Di banyak kelas presentasi hari ini, ada pemandangan yang mulai terasa akrab. Mahasiswa maju ke depan, membuka slide yang tampak rapi, membaca teks dengan bahasa yang sangat akademis, lalu menjelaskan topik, seolah-olah sedang membacakan artikel jurnal—sekilas terlihat keren.
Diksinya tinggi, strukturnya rapi, dan istilahnya meyakinkan. Namun, ketika dosen atau teman bertanya, suasana langsung berubah. Jawabannya tidak lagi mengalir. Mahasiswa tampak bingung, lalu membuka ponsel, mengetik pertanyaan ke AI, dan membacakan jawabannya mentah-mentah.
Fenomena ini bukan sekadar soal mahasiswa memakai teknologi. AI memang dapat membantu belajar. Masalahnya muncul ketika AI tidak lagi menjadi alat bantu berpikir, tetapi berubah menjadi pengganti berpikir. Di titik inilah kelas presentasi kehilangan ruh akademiknya. Presentasi yang seharusnya menjadi ruang untuk menguji pemahaman berubah menjadi panggung membaca teks buatan mesin.
Salah satu masalah paling serius adalah kepercayaan berlebihan terhadap jawaban AI. Banyak mahasiswa menerima jawaban AI, seolah-olah semua yang muncul di layar sudah pasti benar. Padahal, AI bekerja dengan menyusun jawaban berdasarkan pola bahasa dan informasi yang banyak muncul dalam data latihannya. Ia bisa terdengar sangat meyakinkan, tetapi belum tentu akurat. Dalam dunia akademik, ini berbahaya. Penelitian Walters dan Wilder (2023) menunjukkan bahwa model AI dapat menghasilkan sitasi bibliografis palsu, yaitu rujukan yang tampak ilmiah, tetapi sebenarnya tidak ada.
Masalah ini sering terlihat dalam daftar pustaka. Nama penulis terlihat valid, judul artikel terdengar akademis, nama jurnal tampak kredibel, bahkan DOI kadang ikut disertakan. Namun ketika diperiksa, artikel itu tidak ditemukan. Inilah yang sering disebut halusinasi AI. Bagi mahasiswa, kesalahan seperti ini bukan hal kecil. Sitasi palsu dapat merusak kejujuran akademik, menyesatkan pembaca, dan menunjukkan bahwa mahasiswa belum benar-benar memahami sumber yang ia gunakan.
Persoalan kedua adalah budaya meniru prompt. Di media sosial, banyak beredar prompt yang disebut “paling ampuh”, “anti gagal”, atau “bikin tugas langsung sempurna”. Akibatnya, sebagian mahasiswa lebih sibuk mencari prompt orang lain daripada merumuskan pertanyaannya sendiri.
Padahal, prompt yang baik selalu bergantung pada konteks: siapa pembacanya, apa tujuannya, level bahasanya apa, data apa yang digunakan, dan bentuk tugasnya seperti apa. Prompt yang cocok untuk mahasiswa S3 sudah pasti tidak cocok untuk mahasiswa S1 semester dua. Prompt untuk artikel ilmiah tidak sama dengan prompt untuk presentasi kelas.
Meniru prompt tanpa berpikir menunjukkan masalah yang lebih dalam: mahasiswa ingin hasil cepat, tetapi enggan melewati proses berpikir. Ini seperti meminjam sepatu orang lain hanya karena terlihat mahal, padahal ukurannya tidak pas. AI akhirnya tidak membuat mahasiswa lebih cerdas, tetapi justru membuat mereka makin bergantung.
Masalah ketiga adalah gaya bahasa. Banyak mahasiswa meminta AI membuat teks dengan bahasa “akademis”, “keren”, atau “tingkat tinggi”, tetapi tidak menyesuaikannya dengan kemampuan diri sendiri. Akibatnya, teks presentasi terdengar seperti ditulis oleh peneliti senior, sementara penyajinya belum memahami istilah yang ia baca. Di kelas bahasa Inggris, misalnya, mahasiswa dengan kemampuan menengah tiba-tiba membacakan teks berlevel mahir. Saat diminta menjelaskan ulang dengan kata-katanya sendiri, ia tidak mampu.
Di sinilah muncul kesenjangan antara suara mahasiswa dan suara AI. Pendengar bisa merasakannya. Dosen pun mudah mengenalinya. Bukan karena dosen anti-AI, melainkan karena bahasa yang dibaca tidak selaras dengan cara berpikir penyajinya. Bahasa yang baik dalam presentasi bukan bahasa yang paling rumit, melainkan bahasa yang paling dipahami oleh pembicara dan pendengarnya.
Masalah keempat adalah hilangnya pemahaman utuh. Banyak presentasi kini berjalan seperti sesi membaca naskah. Mahasiswa tidak menjelaskan, tetapi membacakan. Tidak berdialog, tetapi menyampaikan teks.
Ketika sesi tanya jawab dimulai, pertanyaan tidak dijawab dengan pemahaman sendiri, tetapi dilempar lagi ke AI. Jawaban AI kemudian dibaca seolah-olah itu jawaban pribadi. Padahal, inti presentasi tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menunjukkan bahwa kita memahami, menilai, dan mampu mempertanggungjawabkan informasi tersebut.
