Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengkritisi penggunaan susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Organisasi profesi itu menilai distribusi susu formula lanjutan dan susu pertumbuhan secara massal berisiko mengganggu keberhasilan pemberian ASI eksklusif, sehingga petunjuk teknis penggunaannya perlu ditinjau ulang.
Pengajar Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair, Ari Baskoro, menegaskan air susu ibu tetap menjadi sumber nutrisi terbaik bagi bayi sejak lahir hingga usia enam bulan. Dalam fase itu, bayi tidak memerlukan tambahan makanan atau minuman lain, kecuali obat atau vitamin atas indikasi tertentu.
“ASI eksklusif berperan penting bagi optimalisasi tumbuh kembang dan induksi sistem imun bayi. Berbeda dengan ASI, Sufor merupakan produk pangan olahan diet khusus. Harusnya diindikasikan secara individual, terhadap kondisi medis tertentu. Jadi bukan didistribusikan secara massal,” tulis Ari Baskoro dalam keterangan tertulis yang diterima suarasurabaya.net, Sabtu (23/5/2026).
Ia mengingatkan, pemberian susu formula tanpa pengawasan dapat mengubah kebiasaan menyusui di masyarakat. Kondisi itu dikhawatirkan membuat ASI dihentikan terlalu dini, padahal dampaknya bisa memengaruhi kesehatan bayi dalam jangka panjang.
“Jika pemberian susu formula dijalankan tanpa pengawasan, berpotensi memengaruhi kebiasaan menyusui di masyarakat. Terhentinya pemberian ASI terlalu dini, berisiko bagi masa depan kesehatan bayi. Produksi ASI pun, akan sulit mencapai seperti kondisi awal,” tambahnya.
Kontroversi itu telah direspons Badan Gizi Nasional (BGN). Lembaga tersebut menegaskan susu formula lanjutan untuk bayi usia 6–12 bulan dan susu pertumbuhan untuk usia 12–36 bulan merupakan produk legal, tetapi penggunaannya hanya ditujukan untuk intervensi gizi tertentu berdasarkan indikasi medis. Artinya, susu formula tidak dimaksudkan sebagai pengganti ASI.
Dalam penjelasannya, Ari Baskoro menyoroti bahwa ASI mengandung makronutrien, mikronutrien, serta berbagai komponen biologis aktif yang penting bagi pertumbuhan dan sistem kekebalan tubuh bayi. ASI juga mengandung antibodi, laktoferin, lisozim, dan mikroorganisme baik yang berperan dalam menjaga mikrobiota usus dan perlindungan terhadap infeksi.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa ASI bisa menularkan penyakit tertentu bila ibu memiliki kondisi medis tertentu atau terpapar zat berbahaya, seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang.
Ari juga menyinggung temuan ilmiah terbaru mengenai RNA-mikro dalam ASI yang diduga berperan penting dalam regulasi aktivitas gen. Menurutnya, riset mengenai komponen ini semakin memperkuat pandangan bahwa ASI bukan sekadar makanan, tetapi bagian penting dari fondasi kesehatan anak. Berdasarkan berbagai studi, ASI eksklusif disebut memberi kontribusi besar bagi pembentukan sistem imun, bahkan manfaatnya dinilai semakin kuat bila pemberian ASI dilanjutkan hingga usia 24 bulan.
Namun, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2022 serta laporan Kementerian Kesehatan 2023, hanya sekitar 52,5 persen bayi yang mendapatkan ASI eksklusif. Padahal WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun dengan makanan pendamping. Rendahnya angka itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari minimnya dukungan di tempat kerja, kurangnya edukasi, hingga mitos bahwa ASI saja tidak cukup atau susu formula lebih bergizi.
Ari menilai ASI merupakan nutrisi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Karena itu, menurut dia, kebijakan apa pun yang menyangkut pemberian susu formula dalam program publik harus benar-benar berhati-hati agar tidak justru melemahkan komitmen pemberian ASI eksklusif.(iss)




