Ketidakpastian pasokan minyak imbas perang di Timur Tengah mendorong banyak negara meningkatkan produksi dan penggunaan bahan bakar berbasis minyak nabati atau biofuel, termasuk Australia. Tujuannya, mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.
Negeri Kanguru itu bersiap menerapkan kebijakan mandatori pencampuran biofuel pada bahan bakar minyak (BBM) guna mendorong produksi domestik sekaligus memperkuat ketahanan energinya. Australia merupakan produsen besar biji kanola dan lemak hewan (tallow), yang merupakan bahan baku biofuel.
Merujuk data Australian Export Grains Innovation Centre, Australia memproduksi lebih dari 3 juta ton kanola per tahun dan menguasai sekitar 15-20 persen perdagangan ekspor kanola dunia. Namun selama ini, komoditas tersebut lebih banyak diekspor, sementara sebagian besar kebutuhan bahan bakarnya masih bergantung pada impor.
Di Asia, negara-negara seperti Indonesia, India, dan Thailand juga merespons situasi dengan menggenjot pemanfaatan biofuel. Biofuel digunakan sebagai campuran untuk bensin, diesel, hingga bahan bakar pesawat.
Pemerintah Australia dilaporkan akan memulai konsultasi dalam beberapa bulan ke depan untuk menentukan skema mandatori yang akan diterapkan. Kebijakan tersebut ditargetkan rampung pada akhir tahun ini.
Dikutip dari Argus Media, pemerintah federal Australia mengalokasikan dana sebesar 18,5 juta dolar Australia atau lebih dari Rp200 miliar selama empat tahun mulai 2024-2025 untuk mengembangkan skema sertifikasi bahan bakar cair rendah karbon, termasuk bahan bakar pesawat berkelanjutan (SAF) dan diesel terbarukan. Rencananya, sertifikasi guarantee of origin akan diperluas guna menciptakan kepastian permintaan jangka panjang bagi industri biofuel.
Selain itu, pemerintah Australia menyiapkan tambahan dana 1,5 juta dolar Australia atau sekitar Rp 18 miliar selama dua tahun mulai 2024-2025 untuk mengkaji dampak regulasi, termasuk biaya dan manfaat penerapan kebijakan mandatori bahan bakar cair rendah karbon. Pemerintah juga menjanjikan konsultasi terkait kemungkinan pemberian insentif produksi bagi pengembang proyek domestik.
Dana dari Future Made in Australia Innovation Fund senilai 1,7 miliar dolar Australia atau sekitar Rp 21 triliun juga akan tersedia untuk riset bahan bakar cair. Pendanaan ini akan dikelola oleh Australian Renewable Energy Agency untuk mendukung komersialisasi teknologi nol emisi.
Organisasi industri yang mewakili sektor bioenergi dan biofuel di Australia, Bioenergy Australia, menyebut bahan baku domestik seperti residu pertanian berpotensi memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan bahan bakar pesawat Australia pada tahap awal, dan dapat meningkat hingga 90 persen pada 2050.
Pengembangan bahan bakar terbarukan juga dinilai dapat menurunkan ketergantungan Australia terhadap impor produk minyak, dari sekitar 90 persen menjadi 61 persen pada 2040.
Selain biofuel, Australia juga membidik hidrogen sebagai sumber energi masa depan. Pemerintah Australia menjanjikan investasi hidrogen sebesar US$9 miliar atau sekitar Rp159 triliun untuk periode setelah tahun fiskal 2027-2028.




