China disebut makin penting dalam konservasi keanekaragaman hayati

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
London (ANTARA) - Sekretaris jenderal Botanic Gardens Conservation International (BGCI) Carly Cowell menilai keanekaragaman tumbuhan yang kaya serta jaringan kebun raya yang terus berkembang di China memberikan negara tersebut peran yang semakin penting dalam konservasi keanekaragaman hayati global.

Cowell menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara dengan Xinhua baru-baru ini di London menjelang Hari Keanekaragaman Hayati Internasional pada Jumat (22/5).

"China telah membuat kemajuan signifikan dalam konservasi tumbuhan, pengembangan kebun raya, peningkatan kapasitas ilmiah, dan kerja sama internasional, kata Cowell.

Dia mengatakan pengalaman China menawarkan referensi yang berguna bagi komunitas kebun raya yang lebih luas.

Di era hilangnya keanekaragaman hayati, katanya, kebun raya merupakan salah satu institusi dengan posisi terbaik untuk mengidentifikasi spesies yang terancam, memahami lokasi kemunculannya, melestarikannya, serta membantu memulihkan populasinya.

"Sebagai rumah bagi sekitar 10 persen spesies tumbuhan tingkat tinggi dunia, China mendukung kebun raya untuk melestarikan, meneliti, dan memahami floranya dengan lebih baik, termasuk sekitar 15 persen spesies asli yang dianggap terancam, sembari mendukung negara-negara yang menghadapi tantangan konservasi serupa," kata Cowell.

"Pekerjaan yang dilakukan China, dan pekerjaan yang dilakukan kebun raya di China, sangat signifikan dalam komunitas global untuk konservasi tumbuhan ini," ujarnya.

Mengenang kunjungannya ke China, Cowell mengatakan luasnya keanekaragaman ekologi dan geografis negara itu adalah hal yang paling membuatnya terkesan. Menurut dia, keanekaragaman itu tercermin dalam kebun-kebun raya di China, yang masing-masing memiliki keahlian yang dibentuk oleh lingkungan lokal dan kekuatan penelitian.

Dia melihat rasa bangga yang kuat di kalangan ilmuwan, ahli hortikultura, dan praktisi konservasi China terhadap warisan alam negara tersebut.

"Baik itu peneliti plasma nutfah, seseorang yang melakukan pengurutan DNA, atau ahli hortikultura yang menguji protokol propagasi, saya melihat kecintaan dan kebanggaan yang sama terhadap tumbuhan China, dan hasrat yang sama untuk melihat mereka tumbuh dan berkembang," katanya.

Pohon cemara muda terlihat di Lijiang Alpine Botanic Garden di Lijiang, Provinsi Yunnan, China (28/3/2024). (Xinhua/Chen Xinbo) Menurut dia, berkat dukungan kuat pemerintah terhadap sains dan konservasi tumbuhan, kebun raya di China telah melakukan pekerjaan signifikan dalam restorasi, pemetaan spesies pohon yang sangat terancam punah (critically endangered), bekerja sama dengan komunitas lokal, membudidayakan spesies terancam, dan melakukan reintroduksi ke kebun raya maupun habitat alami.

"Kemajuan di China sangat besar," kata Cowell, menyebut soal perkembangan dalam data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan teknologi terkait yang membantu menyederhanakan pekerjaan konservasi, yang menurutnya dapat dipelajari oleh jaringan BGCI yang lebih luas.

Cowell menilai bank benih dan konservasi plasma nutfah merupakan bidang lain di mana China memainkan peran penting. Dia mengatakan bahwa China mengelola bank benih untuk material tumbuhannya sendiri dan juga membantu negara lain membangun bank benih serta berbagi benih untuk konservasi jangka panjang.

"Yang luar biasa bukan hanya tindakan berbagi material, tetapi juga berbagi keahlian, seperti cara mengumpulkan benih, membersihkannya, menyimpannya, dan menumbuhkannya. Tanpa partisipasi China, tidak akan seefektif ini. Tidak akan bersifat global," katanya.

Ke depannya, Cowell mengatakan kebun raya di China dan di tempat-tempat lainnya dapat meningkatkan perhatian terhadap hortikultura konservasi, keanekaragaman genetik, penghijauan perkotaan, serta pemantauan hama dan penyakit.

"Konservasi keanekaragaman hayati China sedang mengalami kemajuan. Ada dukungan di banyak level untuk konservasi keanekaragaman hayati di China," kata Cowell.

Seraya menyebutkan bahwa BGCI memiliki kantor di China, Cowell menyatakan "kami antusias untuk terus melanjutkan kolaborasi dengan kebun raya di China pada masa mendatang.

*) penulis Xinhua Zhao Jiasong, Yu Aicen




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Australia Percepat Mandat Biofuel, Pangkas Ketergantungan pada Minyak Global
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kasus Kecelakaan Taksi Green SM-KRL di Pelintasan Ampera Ditangani Satlantas Bekasi Kota
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Cegah Anak Tidak Sekolah, Disdukcapil Bersama Disdikbud Jeneponto Sosialisasikan Pemadanan Data Dapodik, ATS Berbasis NIK
• 12 jam laluterkini.id
thumb
4 Zodiak Paling Hoki soal Karier 22 Mei 2026: Capricorn Peluang Sukses Makin Terbuka
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Ditahan Militer Israel di Perairan Internasional, 9 WNI Akhirnya Dibebaskan
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.