makro menciptakan tekanan emosional (strain) yang hebat, terutama pada individu yang sudah memiliki kerentanan ideologis.

Ketika mereka merasa frustrasi melihat situasi global tetapi tidak mampu mengubahnya secara politik, mereka melampiaskan tekanan tersebut melalui mekanisme koping (coping mechanis) yang menyimpang, yaitu dengan melakukan aksi teroristik domestik atau gerakan lone wolf lokal sebagai bentuk "balas dendam" substitutif.

Meskipun aparat keamanan seperti TNI dan Polri di bawah komando panglima tni dan Kapolri dipastikan bersiaga penuh 24 jam untuk menjaga situasi tetap kondusif,

Tegar Bimantoro mengingatkan bahwa batasan geografis tidak lagi berlaku dalam penyebaran radikalisme modern.

Dia menyebut kesigapan di ruang digital dan deteksi dini jauh lebih krusial demi mencegah efek domino global ini menjadi kenyataan pahit di tanah air.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DKI Target 50 RW Kumuh Ditangani Tahun Depan
• 31 menit laludetik.com
thumb
4 Fakta Aseng Bos Tambang di Kalbar Jadi Tersangka Korupsi
• 7 jam laludetik.com
thumb
Hasil Lelang BPA Fair 2026 Hampir Rp1 Triliun, Naik 481 Persen dari Pelelangan 2022
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Wamendagri Wiyagus Bicara Penguatan Demokrasi, Dukung Pembangunan Indonesia Emas
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
“Relevansi” Luka 1998 Tanda Stagnasi Reformasi
• 18 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.