jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam mengaku kaget mendengar kabar orang asing, yakni eks mantan Direktur PT Vale Indonesia Tbk Luke Thomas Mahony bakal memimpin PT. Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
"Kami jujur cukup terkejut," kata dia melalui layanan pesan, Jumat (22/5).
BACA JUGA: CEO Danantara Rosan Beberkan Alasan Tunjuk WN Australia Luke Thomas Sebagai Dirut PT DSI
Diketahui, pemerintah resmi membentuk BUMN baru, yakni PT DSI yang secara khusus menangani ekspor sumber daya alam (SDA) strategis Indonesia.
Pembentukan PT DSI menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat pengawasan ekspor komoditas SDA.
BACA JUGA: 7 Sebab Luke Thomas Jadi Bos Danantara Sumberdaya Indonesia, Nomor 6 Terkait Wanita
Perusahaan dibentuk di bawah BPI Danantara dan mulai beroperasi pada 1 Juni 2026 demi memastikan hasil ekspor tercatat secara transparan.
Mufti Anam memahami pemerintah ingin menunjukkan profesionalitas ketika menunjuk Luke Thomas yang punya integritas untuk memimpin PT DSI.
BACA JUGA: Danantara Sumberdaya Indonesia Dipimpin Warga Australia, Kok Bisa?
"Jadi mungkin pemerintah hari ini mengambil langkah yang sangat hati-hati dengan menghadirkan figur profesional asing yang dianggap punya rekam jejak, integritas, dan pengalaman yang komprehensif," ujarnya.
Namun, dia mengingatkan penunjukkan Luke Thomas sebagai Direktur PT DSI tidak menjadi preseden bahwa sektor paling strategis bangsa bakal terus bergantung ke orang asing.
"Sebaik apa pun profesional asing, tentu yang paling memahami kepentingan jangka panjang bangsa ini haruslah anak bangsa sendiri," kata Mufti Anam.
Dia mengatakan pemerintah harus memberikan batas waktu jelas terkait penunjukkan sosok asing di posisi strategis.
"Masyarakat perlu tahu, sampai kapan posisi strategis ini dipimpin oleh warga negara asing," kata legislator fraksi PDI Perjuangan itu.
Mufti Anam mengatakan posisi yang ditempati Luke Thomas bisa diemban WNI setelah tugas transisi, pembenahan sistem, dan pembangunan tata kelola baru sudah dilakukan pendahulu.
"Posisi itu harus kembali dipimpin oleh anak bangsa yang profesional, bersih, dan berintegritas," ujarnya.
Mufti Anam menuturkan SDA Indonesia pada akhirnya harus tetap berada di bawah kendali penuh anak bangsa.
Toh, ujar dia, tantangan hari ini bukan hanya soal tata kelola ekspor, melainkan juga kepercayaan masyarakat.
Menurut dia, semua bisa melihat pasar merespons berbagai pernyataan dan kebijakan ekonomi pemerintah akhir-akhir ini dengan penurunan di bursa.
"Ada kegelisahan di masyarakat dan dunia usaha. Ada kekhawatiran terhadap arah pengelolaan ekonomi nasional," katanya. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Ketum Relawan Logis 08: Ekosistem Belum Siap, Danantara Sebaiknya Tunda Investasi Peternakan Ayam
Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Aristo Setiawan




