Iran menyatakan pihaknya tidak mencari konsensi apapun dari Amerika Serikat (AS) sambil menekankan bahwa negara tersebut hanya ingin hak-haknya dikembalikan dan sanksi yang didapat dapat dicabut.
“Kami tidak menginginkan konsesi apa pun dari Amerika Serikat, kami hanya menuntut hak-hak kami,” ujar Esmaeil Baghaei Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Jumat (22/5/2026).
Dilansir dari Antara, Teheran menuntut penghentian tindakan operasi militer Amerika terhadap Iran, pencabutan sanksi, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
“Selama lima dekade terakhir, kami telah menghadapi apa yang mereka sendiri sebut sebagai ‘sanksi yang melumpuhkan’,” imbuhnya.
Baghaei mengatakan, AS menjatuhkan sanksi terhadap Iran karena berbagai alasan, salah satunya terkait apa yang disebut AS sebagai ancaman nuklir Iran.
“Tidak ada ancaman nuklir dari Iran terhadap pihak mana pun di kawasan maupun dunia,” ucapnya.
Terkait Selat Hormuz, ia mengkritik blokade perairan yang dilakukan oleh angkatan laut AS sebagai tindakan yang bertentangan dengan hukum internasional. Ia meminta Washington untuk mengambil keputusan dalam pengakhiran blokade tersebut.
Konflik geopolitik antara Iran dengan AS terus bereskalasi sejak 28 Februari, yang diawali oleh serangan AS melalui Israel terhadap Iran. Teheran membalas serangan tersebut dengan melancarkan serangan kepada Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz.
Pada 8 April, gencatan senjata terjadi yang disusul dengan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, meskipun tidak menghasilkan keputusan apapun.
Donald Trump Presiden AS memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu ,tetapi tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.(ant/vve/kir/iss)




