BEKASI, KOMPAS.com — Di tepi aliran kali yang keruh dan dipenuhi sampah, Lulu Tri Rahayu (38) duduk mencuci pakaian di bantaran sungai Kampung Cabang Pintu Air, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
Tangannya sibuk mengucek pakaian di atas papan cuci sederhana, sementara air kali yang mengalir di depannya menjadi satu-satunya sumber air yang bisa ia gunakan setiap hari.
Selama lebih dari dua dekade, Lulu bersama keluarganya bertahan hidup tanpa akses air bersih di wilayah tersebut.
Baca juga: 5 Hari Berlalu, Kebakaran Gudang Plastik Cengkareng Jakbar Belum Juga Padam
Rumah semi permanen yang ia tempati berdiri di atas lahan milik PJT (Perum Jasa Tirta) atau pengairan, tepat di bantaran kali yang dipenuhi tumpukan sampah dan eceng gondok. Di tempat itulah Lulu menjalani kehidupan sehari-hari yang jauh dari kata layak.
“Kondisinya di sini susah. Enggak ada air bersihnya. Jadinya pakai air kali semuanya. Tapi kalau minum mah beli air galon,” ujar Lulu saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat (22/5/2026).
Rumah-rumah warga di kawasan itu berdiri berhimpitan. Sebagian besar bangunan sederhana, berdinding kayu dan seng, dengan jalan setapak sempit yang licin saat hujan.
Lulu mengatakan, ia sudah sekitar 21 tahun tinggal di wilayah tersebut. Namun karena berdiri di atas lahan milik PJT, warga tidak memiliki sambungan air bersih permanen.
Selain itu, kawasan tersebut juga sempat direncanakan untuk digusur, sehingga sebagian warga memilih tidak lagi membuat sumur atau menggunakan mesin pompa air.
“Ini juga kan bangunannya mau digusur, jadi kami enggak pakai sumur,” kata dia.
Setiap hari, bantaran kali itu nyaris tak pernah sepi dari aktivitas warga. Sejak pagi hingga sore, ibu-ibu terlihat bergantian mencuci pakaian dan peralatan rumah tangga di pinggir aliran air.
Baca juga: Polisi Akan Periksa Akun Penyebar Hoaks Model Dibegal di Jakbar, Minta Unggahan Dihapus
Meski keruh dan bercampur sampah, Lulu mengaku dirinya sudah terbiasa menggunakan air kali untuk kebutuhan sehari-hari.
“Karena udah dari dulu tinggal di sini jadi biasa aja merasanya. Aman-aman aja. Kami juga udah enggak ada rasa khawatir lagi,” ujar Lulu.
Menurut dia, kondisi air kali sering berubah-ubah, terutama saat musim hujan tiba. Air bisa berubah hitam, berbau menyengat, hingga dipenuhi eceng gondok yang menutupi permukaan sungai.
“Seringnya mah airnya bau kayak comberan. Ini karena baru dibersihkan aja makanya kelihatan bersih. Biasanya banyak eceng gondoknya,” kata dia.
Saat hujan deras turun, air kali juga kerap meluap hingga menggenangi permukiman warga. Dalam kondisi seperti itu, aktivitas mencuci maupun membersihkan rumah terpaksa dihentikan sementara.





