Raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengungkap alasan Keraton Yogyakarta menyederhanakan prosesi Hajad Dalem Garebeg Besar Idul Adha tahun ini.
Sultan menyebut, penyederhanaan dilakukan sebagai langkah penghematan di tengah kondisi ekonomi yang sedang kurang baik.
"Ya penghematan aja. Kabeh kan penghematan. Ya kita juga menghemat lah, psikologisnya kan gitu. Nanti dikira mewah-mewah," ujar Sultan HB X saat ditemui awak media di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Kamis (21/4).
Dalam prosesi Garebeg Besar 1447 H/2026 yang akan digelar Rabu (27/5) mendatang, sejumlah agenda yang menjadi ciri khas garebeg akan ditiadakan. Di antaranya yakni kirab gunungan keluar Keraton, rebutan gunungan di halaman Masjid Gedhe, dan iring-iringan prajurit.
Menurut Sultan, kirab gunungan dan iring-iringan prajurit memang menjadi pos pengeluaran terbesar dalam prosesi Garebeg. Sultan juga menyinggung kebijakan penghematan yang tengah berjalan di tingkat nasional maupun daerah sebagai alasan penyederhanaan ini.
"Kita lihat yang pemerintah, APBN, ya penghematan, daerah ya penghematan. Karena biaya ya biaya yang terbesar itu kan di situ," lanjutnya.
Saat ditanya apakah penyederhanaan ini akan berlaku seterusnya, Sultan mengaku belum dapat memastikan. Ia menyebut keputusan ke depan akan bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi.
“Nanti kita lihat perkembangannya, kalau memang keadaan ekonominya lebih baik, ya dimunculkan lagi. Kita kan belum tahu,” ujarnya.
Meski tak mengiringi kirab gunungan, Sultan menyebut prajurit Keraton kemungkinan akan tetap bertugas dalam prosesi Sekaten mendatang.
"Kalau nanti kan Sekaten. Jadi kemungkinan prajurit kan tetap ngawal. Tapi pada waktu acara gunungan, nggak ada," katanya.
Sementara itu, Bupati Nayaka Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa penyederhanaan Garebeg bukan kali pertama terjadi. Dalam sejarahnya, prosesi ini pernah beberapa kali disesuaikan, terutama pada masa krisis seperti periode perjuangan kemerdekaan.
Penyesuaian serupa juga dilakukan pada tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 memaksa Keraton meniadakan kirab gunungan dan iring-iringan prajurit.
Garebeg merupakan tradisi sedekah raja kepada rakyat yang diwariskan sejak masa kerajaan di Jawa dan berkembang dalam tradisi Islam. Di Yogyakarta, tradisi ini digelar tiga kali dalam setahun untuk memperingati Maulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Meski sejumlah agenda ditiadakan, Keraton menegaskan esensi Garebeg tetap dijaga. Ubarampe pareden atau gunungan tetap disiapkan dan akan dibagikan khusus kepada para abdi dalem di lingkungan dalam Keraton.