UNESCO (2023) telah mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam pendidikan harus tetap berpusat pada manusia, menjaga agensi manusia, serta mendorong kemampuan berpikir kritis dan etis. Artinya, AI tidak boleh mengambil alih peran mahasiswa sebagai subjek yang berpikir. Teknologi boleh membantu mencari arah, tetapi keputusan, penilaian, dan pemahaman tetap harus berada di kepala manusia.
Lalu, apa yang bisa dilakukan mahasiswa?
Pertama, ubah cara bertanya kepada AI. Jangan langsung memakai prompt seperti, “Buatkan artikel lengkap tentang…”, “Buatkan presentasi tentang…”, atau “Jawab semua pertanyaan ini…”. Prompt seperti itu membuat mahasiswa hanya menjadi penerima hasil.
Lebih baik gunakan AI sebagai teman diskusi. Tanyakan: “Apakah topik ini menarik?”, “Apa kelemahan argumen saya?”, “Bagian mana yang perlu diperkuat?”, “Apakah data ini valid?”, “Apa kemungkinan pertanyaan dari audiens?”, atau “Bagaimana menjelaskan konsep ini dengan bahasa B1?”
Kedua, biasakan memakai pola 5W+1H. Sebelum meminta AI menulis, tanyakan dulu: What, apa isu utamanya? Who, siapa yang terdampak? Where, di konteks mana fenomena ini terjadi? When, kapan isu ini menjadi penting? Why, mengapa ini bermasalah? How, bagaimana solusi yang realistis? Dengan cara ini, mahasiswa tidak langsung melompat ke produk akhir, tetapi belajar membangun kerangka berpikir.
Ketiga, selalu lakukan cross-check. Jika AI memberi nama penulis, judul artikel, teori, data statistik, atau DOI, jangan langsung percaya. Cek di Google Scholar, jurnal resmi, website lembaga, buku asli, atau database akademik.
Bahkan, mahasiswa perlu berani bertanya balik kepada AI: “Saya membaca di Google bahwa datanya berbeda. Mengapa jawabanmu tidak sama?” atau “Sumber yang kamu berikan tidak saya temukan. Bisakah kamu jelaskan kemungkinan kesalahannya?” Sikap seperti ini jauh lebih akademik daripada sekadar menyalin jawaban.
Keempat, minta AI menyesuaikan level bahasa. Mahasiswa bisa menulis: “Jelaskan dengan bahasa mahasiswa semester dua”, “Gunakan bahasa Inggris level B1”, “Gunakan bahasa Indonesia populer untuk presentasi kelas”, atau “Buat versi yang mudah saya jelaskan dengan kata-kata sendiri.” Setelah itu, mahasiswa wajib membaca ulang dan mengganti kalimat yang tidak ia pahami. Aturannya sederhana: jangan presentasikan kalimat yang tidak bisa kamu jelaskan.
Kelima, gunakan AI untuk latihan, bukan untuk menggantikan performa. Sebelum presentasi, mahasiswa dapat meminta AI membuat daftar pertanyaan kritis dari audiens, lalu mencoba menjawabnya sendiri. Setelah menjawab, barulah minta AI menilai: “Apakah jawaban saya sudah kuat?” atau “Bagian mana yang perlu diperbaiki?” Dengan begitu, AI menjadi pelatih, bukan joki.
Keenam, dosen juga perlu mengubah cara menilai presentasi. Jangan hanya menilai slide yang rapi atau bahasa yang indah. Nilailah proses berpikir: apakah mahasiswa memahami sumbernya, mampu menjelaskan ulang, bisa membedakan data valid dan opini, serta sanggup merespons pertanyaan tanpa selalu membaca layar. Presentasi perlu dikembalikan sebagai ruang dialog, bukan ruang membacakan hasil mesin.
AI tidak perlu dimusuhi. Ia adalah alat yang sangat kuat. Namun, alat yang kuat membutuhkan pengguna yang cerdas. Kalkulator tidak membuat matematika hilang, tetapi siswa tetap harus memahami konsep angka. Google tidak membuat membaca menjadi tidak penting, tetapi pembaca tetap harus memilah informasi. Begitu juga AI: ia bisa mempercepat belajar, tetapi tidak boleh menggantikan nalar.
Generasi Z (Gen Z) dan Alpha hidup di zaman ketika jawaban tersedia sangat cepat. Tantangannya tidak lagi mencari informasi, tetapi memeriksa, memahami, dan mempertanggungjawabkan informasi. Di kelas presentasi, mahasiswa tidak cukup terlihat pintar karena slide-nya bagus. Ia harus benar-benar mengerti apa yang ia katakan.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan “Apakah mahasiswa boleh memakai AI?” Jawabannya: boleh. Pertanyaan yang lebih pentingnya: Setelah memakai AI, apakah mahasiswa menjadi lebih kritis, atau justru semakin malas berpikir?
Jika AI membuat mahasiswa lebih berani bertanya, lebih rajin memeriksa sumber, dan lebih mampu menjelaskan gagasan dengan bahasanya sendiri, AI telah menjadi teman belajar. Namun jika AI hanya membuat mahasiswa pandai menyalin, membacakan, dan berpura-pura paham, yang sedang terjadi bukan kemajuan pendidikan, melainkan kemunduran nalar dalam kemasan digital.





