Tidur nyenyak lebih dari sekadar mengistirahatkan tubuh. Aktivitas tidur yang pulas aktif membangun kembali tubuh, memperkuat otot, mendukung pertumbuhan tulang, dan membantu membakar lemak. Bahkan, bagi remaja, tidur nyenyak penting untuk mencapai potensi tinggi penuh karena hormon pertumbuhan yang melonjak saat tidur.
Para peneliti di University of California (UC), Berkeley, Amerika Serikat, dalam publikasi di jurnal Cell menemukan bagaimana tidur dan hormon bekerja sama. Hal ini membuka pintu perawatan baru mengatasi gangguan tidur terkait penyakit metabolik seperti diabetes, dan kondisi neurologis seperti Parkinson dan Alzheimer.
"Orang mengetahui pelepasan hormon pertumbuhan terkait erat dengan tidur, tapi hanya melalui pengambilan darah dan memeriksa kadar hormon pertumbuhan selama tidur," kata penulis pertama studi, Xinlu Ding, pascadoktoral di Departemen Ilmu Saraf UC Berkeley dan Helen Wills Neuroscience Institute, dikutip dari laman Sciencedaily.com, pada Jumat (22/5/2026).
Riset tim UC Berkeley merekam aktivitas saraf pada tikus untuk melihat apa yang terjadi. Hasilnya menunjukkan, sistem di balik proses tidur nyenyak dan hormon pertumbuhan terkubur jauh dalam hipotalamus, bagian kuno otak yang dimiliki semua mamalia. Di sini, neuron melepas sinyal yang memicu atau menekan hormon pertumbuhan.
Ning menjelaskan, dua pemain kunci yakni hormon pelepas hormon pertumbuhan (GHRH) yang merangsang pelepasan dan somatostatin yang menghambatnya. Dua hormon ini bersama-sama mengoordinasikan aktivitas hormon di seluruh siklus tidur-bangun.
Menurut Ning, kurang tidur mengakibatkan lebih dari sekadar membuat lelah. Sebab, hormon pertumbuhan membantu mengontrol bagaimana tubuh memproses gula dan lemak, tapi tidur yang buruk meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.
Dengan memahami sirkuit saraf untuk pelepasan hormon pertumbuhan, hal ini dapat mengarah pada terapi hormonal baru untuk meningkatkan mutu tidur atau mengembalikan keseimbangan hormon pertumbuhan normal.
Setelah hormon pertumbuhan memasuki sistem, ia mengaktifkan locus coeruleus, daerah batang otak yang mengontrol kewaspadaan, perhatian, dan fungsi kognitif. Gangguan di bidang ini terkait dengan berbagai gangguan neurologis dan kejiwaan.
"Dengan memahami sirkuit saraf untuk pelepasan hormon pertumbuhan, hal ini dapat mengarah pada terapi hormonal baru untuk meningkatkan mutu tidur atau mengembalikan keseimbangan hormon pertumbuhan normal," kata Daniel Silverman, dari Division of Neurobiology, Department of Molecular and Cell Biology, UC Berkeley yang juga terlibat riset ini.
Untuk mempelajari sistem ini, lanjut Silverman, para peneliti mencatat aktivitas otak pada tikus dengan memasukkan elektroda dan merangsang neuron dengan cahaya. Karena tikus tidur dalam semburan singkat sepanjang siang dan malam, mereka memberikan pandangan terperinci tentang bagaimana hormon pertumbuhan berubah di seluruh tahap tidur.
Tim menemukan, GHRH dan somatostatin berperilaku berbeda, tergantung pada apakah otak dalam tidur REM atau non-REM. Selama tidur REM, kedua hormon meningkat, yang menyebabkan lonjakan hormon pertumbuhan. Selama tidur non-REM, somatostatin turun sementara GHRH meningkat lebih sederhana, masih meningkatkan kadar hormon tetapi dalam pola yang berbeda.
Para peneliti juga menemukan lingkaran umpan balik yang menghubungkan hormon pertumbuhan dengan terjaga. Saat tidur berlanjut, hormon pertumbuhan secara bertahap membangun dan merangsang locus coeruleus, mendorong otak untuk bangun.
Namun ada twist. Ketika daerah otak ini menjadi terlalu aktif, hal itu sebenarnya dapat memicu kantuk, menciptakan keseimbangan yang halus antara tidur dan kewaspadaan.
"Ini menunjukkan tidur dan hormon pertumbuhan membentuk sistem yang seimbang dengan ketat. Terlalu sedikit tidur mengurangi pelepasan hormon pertumbuhan, dan terlalu banyak hormon pertumbuhan pada gilirannya dapat mendorong otak menuju kesadaran," kata Silverman.
