Iran Geger! Drone Israel Diduga Dipakai UEA untuk Menyerang, AS Malah Perketat Blokade Laut

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Pada Selasa, 20 Mei 2026, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan peringatan keras terkait mandeknya proses negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran.

Dalam keterangannya kepada media di Joint Base Andrews, Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran telah memasuki “tahap akhir”. Namun di saat yang sama, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat siap kembali melancarkan operasi militer apabila Iran menolak mencapai kesepakatan.

Trump mengatakan bahwa jalur pelayaran strategis di kawasan Timur Tengah harus segera dibuka kembali, terutama menyangkut keamanan di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan global.

“Kita harus membuka jalur selat itu agar bisa langsung dilalui. Karena itu, kita harus mengambil langkah besar. Saya hanya berpikir, apakah mereka benar-benar memikirkan rakyat Iran? Karena menurut saya, beberapa tindakan mereka sama sekali tidak mengutamakan kepentingan rakyat,” katanya. 

Pernyataan tersebut langsung memicu spekulasi bahwa Washington sedang bersiap meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran.

Fox News: AS Diduga Bersiap untuk Gelombang Kedua Operasi Militer

Tak lama setelah pernyataan Trump muncul, sejumlah media Amerika, termasuk Fox News, melaporkan bahwa militer AS diduga tengah mempersiapkan gelombang kedua operasi militer terhadap Iran.

Perhatian dunia pun kembali tertuju pada aktivitas militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Beberapa pesawat tanker Angkatan Udara AS dilaporkan terlihat berada di sekitar Bandara Ben Gurion.

Kemunculan pesawat tanker tersebut dinilai para analis sebagai indikasi penting, karena pesawat jenis itu biasanya digunakan untuk mendukung operasi udara jarak jauh dan pengisian bahan bakar pesawat tempur di tengah operasi militer.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sempat mereda kini kembali berada di ambang eskalasi besar.

Iran Tuduh Amerika Sengaja Memicu Perang Baru

Di pihak lain, Iran memberikan respons keras terhadap langkah-langkah Washington.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Amerika Serikat sengaja berupaya memicu perang baru di kawasan Timur Tengah.

Melalui pernyataannya yang dikutip media Iran pada 20 Mei 2026, Ghalibaf menyatakan bahwa baik operasi terbuka maupun operasi rahasia Amerika menunjukkan bahwa Washington belum meninggalkan tujuan militernya terhadap Iran.

Ia menilai Amerika masih terus mencari cara untuk memulai konflik baru demi menekan Teheran secara politik dan ekonomi.

Meski demikian, di tengah meningkatnya ancaman militer, pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa mereka masih meninjau proposal perdamaian terbaru yang diajukan pihak Amerika Serikat.

CENTCOM Rilis Video Marinir AS Naik ke Kapal Dagang Iran

Masih pada 20 Mei 2026, United States Central Command atau CENTCOM merilis video yang langsung menarik perhatian internasional.

Video tersebut memperlihatkan helikopter serang Marinir AS melakukan patroli di sekitar sebuah kapal dagang yang melintas di wilayah perairan strategis Timur Tengah. Dalam rekaman itu terlihat pasukan Marinir turun dari helikopter dan naik ke atas kapal.

Dalam pernyataannya di platform X, CENTCOM menyebut bahwa pasukan dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 telah menaiki kapal dagang berbendera Iran bernama “Tian Hai”.

Menurut CENTCOM, kapal tersebut diduga mencoba melanggar blokade yang diterapkan Amerika Serikat dan berlayar menuju pelabuhan Iran.

Militer AS menyatakan bahwa setelah pemeriksaan dilakukan dan awak kapal diperintahkan mengubah arah pelayaran, pasukan Marinir kemudian meninggalkan kapal tersebut tanpa insiden besar.

Washington juga menegaskan bahwa operasi blokade akan terus dilaksanakan secara penuh.

