Kegusaran ”Amirul Hajj” Menemukan Tenda di Arafah Dikapling-kapling KBIHU

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Lima hari menjelang puncak haji, wukuf di Arafah, delegasi amirul hajj yang dipimpin Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf meninjau kesiapan fasilitas di Arafah, sekitar 23 kilometer tenggara Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Hal ini guna memastikan layanan bagi jemaah haji Indonesia saat wukuf, fase awal ibadah Armuzna, optimal.

”Armuzna ini adalah titik paling krusial dari proses haji,” kata Irfan dalam konferensi pers sebelum meninjau Arafah. ”Puncak dari haji adalah Armuzna. Jika Armuzna berjalan sesuai harapan, artinya kesuksesan sudah 80 persen,” ujarnya dalam kesempatan sebelumnya.

Armuzna—singkatan Arafah, Muzdalifah, dan Mina—merupakan rangkaian ibadah puncak haji, berlangsung sejak 9 Zulhijah hingga 13 Zulhijah. Di tiga tempat al-masya’ir muqaddasah itu, para jemaah wukuf, bermalam (mabit) di Muzdalifah dan Mina, tahalul, dan melempar jamrah di Mina.

Setelah puncak haji itu, jemaah akan kembali ke Mekkah untuk menunaikan tawaf ifadhah, sai, lalu tahalul, dan usailah ibadah haji. Jemaah akan melaksanakan tawaf wada sebelum meninggalkan Mekkah.

Baca JugaPergerakan Jemaah dan Pengaturan Konsumsi Tentukan Sukses Puncak Haji

Di Arafah, delegasi amirul hajj meninjau lokasi tenda dan fasilitasnya yang dikelola syarikah (perusahaan) Rakeen Mashariq Al Mutamayizah Company for Pilgrim Service terlebih dahulu. Syarikah lainnya adalah Al Bait Guest, yang ditinjau hasil penyiapan fasilitasnya di Arafah.

Selain diikuti wakil amirul hajj, yang juga Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak, peninjauan itu juga diikuti antara lain Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji Muhadjir Effendy, pengusaha Yusuf Hamka, dan para ulama anggota musyrif diniy.

Pada awal kunjungan, tidak ada yang menghebohkan. Seperti kunjungan atau inspeksi biasa lainnya. Hanya Dahnil yang sejak awal bertanya mencecar pada staf Rakeen. ”Ini baru diproduksi, ya? Tahan berapa lama?” katanya kepada staf Rakeen mengenai makanan siap santap (ready to eat/ RTE) di titik awal peninjauan.

”Ini bukan sisa tahun kemarin?” kata Dahnil lagi setelah diberi tahu bahwa makanan itu bisa bertahan sampai 12 bulan. ”Jemaah jangan diberi makanan sisa tahun kemarin. Akan saya cek (makanan siap santap itu).”

Kapling-kapling KBIHU

Baru setelah berjalan beberapa langkah, situasi mulai ”panas” saat Gus Irfan—panggilan akrab Menhaj—dan Dahnil menemukan sebuah tenda diberi tulisan di atas kertas oleh sebuah kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU), penanda bahwa tenda itu akan mereka tempati. ”Ini tidak benar, makanya saya buang (kertas itu),” kata Irfan.

”Bapak-bapak, kalau KBIH (nama lama KBIHU)-nya begini, nanti kami tutup (KBIH) ini. Yang enggak tertib dengan Kementerian Haji dan Umrah, kami tutup KBIH-KBIH yang bandel-bandel ini. Yang mengatur (penempatan jemaah) adalah PPIH (petugas penyelenggara ibadah haji),” lanjut Dahnil.

Baca JugaJaga Stamina demi Armuzna, Jemaah Diminta Tak Keluar dari Mekkah

KBIHU adalah lembaga layanan bimbingan haji atau umrah. Sebagian jemaah haji bergabung dengan KBIHU, sebagian lainnya tidak. Beberapa hari sebelum puncak haji, sejumlah pengurus KBIHU menyurvei lokasi Arafah dan Mina. Namun, di luar bayangan beberapa KBIHU itu ternyata ”mengapling-ngapling” tenda hanya untuk jemaah di bawah naungannya.

Persoalan lainnya adalah soal ”kejujuran” mengenai jumlah kasur di dalam tenda. Di sebuah tenda, Irfan menemukan tulisan di pintu kaca, yang menyebut jumlah kasurnya 360 buah. Padahal, setelah dihitung, jumlah kasurnya hanya 332 buah. Selisih 28 buah kasur.

