Demokrasi di ujung tanduk dan perlahan-lahan kian dimatikan. Cita-cita bangsa yang diidamkan sebagai sebuah jiwa kehidupan bernegara pun berangsur digerus nafsu kekuasaan dengan berbagai penyelewengannya. Bahkan perjuangan upaya mengambalikan alam demokrasi melalui Peristiwa Reformasi 1998 pun seolah kian diingkari sebagai catatan sejarah.
Itulah sepenggal gambaran yang tercurahkan dalam Aksi Kamisan ke-908 yang bertema "28 Tahun Reformasi : Menguatnya Militerisasi, Matinya Demokrasi". di seberang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5/2026). Hari itu tepat usia ke 28 tahun peristiwa reformasi 1998. Peristiwa Reformasi 1998 ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto yang telah menjabat selama 32 tahun.
Selama kurun waktu tersebut, Soeharto memimpin Indonesia dengan kekuasaan otoriter. Era Orde Baru yang diusungnya justru menjadi rezim kekuasaan yang jauh melenceng dari semangat demokrasi. Tidak ada kebebasan berpendapat, tidak ada suksesi kepemimpinan, roda pemerintahan a la militerisme dengan penerapan Dwi Fungsi ABRI, serta korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merajalela menjadi beberapa contoh gambaran betapa buruknya nasib demokrasi Indonesia saat itu. Bahkan beberapa peristiwa pelanggaran HAM berat dengan korban banyaknya korban jiwa pun terjadi selama kekuasaan Soeharto.
Di era saat ini, Indonesia dihadapkan kepada situasi yang tidak juga baik. Terpilihnya Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden sudah sejak awal dinilai oleh beberapa kalangan akan mengembalikan gaya Orde Baru di Indonesia. Prabowo Subianto sendiri berlatar belakang militer, seperti halnya Soeharto. Bahkan Prabowo Subianto merupakan sosok yang dinilai paling harus bertanggungjawab atas penculikan dan hilangnya sejumlah aktivis dalam gelombang reformasi 1998.
Era kepemimpinan Prabowo saat ini juga dinilai telah menampakkan gejala adopsi gaya Orde Baru, seperti upaya pembungkaman suara kritis, pembatasan kebebasan pers dengan cara intervensi dan pengontrolan pemberitaan, hingga upaya pengambilalihan peranan sipil oleh militer mulai berjalan melalui berbagai gaya, cara, hingga program kerjanya. Belum lagi di era pemerintahan Prabowo, beberapa pengingkaran sejarah Reformasi 1998 dilakukan.
Gambaran ini semua dituangkan dalam Aksi Kamisan ke-908. Aksi damai yang rutin digelar Kamis sore ini secara konsisten menyuarakan perjuangan HAM dan juga kritis terhadap berbagai ketidakadilan serta penyelewengan kekuasaan penguasa. Aksi yang digelar tepat pada peringatan 28 Tahun Reformasi ini juga terlihat lebih ramai dari biasanya. Berbagai latar belakang masyarakat sipil bergabung dalam aksi tersebut. Bahkan beberapa diantaranya adalah para penyintas dan keluarga korban pelanggaran HAM di bawah kekuasaan Soeharto.
Dalam aksi itu mereka juga menampilkan simbol-simbol yang menyuarakan situasi matinya demokrasi saat ini dalam aksi tersebut. Mereka bersatu padu dan bersama-sama menolak lupa akan cita-cita serta impian indahnya akan tujuan reformasi yang berharga bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Namun cita-cita itu semakin kabur dari pandangan mata karena ulah penguasa.
Peristiwa reformasi 1998 menggambarkan sebuah upaya cita-cita kebaikan dan membangun kepercayaan yang harus dilalui dengan jalan yang terjal dan tidak mudah. Perjuangan nilai luhur ini pun harus mengorbankan rasa hingga jiwa para martir yang bersemangat nan tulus ikhlas mengupayakan impian bersama. Jika perjuangan ini pada akhirnya hanya berujung dirusak dengan pengkhianatan amanat dan melukai hati rakyat, maka pada akhirnya hanya waktu yang akan menjawabnya.





