Grid.ID - Aksi Dedi Mulyadi tawari pekerjaan ini ke penjual mendadak ramai jadi sorotan. Usut punya usut, hal ini lantaran sang Gubernur Jawa Barat itu menggusur lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Cicadas, Kota Bandung.
Aksi penggusuran puluhan kios itu pun dilakukan pada Senin (18/5/2026), dengan mengerahkan petugas gabungan. Yakni dari Satpol PP Jabar, Satpol PP Kota Bandung, dan Aparat Kewilayahan.
Aksi tersebut bahkan dipimpin langsung oleh Dedi Mulyadi. Kemudian pada esoknya yakni Selasa (19/5/2026), sejumlah PKL lainnya di kawasan Cicadas Market melakukan pembongkaran kios secara mandiri.
Selama ini area tersebut memang membuat hak pejalan kaki jadi terusik. Pasalnya, kios-kios (lapak) memenuhi area trotoar.
Dan ya, di momen itu, Dedi Mulyadi menyempatkan diri berbicara dengan salah seolah PKL yang bernama Hartoyo atau akrab disapa Abah Hartoyo. Usut punya usut, Hartoyo diketahui telah 23 tahun lamanya berjualan di kios miliknya yang menjajakan berbagai makanan.
Yakni mulai dari kopi, minuman ringan, hingga gorengan. Namun karena kiosnya kini digusur, mau tak mau Hartoyo kehilangan mata pencahariannya.
Mengetahui hal itu, Dedi Mulyadi tawari pekerjaan ini ke Hartoyo yakni bekerja penyapu jalan di Kota Bandung. Nantinya, setiap hari pendapatan yang akan didapat Hartoyo biosa sampai Rp 130 ribu per hari.
Mendengar tawaran tersebut, Hartoyo pun langsung menerimanya.
"Kan ieu (kios) dibongkar. Bapak jadi petugas kebersihan di dieu (di sini).
Si pedagang di sini berubah asalnya dagang rokok dapat Rp 40 ribu, jadi tukang sapu dapat Rp 130 ribu.
Kota jadi bersih, rakyat dapat kerja," ujar Dedi Mulyadi dikutip Grid.ID dari Instagram @dedimulyadi71, Kamis (21/5/2026).
"Mau Pak, siap," jawab Hartoyo.
Tak berhenti sampai di situ, selain Dedi Mulyadi tawari pekerjaan, ia juga memberikan uang kompensasi kepada para PKL yang terdampak.
Sekedar informasi, Lapak Pedagang Kaki Lima (PKL) yang memenuhi trotoar di Kawasan Cicadas, Jalan A Yani, Kota Bandung, ternyata sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Yakni saat terjadi krisis moneter (Krismon) pada tahun 1997.
Sejak itu lah nyaris tak sejengkal tanah trotoar tidak dipenuhi PKL. Trotoar di Cicadas semakin rapat, kumuh, dan semrawut oleh PKL. Mereka berjualan makanan hingga mainan bocah. (*)
Artikel Asli