”Saya minta syarikah mencarikan tenda baru untuk melengkapi kekurangan kasurnya,” kata Irfan. ”Kalau tidak dicarikan tenda baru, mau tidur di mana yang 28 (jemaah) nanti?” katanya, yang dikuatkan oleh Muhaimin.

Tahun kemarin banyak jemaah tidak kebagian tenda gara-gara perilaku (KBIHU-KBIHU) seperti ini.

Wakil Menteri Agama Romo HR Muhammad Syafi’i, anggota amirul hajj lainnya, menemukan bahwa kasur-kasur di tenda itu juga lama. Temuan ini setelah ia membuka seprai pembungkus kasur. ”Saya enggak yakin kasurnya baru. Kalau bantal, memang baru. Kalau dalam kontrak, kasur harus baru. Ini telah terjadi manipulasi,” ujarnya.

Baca JugaSebelum Hilang dari Hotel di Mekkah, Pak Firdaus: ”Masjid di Mana?”

Dahnil menambahkan, dari penghitungan petugas Indonesia, masih ada kekurangan 12 tenda untuk memenuhi kebutuhan jemaah Indonesia. Hingga poin itu, setidaknya ada dua masalah, yaitu jumlah akomodasi (kasur dan tenda) yang kurang dan perilaku sebagian KBIHU yang mengapling-ngapling tenda di Arafah.

”Tahun kemarin banyak jemaah tidak kebagian tenda gara-gara perilaku (KBIHU-KBIHU) seperti ini,” kata Dahnil. ”Pokoknya KBIHU yang bandel, tidak tertib aturan, akan kami cabut izinnya. Yang kasihan adalah jemaah. Gara-gara ulah itu, banyak jemaah tidak kebagian tenda.”

Kerahkan personel PPIH

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tinggal dalam hitungan hari sebelum puncak haji, Kemenhaj mengerahkan anggota PPIH untuk menghitung manual ketersediaan akomodasi di Arafah. Hal serupa dilakukan di Mina. Apalagi, masa tinggal jemaah di Mina lebih lama, yaitu 2-3 hari.

Tahun ini 202.638 anggota jemaah haji Indonesia dari 527 kloter telah tiba di Mekkah. Mereka akan diberangkatkan ke Arafah mulai Senin (25/5/2026) pagi dan diharapkan sorenya semua jemaah sudah berada di Arafah. Wukuf akan berlangsung pada Selasa (26/5/2026).

Baca Juga20.000 Jemaah Haji Indonesia Ikuti Tanazul

Di sela peninjauan, Irfan mengatakan kepada wartawan bahwa masalah akomodasi itu salah satu temuan. Ia mengaku khawatir, ada temuan-temuan lain terkait penyiapan Armuzna.

”Satu per satu akan kami selesaikan,” ujar Irfan. ”Kita perlu tenda tambahan. Sepertinya ini masalah yang sering terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Kami tidak ingin terjadi lagi supaya seluruh jemaah mendapatkan tenda. Mudah-mudahan dalam lima hari, semua bisa kami kejar.”

Mengenai perilaku KBIHU yang mengapling tenda di Arafah, Irfan menegaskan, KBIHU berhak mengatur jemaah di Tanah Air. Namun, jika sudah di Tanah Suci, Kemenhajlah yang mengatur. ”KBIHU yang tidak bisa kami atur, kami tidak teruskan izinnya. KBIHU itu partner kami, tetapi kamilah yang mengatur,” katanya.

Mengenai fasilitas lain, misalnya toilet, belum memenuhi standar. Dari segi jumlah, satu toilet digunakan untuk 50 anggota jemaah. Terkait fasilitas itu, Irfan meminta agar tahun depan jumlah toilet ditambah.

Dari peninjauan tersebut, Irfan mengakui, fasilitas yang disiapkan syarikah belum memuaskan. Di sisa beberapa hari ini, PPIH harus bekerja keras menyelesaikan dan memastikan kesiapan layanan di Arafah dan Mina bagi seluruh jemaah Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Membongkar Jalan Pintas Kognitif Pemilih Indonesia
• 4 jam lalukompas.id
thumb
15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Alami Pelecehan Seksual saat Ditahan Israel
• 15 jam laludetik.com
thumb
Ketika Warga Banda Aceh Kumpul di Warkop Saat Mati Listrik
• 12 jam laluliputan6.com
thumb
Pendampingan Intensif Dongkrak Produktivitas Petani Desa
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Raja Assist Championship Bakal Dipanggil Timnas Indonesia? John Herdman Beri Pernyataan Tegas soal Kualifikasi Pemain di Skuad Garuda
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.