Hingga 20 Mei 2026, militer Amerika mengklaim sebanyak 91 kapal dagang telah diarahkan ulang demi memastikan seluruh pihak mematuhi aturan blokade yang diterapkan di kawasan.

Proposal Perdamaian Rahasia Bocor, Hormuz dan Uranium Jadi Fokus Utama

Di tengah memanasnya situasi, muncul pula kebocoran informasi yang menghebohkan publik internasional.

Seorang influencer garis keras Iran bernama Gorhaki mengaku membocorkan isi proposal perdamaian terbaru yang disebut diajukan Amerika Serikat kepada Teheran.

Menurut klaim tersebut, proposal Washington mencakup beberapa poin utama:

Selain itu, seluruh proses disebut harus dijalankan secara bertahap dalam waktu 30 hari agar Iran bisa kembali mengekspor minyak dan melanjutkan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat.

Meski isi proposal tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan banyak pihak meragukan keasliannya, sejumlah pengamat menilai kebocoran semacam ini kemungkinan besar memang sengaja dilakukan untuk memperkuat posisi tawar Iran dalam negosiasi.

Drone Israel Diduga Digunakan UEA untuk Menyerang Iran

Perkembangan lain yang tak kalah mengejutkan juga muncul pada hari yang sama.

Sejumlah media melaporkan bahwa dalam sebuah serangan terbaru ke wilayah Iran, pasukan Uni Emirat Arab menyerang target sipil dan militer di Provinsi Hormozgan.

Namun yang paling menyita perhatian dunia bukan hanya serangan tersebut, melainkan jenis senjata yang digunakan.

Beredar laporan bahwa UEA mengerahkan puluhan drone serang “Orbiter X” buatan Israel.

Pihak Iran mengaku mengetahui asal drone itu setelah berhasil merebut setidaknya dua unit drone dalam kondisi relatif utuh.

Menurut laporan media Iran, drone-drone tersebut dikirim Israel ke UEA pada minggu kedua sejak pecahnya perang Iran. Bahkan disebutkan bahwa militer Israel secara langsung mengantarkan drone itu ke pangkalan militer UEA.

Jika informasi tersebut benar, maka hal ini menunjukkan bahwa negara-negara sekutu Teluk masih aktif terlibat dalam tekanan militer terhadap Iran, meskipun Amerika Serikat dan Israel untuk sementara tampak mengurangi serangan langsung mereka.

Timur Tengah Dinilai Mulai Bergerak ke Pola “Perang Perwakilan”

Sejumlah analis internasional menilai perkembangan terbaru ini memperlihatkan perubahan pola konflik di Timur Tengah.

Alih-alih hanya melibatkan Amerika Serikat dan Israel secara langsung, konflik kini mulai bergerak menuju pola “proxy war” atau perang perwakilan, di mana negara-negara sekutu bertindak mewakili kepentingan aliansi yang lebih besar.

Artinya, meskipun Washington dan Tel Aviv untuk sementara menahan diri dari operasi besar secara terbuka, negara-negara Teluk kemungkinan besar tetap akan bergerak untuk menekan Iran melalui operasi militer terbatas, serangan drone, maupun tekanan ekonomi dan jalur perdagangan.

Dengan negosiasi nuklir yang masih belum mencapai titik temu, sementara operasi militer dan blokade terus berlangsung, kawasan Timur Tengah kini kembali berada di ambang fase konflik yang jauh lebih berbahaya. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Timwas DPR RI Nilai Pelayanan Haji di Sektor 1 dan 9 Makkah Memadai
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Parlemen Slovenia Pilih Janez Jansa Jadi Perdana Menteri untuk Kali Keempat
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
"Blackout" Sumatera dan Rapuhnya Infrastruktur Publik
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Raja Assist Championship Bakal Dipanggil Timnas Indonesia? John Herdman Beri Pernyataan Tegas soal Kualifikasi Pemain di Skuad Garuda
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Ahli Hukum soal Diskresi Polri saat Berantas Begal: Boleh Asal Tak Langgar HAM
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.