Ketua Komisi XIII DPR: Kenapa Anak-Anak Kita Enggak Mau Jadi Penulis? Karena Enggak Ada Uangnya

wartaekonomi.co.id
14 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, mendorong penghapusan pajak kertas dan pajak penulis hingga nol persen dalam revisi Undang-Undang (UU) Sistem Perbukuan.

Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menekan harga buku yang tinggi di pasaran sekaligus memperkuat ekosistem literasi nasional.

Ia menambahkan revisi UU Sistem Perbukuan tersebut saat ini telah resmi masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan menjadi salah satu agenda prioritas yang tengah diperjuangkan oleh Komisi XIII DPR RI.

"Salah satu yang diperjuangkan dalam revisi UU tersebut yakni pajak kertas dan pajak penulis Rp0. Revisi UU Sistem Perbukuan ini menjadi prioritas saya karena dari dulu saya mendapatkan uang dari menulis," ujar Willy dalam diskusi bersama Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Menurut Willy, revisi regulasi ini bertujuan untuk menghapus stigma lama yang menempatkan buku sebagai barang mewah. Dengan hilangnya beban pajak tersebut, akses terhadap ilmu pengetahuan diharapkan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

"Jika suatu bangsa menjadikan buku sebagai barang mewah, maka pengetahuan adalah suatu hak yang istimewa. Ketika pengetahuan menjadi hak istimewa, maka berpikir kritis itu menjadi suatu hal yang elitis. Jadi, kita sedang menata dari hulu ke hilir," papar legislator dari Fraksi Partai NasDem tersebut.

Selain pembebasan pajak, draf revisi UU Sistem Perbukuan juga menggodok sejumlah poin penting lainnya untuk mendukung industri kreatif ini, antara lain:

  • Subsidi biaya logistik untuk kelancaran distribusi buku ke daerah terpencil.
  • Penguatan penegakan hukum terkait perlindungan hak cipta.
  • Pemberian dukungan insentif bagi penerbit independen agar lebih kompetitif.

Willy menilai transformasi ekosistem perbukuan sudah sangat mendesak. Kondisi industri saat ini dinilai kurang ramah secara finansial, sehingga jarang ada generasi muda yang bercita-cita menjadi penulis profesional.

"Mengapa anak-anak kita tidak ada yang berpikir menjadi penulis? Karena tidak ada uangnya. Oleh karena itu, ekosistem perbukuan ini harus bertransformasi. Musik dan film saja bisa, mengapa buku tidak?" tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Digitalisasi Layanan dan Tilang Elektronik, Wakapolri: Mudah Diakses Masyarakat!
• 13 jam lalurctiplus.com
thumb
Perluas Ketahanan Energi Nasional, Anak Usaha BUMD DKI Jakarta Gandeng Asosiasi Penghasil Migas
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Anggota Komisi I DPR Desak Pemerintah Bawa Kasus Penyiksaan 9 WNI oleh Israel ke ICC
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Wabah Ebola Meluas hingga Wilayah Kendali Pemberontak di Kongo
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Periksa 19 Pejabat Termasuk Wabup Tulungagung Terkait Kasus Gatut Sunu
• 34 menit lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.