HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Ada satu hal yang selalu sulit dipisahkan dalam sepak bola: hubungan emosional antara pemain dan kampung halamannya. Sejauh apa pun seorang pemain merantau, selalu ada kerinduan untuk kembali ke tempat di mana semuanya bermula. Dan bagi Irfan Jaya serta M Rahmat, Kota Makassar tampaknya masih menyimpan ikatan yang belum benar-benar selesai.
Kini, di tengah persiapan menyambut Super League musim depan, muncul isu yang mulai menghangat di kalangan suporter PSM Makassar. Dua putra daerah yang saat ini membela Bali United FC disebut berpeluang pulang dan kembali mengenakan jersey Pasukan Ramang.
Rumor itu bukan sekadar wacana emosional. Ada kebutuhan yang mulai terlihat di tubuh PSM: memperkuat identitas lokal sekaligus menambah pengalaman dalam skuad. Dan Irfan Jaya maupun M Rahmat dianggap memiliki semua elemen tersebut.
Nama Irfan Jaya mungkin menjadi sosok yang paling menarik perhatian. Dalam beberapa musim terakhir, kariernya berkembang menjadi salah satu winger paling berbahaya di sepak bola Indonesia. Kecepatan, kemampuan mencari ruang, dan insting mencetak gol membuatnya selalu menjadi ancaman di lini depan.
Namun di balik kesuksesannya bersama Bali United dan Timnas Indonesia, ada cerita lama yang masih melekat kuat: Makassar adalah titik awal perjalanan besarnya.
Hal itu terlihat jelas ketika Bali United menghadapi PSM Makassar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Dalam laga tersebut, Irfan Jaya masuk menggantikan Diego Campos yang mengalami cedera. Dan seperti pemain besar lainnya, ia langsung memberi dampak.
Pada menit ke-78, Irfan sukses menjebol gawang PSM usai menerima umpan matang dari Teppei Yachida. Gol itu menjadi gol keempatnya musim ini sekaligus membantu Serdadu Tridatu meraih kemenangan penting.
Namun yang paling menarik bukanlah golnya.
Melainkan apa yang terjadi setelah bola masuk ke gawang.
Irfan memilih tidak melakukan selebrasi.
Di era sepak bola modern yang sering dipenuhi ekspresi emosional berlebihan, keputusan itu terasa sederhana tetapi bermakna dalam. Irfan tidak ingin merayakan gol ke gawang klub yang memiliki hubungan emosional dengannya.
“Saya tidak melakukan selebrasi karena saya respek dengan PSM Makassar. Saya dari Makassar dan lahir di Sulawesi,” ujarnya.
Kalimat itu cukup untuk menjelaskan bahwa hubungan Irfan dengan PSM bukan sekadar cerita masa lalu biasa.
Sebelum dikenal luas publik nasional, Irfan pernah menjadi bagian dari PSM U-21 pada 2016. Saat itu, namanya mulai mencuri perhatian setelah tampil luar biasa di Indonesian Soccer Championship U-21 dengan torehan 14 gol.
Prestasi tersebut menjadi pintu pembuka karier profesionalnya.
Dari Makassar, ia kemudian meniti jalan menuju Persebaya Surabaya dan berkembang menjadi salah satu pemain sayap terbaik di Indonesia. Bersama Bajul Ijo, Irfan ikut membawa klub promosi ke kasta tertinggi pada musim 2018.
Kariernya terus menanjak hingga menjadi langganan Timnas Indonesia era Shin Tae-yong.
Namun menariknya, Irfan tetap menjaga sikap hormat terhadap klub-klub yang pernah membesarkan namanya. Ketika menghadapi Persebaya maupun PSS Sleman, ia juga beberapa kali memilih tidak melakukan selebrasi berlebihan.
Sikap itu membuatnya dipandang bukan hanya sebagai pemain berkualitas, tetapi juga sosok yang memahami arti loyalitas dan penghormatan dalam sepak bola.
Sementara itu, nama M Rahmat juga membawa kenangan kuat tersendiri bagi publik Makassar.
Pemain asal Takalar tersebut pernah menjadi bagian penting dalam salah satu momen bersejarah PSM: menjuarai Piala Indonesia 2019. Pada periode itu, M Rahmat dikenal sebagai pemain pekerja keras dengan kemampuan menyerang yang efektif dari sisi lapangan.
Ia mungkin bukan pemain yang selalu mendapat sorotan besar, tetapi kontribusinya sangat terasa dalam sistem permainan tim.
Kini, ketika usianya semakin matang dan pengalamannya bertambah bersama Bali United, peluang pulang ke Makassar mulai dianggap realistis.
Bagi PSM, kembalinya Irfan Jaya dan M Rahmat bukan sekadar soal nostalgia. Kehadiran mereka bisa memberi banyak keuntungan. Selain kualitas teknis yang sudah teruji, keduanya memahami kultur sepak bola Makassar dan tekanan besar yang datang dari suporter Pasukan Ramang.
Dalam kompetisi panjang seperti Super League, faktor mental dan identitas klub sering kali menjadi pembeda penting.
PSM selama ini dikenal kuat ketika memiliki kombinasi pemain asing berkualitas dan putra daerah yang memahami DNA klub. Kehadiran pemain lokal dengan kedekatan emosional terhadap tim bisa membantu menjaga karakter permainan dan semangat ruang ganti.
Kini semuanya bergantung pada manajemen.
Apakah mereka ingin membangun kembali kekuatan lokal dengan memulangkan dua putra daerah berpengalaman? Ataukah memilih arah berbeda dalam proyek musim depan?
Yang jelas, bagi banyak suporter PSM Makassar, kemungkinan melihat Irfan Jaya dan M Rahmat kembali mengenakan jersey merah marun bukan sekadar rumor transfer biasa.
Itu adalah gambaran tentang kepulangan.





