BI Rate Naik, BSI (BRIS) Jaga Pertumbuhan Pembiayaan dan Likuiditas

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) atau BSI memastikan strategi bisnis perseroan tetap diarahkan untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan dan likuiditas secara sehat di tengah tren kenaikan suku bunga.

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menyebut, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate 50 basis point (bps) menjadi 5,25% sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah meningkatnya dinamika global. 

Kenaikan BI Rate, imbuhnya, penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, serta mempertahankan kepercayaan pasar. 

Menurut dia, dari perspektif perbankan syariah, kebijakan tersebut justru mendukung stabilitas sistem keuangan nasional dalam jangka menengah dan panjang.

“Fundamental likuiditas bank saat ini tetap terjaga dengan baik, didukung pertumbuhan dana pihak ketiga, likuiditas yang memadai, serta pengelolaan Asset Liability Management (ALM) yang prudent,” kata Wisnu dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (22/5/2026). 

Adapun, hingga Maret 2026, dana pihak ketiga (DPK) BSI tercatat mencapai Rp376,80 triliun atau tumbuh 18% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, total dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai Rp236,2 triliun.

Dari sisi intermediasi, BSI juga mencatat pertumbuhan pembiayaan yang tetap solid. Per Maret 2026, total pembiayaan mencapai Rp329 triliun atau naik 14,39% YoY. Di sisi lain, rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) gross membaik menjadi 1,8% dari sebelumnya 1,88%.

Wisnu mengatakan perseroan masih melihat permintaan pembiayaan dari sektor produktif maupun konsumsi domestik tetap cukup baik. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal bahwa fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih kuat di tengah perubahan arah kebijakan moneter global maupun domestik.

Baca Juga : Bank Indonesia Naikkan BI Rate 50 Bps, Apa Dampaknya ke Perekonomian?

Terkait dengan potensi transmisi kenaikan suku bunga terhadap pricing pembiayaan, BSI menyatakan akan melakukan evaluasi secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi pasar, profil risiko, serta daya tahan masing-masing sektor usaha dan nasabah.

“Fokus kami saat ini adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, layanan nasabah, kualitas pembiayaan, dan stabilitas likuiditas,” ujar Wisnu.

Di tengah potensi meningkatnya persaingan likuiditas antarbank, BSI juga memastikan tetap menjaga daya saing biaya dana atau cost of fund melalui optimalisasi dana murah. 

Strategi penghimpunan CASA dinilai menjadi salah satu fokus utama perseroan untuk menjaga efisiensi pendanaan di tengah era suku bunga tinggi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Persik Ngotot Incar Kemenangan di Laga Terakhir Kontra Persebaya, Ini Alasannya
• 2 jam lalubola.com
thumb
Menhub Ungkap Proyek DDT Bekasi-Cikarang Direncanakan Mulai Dibangun 2027
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
Momen Langka, Fans Indonesia Main Bola Bareng David Villa dan Raul
• 17 jam laluviva.co.id
thumb
Kondisi Mengenaskan 9 WNI Selama Ditahan Israel: Ditendang, Dipukul hingga Disetrum
• 6 jam lalurctiplus.com
thumb
Pergerakan Jemaah dan Pengaturan Konsumsi Tentukan Sukses Puncak Haji
• 11 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.