ISTANBUL, KOMPAS.TV - Sejumlah aktivis Global Sumud Flotilla yang diculik dari perairan internasional di Laut Mediterania dan dibawa paksa ke Israel, mengaku mengalami kekerasan seksual selama ditahan tentara Israel.
Para aktivis yang berupaya membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza dan menembus blokade Israel atas wilayah Palestina itu juga mengungkapkan mereka dipukuli dan disiksa.
Sekitar 50 perahu Global Sumud Flotilla yang membawa 428 warga sipil berangkat dari Marmaris, Turki pada Kamis, 14 Mei lalu.
Perahu-perahu itu kemudian diserang tentara Israel di perairan internasional di lepas pantai Siprus, yang berjarak sekitar 250 mil laut atau sekitar 463 km dari Gaza, Senin (18/5/2026). Serangan berlanjut hingga Selasa (19/5/2026) terhadap perahu-perahu yang tersisa.
Baca Juga: WNI yang Ditahan Israel Mengaku Alami Kekerasan, Disetrum dan Dipukul
Para partisipan kemudian dibawa paksa ke Pelabuhan Ashdod untuk ditahan, sebelum dideportasi ke Turki.
Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Israel, Adalah, mengungkapkan telah mendokumentasikan testimoni dari para partisipan yang mengatakan mereka diserang dengan peluru karet dan alat penyetrum.
Mereka juga mengaku mengalami pemukulan hingga beberapa mengalami patah tulang.
Berdasarkan pernyataan Global Sumud Flotilla, sejumlah aktivis juga menjadi sasaran kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan, dan "penetrasi paksa menggunakan pistol".
Dilansir CNN, Jumat (23/5/2026), aktivis sekaligus pembuat film asal Australia, Julie Lamont, mengatakan ia dipukuli dan dilecehkan secara seksual oleh lima pria di dalam sebuah kontainer pengiriman di atas kapal, yang disebut sebagai kapal penjara Israel.
Penulis : Haryo Jati Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV, CNN
- aktivis global sumud flotilla
- tentara israel
- kekerasan seksual
- global sumud flotilla
- Israel
- Gaza





