Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, meminta maaf kepada investor global di Singapura yang terdampak volatilitas pasar dan tekanan ekonomi dalam beberapa waktu terakhir di Indonesia.
Luhut menegaskan, pemerintah terus mencermati perkembangan ekonomi secara hati-hati.
“Saya juga minta maaf, mungkin sebagian dari Anda terkena dampak negatif akibat situasi ini. Tetapi saya juga mengingatkan Presiden bahwa kita harus mencermati kondisi setelah Juli dengan sangat hati-hati,” kata Luhut dikutip dari video akun Instagram resmi @luhut.pandjaitan, Jumat (22/5).
Luhut pun memperkirakan kondisi fiskal dan APBN akan membaik pada akhir tahun ini atau awal tahun 2027. Katanya, pemerintah juga terus memantau ketidakpastian harga minyak dunia dan telah menyiapkan berbagai simulasi, termasuk jika harga minyak rata-rata mencapai USD 100 per barel.
Luhut membeberkan, asumsi harga minyak dalam APBN saat ini masih berada di level USD 70 per barel, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi memicu pelebaran defisit anggaran hingga sekitar Rp 200 triliun.
“Karena itu, kami memikirkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. Jadi kami benar-benar melihat persoalan ini secara sangat detail,” kata Luhut.
Meski demikian, ia menilai ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain, walaupun tetap menghadapi berbagai tantangan.
Ia pun menyebut inflasi masih terkendali di kisaran 2,4 persen dan pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 5,61 persen.
“Tetapi saya juga mengingatkan Presiden bahwa kita harus berhati-hati setelah Juli. Karena itu kita juga harus menyiapkan stimulus untuk menjaga perekonomian kita,” lanjut Luhut.
Menurutnya, dampak kenaikan harga minyak terhadap perekonomian dan harga barang diperkirakan mulai terasa pada bulan ini atau awal bulan depan.
Luhut juga menyampaikan pemerintah telah bertemu dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mendorong penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan transparansi di pasar modal.
“Presiden juga setuju untuk mendorong penggunaan GovTech yang didukung AI,” sebut Luhut.
Ia kembali menegaskan, dengan latar belakang militernya, dirinya terbiasa melihat keseimbangan dalam menghadapi berbagai situasi sehingga pemerintah akan tetap adaptif dalam merespons perkembangan ekonomi global.
Luhut optimistis keadaan saat ini dapat diperbaiki dalam waktu kurang dari enam bulan karena proses pembenahan sudah berjalan.
“Jadi Anda bisa melihat bahwa kondisi fiskal, APBN, dan penerimaan negara kita akan membaik pada akhir tahun ini atau awal tahun depan. Karena itu kami cukup optimistis,” imbuh Luhut.





