Penyedia indeks global FTSE Russell dijadwalkan merilis daftar awal penambahan dan penghapusan saham untuk rekonstitusi indeks Juni.
IDXChannel - Pasar saham Indonesia kembali menghadapi momen krusial. Penyedia indeks global FTSE Russell dijadwalkan merilis daftar awal penambahan dan penghapusan saham untuk rekonstitusi indeks Juni 2026 pada Jumat (22/5/2026) setelah pukul 18.00 waktu AS Bagian Timur atau Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas, Jumat (22/5/2026), karena pengumuman keluar saat pasar domestik tutup, investor baru bisa bereaksi pada pembukaan perdagangan Senin.
Situasi ini memberi pelaku pasar waktu sepanjang akhir pekan untuk mencerna hasil evaluasi FTSE, di tengah sentimen yang sudah rapuh usai enam saham Indonesia terdepak dari indeks standar MSCI pekan lalu.
Perhatian pasar terhadap hasil review FTSE meningkat setelah lembaga tersebut sebelumnya menyatakan akan menghapus saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari indeksnya menggunakan harga nol (zero price), efektif mulai 22 Juni 2026.
Dalam pengumuman di situs resminya, FTSE Russell menyebut langkah itu menjadi bagian dari tinjauan indeks Juni 2026 yang juga mencakup pembaruan klasifikasi industri atau Industry Classification Benchmark (ICB), pembaruan jumlah saham kuartalan, serta penyesuaian free float sejumlah emiten Indonesia.
FTSE juga menyatakan keputusan lanjutan terkait perlakuan indeks terhadap pasar Indonesia akan dipertimbangkan kembali menjelang peninjauan indeks September 2026.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi tekanan lanjutan pada saham-saham dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi.
Dalam kajiannya, BRI Danareksa Sekuritas menilai hasil review FTSE kali ini berpotensi menjadi penentu arah sentimen jangka pendek IHSG.
BRI Danareksa memetakan dua skenario utama. Pertama, bila hasil FTSE kembali lebih buruk dari ekspektasi seperti yang terjadi pada review MSCI, pasar berisiko menghadapi tekanan lanjutan dan membuka perdagangan Senin dalam kondisi berat.
Sebaliknya, bila FTSE memilih lebih konservatif dan tidak melakukan penghapusan besar-besaran, hasil tersebut berpotensi menjadi katalis positif pertama bagi pasar saham Indonesia setelah beberapa pekan dihantam tekanan asing dan aksi jual beruntun.
Pada Jumat pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lagi-lagi terkoreksi di zona merah, sempat menembus ke bawah level psikologis 6.000, memperpanjang tren pelemahan menjadi 9 hari berturut-turut di tengah tekanan sentimen domestik maupun global. (Aldo Fernando)





