JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono mengungkapkan siswa dan siswi Sekolah Rakyat ada yang berlatar belakang preman jalanan hingga pemandu lagu karaoke atau lady companion (LC).
Agus Jabo menuturkan, Presiden RI Prabowo Subianto membentuk program Sekolah Rakyat dengan tujuan untuk memutus transmisi kemiskinan antar generasi.
"Contoh misalnya yang sekolah di sekolah-sekolah itu ada yang sudah jadi preman, mohon maaf, ada yang sudah jadi LC, ya macam-macam. Itu harus kita ubah," kata Agus Jabo saat ditemui Kompas.com dalam sebuah wawancara khusus, Kamis (21/5/2026).
Baca juga: Kemensos Jaring 600 Anak Jalanan di Jakarta Masuk Sekolah Rakyat
Agus Jabo mengakui Kemensos mendapat banyak kritikan karena mengelola Sekolah Rakyat sebagai lembaga pendidikan berbasis sekolah asrama (boarding school).
"Kenapa harus boarding? Kan kita dikritik, kenapa tidak diperbaiki saja sekolah-sekolah reguler yang ada, ya kan, mereka anak-anak orang miskin itu masuk ke situ," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa fakta di lapangan menunjukan kebanyakan siswa Sekolah Rakyat tidak memiliki rumah yang layak huni.
Menurutnya, kondisi rumah dan lingkungan yang tidak baik itu sangat memengaruhi tumbuh kembang, kecerdasan dan karakter anak.
Hal ini yang menjadi keputusan pemerintah untuk menyekolahkan anak-anak dari keluarga yang masuk dalam kategori Desil 1 dan Desil 2 (keluarga sangat miskin) melalui skema boarding school.
"Kalau di sekolah reguler, habis sekolah itu pulang ke rumah lagi, itu rata-rata rumah orang miskin itu sanitasinya tidak bagus. Artinya gizinya enggak bagus, sanitasinya enggak bagus, kemudian mempengaruhi IQ, mempengaruhi karakter," ujarnya.
Baca juga: Dugaan Malaadministrasi Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat, 2 Pejabat Dicopot
Ketum Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) lalu mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengatakan ada empat juta anak yang tidak sekolah.
"Hampir 76 persen menurut BPS orang tua mengatakan bahwa kami tidak bisa menyekolahkan anak karena faktor ekonomi. Hampir 64 persen lebih kalau orang tuanya miskin anakya cenderung akan ikut miskin," tuturnya.
Dengan sejumlah program prioritas, kata Agus Jabo, pemerintah menargetkan kemiskinan di Indonesia harus di bawah 5 persen pada 2029.
"Jadi Presiden perintahnya, anaknya kalian sekolahkan, boarding. Orang tuanya kalian berdayakan supava dapat penghasilan yang layak, ini pengentasan kemiskinan. Rumahnya kalian perbaiki, rumah yang tadi kita harus perbaiki," jelasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




