Grid.ID - Menjelang Hari Raya Idul Adha, konsumsi daging kambing biasanya meningkat di berbagai daerah. Namun di balik popularitasnya, masih banyak mitos seputar daging kambing yang dipercaya masyarakat hingga kini.
Mulai dari anggapan bisa meningkatkan gairah pria hingga memicu hipertensi, berbagai informasi tersebut kerap membuat sebagian orang ragu mengonsumsi daging kambing.
Padahal, sejumlah anggapan tersebut belum tentu benar secara medis. Berikut beberapa mitos tentang daging kambing yang sering beredar di masyarakat.
1. Daging Kambing Disebut Bisa Meningkatkan Vitalitas Pria
Salah satu mitos paling populer adalah anggapan bahwa daging kambing dapat meningkatkan gairah seksual pria.
Banyak orang percaya efek tersebut muncul karena daging kambing membuat tubuh terasa lebih panas. Kandungan asam amino seperti L-arginin disebut mampu membantu melancarkan aliran darah sehingga dikaitkan dengan peningkatan libido.
Selain itu, kandungan zat besi pada daging merah juga sering dianggap dapat membantu produksi hormon testosteron. Meski begitu, hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan konsumsi daging kambing secara langsung bisa meningkatkan gairah seksual pria dalam waktu cepat.
Bahkan, kandungan lemak dan kolesterol daging kambing justru lebih rendah dibandingkan daging sapi maupun ayam.
2. Ibu Hamil Tidak Boleh Makan Daging Kambing
Mitos lain yang cukup sering terdengar adalah larangan ibu hamil mengonsumsi daging kambing.
Faktanya, daging kambing termasuk sumber protein yang baik untuk ibu hamil jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan benar.
Daging kambing mengandung protein, zat besi, zinc, hingga vitamin B12 yang penting untuk membantu pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu selama kehamilan. Kandungan zat besinya juga membantu pembentukan sel darah merah sehingga dapat mengurangi risiko anemia pada ibu hamil.
Namun, ibu hamil tetap disarankan menghindari konsumsi daging yang belum matang sempurna untuk mencegah risiko infeksi bakteri.
3. Daging Kambing Dianggap Penyebab Hipertensi
Banyak orang takut makan daging kambing karena khawatir tekanan darah naik. Padahal, kandungan lemak jenuh pada daging kambing sebenarnya lebih rendah dibandingkan beberapa jenis daging lainnya.
Dalam 100 gram daging kambing, kandungan lemak jenuh tercatat lebih kecil dibanding daging sapi maupun ayam.
Peningkatan tekanan darah setelah makan daging kambing umumnya lebih dipengaruhi cara pengolahannya. Di Indonesia, daging kambing sering dimasak dengan cara digoreng, dibakar, atau dipanggang menggunakan banyak minyak dan lemak tambahan.
Metode memasak tersebut dapat meningkatkan jumlah kalori dan lemak pada makanan. Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, kondisi itu dapat memicu penumpukan lemak pada pembuluh darah yang berisiko menyebabkan hipertensi.
Karena itu, pengolahan daging kambing yang lebih sehat seperti direbus atau dibuat sup bisa menjadi pilihan lebih aman.
4. Daging Kambing Dipercaya Bisa Mengatasi Darah Rendah
Mitos lainnya menyebutkan daging kambing mampu menaikkan tekanan darah sehingga dianggap cocok untuk penderita darah rendah. Anggapan ini muncul karena banyak orang mengaitkan daging kambing dengan peningkatan kolesterol dan tekanan darah.
Padahal, belum ada penelitian yang membuktikan konsumsi daging kambing secara langsung dapat menjadi pengobatan tekanan darah rendah. Tekanan darah rendah sebaiknya ditangani berdasarkan penyebab dan kondisi kesehatan masing-masing. Beberapa cara yang umum dilakukan untuk membantu mengatasi hipotensi antara lain:
Memperbanyak konsumsi cairanMengonsumsi makanan bergizi seimbangTidak berdiri terlalu lamaMenggunakan stoking kompresi bila diperlukanBerkonsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjutKonsumsi Daging Kambing Tetap Perlu Bijak
Daging kambing tetap bisa menjadi pilihan menu saat Idul Adha selama dikonsumsi secukupnya dan diolah dengan cara sehat.
Sebagian besar mitos yang beredar sebenarnya belum memiliki bukti ilmiah kuat. Faktor pola makan keseluruhan, gaya hidup, dan cara memasak justru lebih berpengaruh terhadap kesehatan tubuh dibanding jenis dagingnya saja. (*)
Artikel Asli




