Seleksi Ketat, Program Antarbudaya Tempa Pelajar Jadi Warga Global

disway.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID-- Program pertukaran pelajar antarbudaya kembali disorot sebagai jalur strategis mencetak generasi muda Indonesia berdaya saing global. 

Di balik manfaatnya, seleksi ketat hingga ribuan pendaftar tiap tahun menjadi bukti tingginya minat sekaligus kualitas program ini.

BACA JUGA:Jadwal Bioskop Trans TV Hari Ini 22 Mei 2026 Lengkap Sinopsis, Banjir Film Thriller Jelang Akhir Pekan

Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah 3T, Rita Pranawati, mengatakan program Antarbudaya yang telah berjalan sekitar 70 tahun bukan sekadar pertukaran pelajar biasa, melainkan proses pembentukan karakter lintas budaya.

“Sejak dulu, saat komunikasi belum semudah sekarang, peserta sudah belajar mandiri dan hidup di tengah budaya berbeda. Mereka menyerap nilai positif dari negara lain, lalu kembali untuk membangun Indonesia,” ujar Rita, di Jakarta,  Jumat, 22 Mei 2026.

Rita menambahkan , pengalaman tersebut membentuk karakter kuat, mulai dari toleransi, kepemimpinan, hingga kemampuan kolaborasi. 

BACA JUGA:MK Tegaskan Ibu Kota Masih di Jakarta, Otorita: IKN Terus Dibangun, Tidak Ada Kata Stagnan atau Mangkrak

Para alumni juga diharapkan menjadi agen perubahan dengan membagikan wawasan global kepada masyarakat sekitar.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Yayasan Bina Antarbudaya, Sinta Kaniawati, mengungkapkan program ini memiliki dua skema, yakni beasiswa penuh dan pembiayaan mandiri oleh peserta. Namun, keduanya tetap melalui proses seleksi yang sangat kompetitif.

“Setiap tahun ada 2.000 hingga 5.000 pendaftar. Saat pandemi, program ini bahkan bertransformasi menjadi digital dan menjangkau daerah terpencil seperti Tanimbar dan Natuna,” jelasnya.

Sinta menekankan, peran sekolah menjadi kunci utama keberhasilan program. Peserta yang berangkat umumnya siswa kelas dua dan wajib kembali ke sekolah untuk berbagi pengalaman serta menjalani proses adaptasi ulang agar tetap berakar pada nilai budaya Indonesia.

BACA JUGA:Sekda Kota Bandung Ajak Siswa Perangi Nikotin di Hari Tanpa Tembakau se-Dunia

Rita juga menyoroti pentingnya pendekatan deep learning dalam pendidikan. Ia menilai pembelajaran tidak boleh berhenti pada hafalan, tetapi harus membangun kesadaran dan makna.

“Keragaman bukan untuk membedakan, tapi memperkuat kolaborasi. Justru dari perbedaan itulah kita belajar bersinergi,” tutupnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Satbrimob PMJ Patroli Cegah Tawuran di 3 Lokasi, 18 Orang Dibekuk
• 5 jam laludisway.id
thumb
Penduduk Andes Berevolusi Gegara Kentang, Kembangkan Pencernaan Pati Lebih Baik
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat Hari Ini 22 Mei 2026, Ini Daftar Wilayah yang Perlu Waspada
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
Luhut Bertemu Investor di Singapura, Minta Maaf soal Kondisi Ekonomi RI
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Kantin di Daan Mogot, 8 Mobil Damkar Dikerahkan
• 20 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.