Tidur mendorong pelepasan hormon pertumbuhan. Lalu, hormon pertumbuhan memberi umpan balik untuk mengatur kesadaran dan keseimbangan yang sangat penting untuk pertumbuhan, perbaikan, dan kesehatan metabolisme
"Hormon pertumbuhan tidak hanya membantu dalam membangun otot dan tulang, maupun mengurangi jaringan lemak. Tetapi mungkin juga memiliki manfaat kognitif, meningkatkan tingkat gairah secara keseluruhan ketika bangun," kata Ning.
Dalam upaya mencapai tidur nyenyak yang punya manfaat tidak sekadar mengistirahatkan tubuh, penting bagi tiap orang untuk memenuhi durasi tidur sesuai yang direkomendasikan.
Namun hasil studi global terhadap ribuan orang dewasa yang diterbitkan di jurnal Sleep Health menemukan, hanya 15 persen orang tidur 7-9 jam yang direkomendasikan selama lima malam atau lebih per minggu. Di antara mereka yang mencapai rata-rata 7-9 jam per malam selama masa pemantauan sembilan bulan, 40 persen malam berada di luar kisaran ideal.
"Mendapat durasi tidur yang direkomendasikan secara teratur merupakan tantangan bagi banyak orang, terutama selama hari kerja. Kondisi kurang tidur secara teratur atau mungkin terlalu banyak tidur, dikaitkan dengan efek buruk dan kita baru menyadari konsekuensi pola tidur tak teratur," kata peneliti Universitas Flinders, Australia, Hannah Scott.
Scott menjelasakan, tidur kurang dari enam jam per malam rata-rata dikaitkan peningkatan risiko kematian dan berbagai kondisi kesehatan, termasuk hipertensi, obesitas, dan penyakit jantung. Tidur kurang dari 7 jam dan lebih dari 9 jam per hari dikaitkan kesehatan dan kesejahteraan buruk, termasuk gangguan pencernaan dan perilaku neurologis.
Peserta perempuan umumnya memiliki durasi tidur yang lebih lama daripada peserta laki-laki. Orang-orang berusia paruh baya mencatat durasi tidur yang lebih pendek daripada peserta yang lebih muda atau lebih tua.
Scott membagikan tips untuk mencapai mencapai pola tidur yang lebih teratur dalam rentang yang direkomendasikan sesuai usia. Dalam jangka pendek, orang-orang disarankan untuk mencoba mempertahankan jadwal tidur yang cukup agar merasa cukup istirahat, sesering mungkin.
Termasuk penting untuk menjaga waktu bangun yang tetap, bahkan di akhir pekan. Tidur ketika merasa mengantuk akan membantu memastikan seseorang sering mendapatkan tidur yang cukup dan memulihkan.
“Jika seseorang tidak dapat menjaga jadwal tidur yang konsisten karena komitmen yang tidak dapat dihindari, misalnya kerja shift, maka tidur pengganti sangat dianjurkan,” kata Scott.
Scott mengingatkan untuk mewaspadai gejala kurang tidur seperti kantuk di siang hari, kelelahan, kesulitan mempertahankan konsentrasi, daya ingat buruk, dan berpotensi melakukan kesalahan saat mengemudi. Hal ini mungkin disebabkan kurang tidur, atau tidur tak cukup memulihkan karena mutu tidur buruk, seperti yang terjadi pada apnea tidur obstruktif.
Bagi orang-orang yang merasa kurang tidur, terutama mereka yang saat ini tidur kurang dari tujuh jam, dapat mencoba apakah memperpanjang jadwal tidur atau tidur siang membantu mereka tidur lebih lama dan membuat mereka merasa lebih segar.
Bagi mereka yang tidak memiliki gangguan tidur, implementasi kebiasaan tidur yang baik bisa bermanfaat. Dengan menghindari kafein dan alkohol saat siang hari, mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, ataupun menghindari makan berat menjelang tidur, hal ini dapat membantu orang tertidur lebih cepat dan tidur lebih lama.
“Orang lain mungkin tidak merasakan banyak manfaat dari mengikuti saran kebiasaan tidur yang baik, tetapi patut dicoba karena mungkin merupakan solusi yang relatif sederhana untuk masalah tidur mereka,” ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, Scott mengatakan jika seseorang khawatir tentang tidurnya, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter umum. Pilihan pengobatan tersedia melalui rujukan ke dokter spesialis tidur untuk berbagai gangguan tidur seperti apnea tidur dan insomnia.





