HARIAN FAJAR, MAKASSAR – Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan angkat suara membela Anies Baswedan. Kritik mantan gubernur DKI Jakarta itu terhadap kondisi nasional dinilai terlalu pesimistis oleh politikus Partai Golkar, Idrus Marham.
Ketua DPW Gerakan Rakyat Sulsel, Asri Tadda, menegaskan bahwa menyampaikan keresahan masyarakat bukanlah bentuk pesimisme, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dalam demokrasi.
Menurutnya, kritik yang disampaikan Anies lahir dari realitas yang benar-benar dirasakan masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi, mahalnya kebutuhan hidup, hingga sulitnya lapangan pekerjaan.
Asri Tadda menilai optimisme tidak bisa dibangun dengan menutup mata terhadap persoalan yang dihadapi rakyat.
“Kami menghormati pandangan Pak Idrus Marham. Namun yang perlu dipahami adalah bahwa optimisme yang sehat tidak lahir dari menutup mata terhadap persoalan. Optimisme justru lahir dari keberanian mengakui masalah dan kesungguhan untuk menyelesaikannya,” tegas Asri dalam keterangannya di Makassar, Sabtu (23/5/2026).
Ia mengatakan berbagai keluhan masyarakat saat ini memang nyata terjadi di lapangan. Karena itu, menyampaikan persoalan tersebut bukanlah upaya membangun pesimisme publik.
“Ketika rakyat mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya hidup yang semakin berat, dan peluang ekonomi yang makin sempit, maka menyampaikan fakta itu bukan pesimisme. Itu adalah kejujuran. Yang berbahaya justru jika elite politik lebih sibuk menjaga narasi optimisme daripada menjawab substansi persoalan yang sedang dihadapi rakyat,” ujarnya.
Kritik Bukan Serangan PolitikAsri juga mengingatkan agar kritik terhadap pemerintah tidak selalu dipandang sebagai serangan politik.
Menurutnya, dalam sistem demokrasi, kritik merupakan hak publik yang dijamin konstitusi dan menjadi bagian penting dalam pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.
“Jangan sampai kita terjebak pada logika bahwa setiap kritik terhadap pemerintah harus dianggap sebagai serangan politik. Jika ada persoalan yang disampaikan, maka jawablah persoalannya. Jangan sibuk menyerang orang yang menyampaikan kritik,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kritik tidak harus diawali pujian agar dianggap konstruktif.
Dinamika Global Tak Boleh Jadi AlasanDalam pernyataannya, Asri Tadda juga menyinggung kondisi ekonomi global yang sering dijadikan alasan atas berbagai persoalan di dalam negeri.
Meski mengakui dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi, ia menilai pemerintah tetap harus hadir untuk meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
“Tidak ada yang membantah bahwa dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi. Tetapi tugas pemerintah justru memastikan dampaknya bisa diminimalkan terhadap rakyat. Karena itu, ketika ada kritik terhadap kondisi yang terjadi, respons yang dibutuhkan adalah penjelasan dan solusi, bukan sekadar ajakan untuk tetap optimistis,” ujarnya.
Kritik dan Optimisme Bisa Berjalan BersamaSebagai organisasi yang lahir dari partisipasi warga negara, Gerakan Rakyat Sulsel menilai kritik dan optimisme bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Asri menegaskan bahwa kecintaan terhadap Indonesia justru harus diwujudkan dengan keberanian menyampaikan fakta dan persoalan yang ada.
“Kami percaya pada masa depan Indonesia. Tetapi kecintaan terhadap bangsa tidak bisa diwujudkan dengan menutupi masalah. Cinta kepada Indonesia mesti diwujudkan dengan keberanian mengatakan yang benar, sekalipun itu tidak nyaman didengar,” tambah Asri.
“Kritik adalah bagian dari ikhtiar memperbaiki keadaan, bukan upaya menjatuhkan negara,” tegas Ketua Partai Gerakan Rakyat Sulsel itu.
Ia pun menyindir sebagian elite politik yang dinilai lebih sibuk merespons kritik dibanding menyelesaikan persoalan rakyat.
“Jangan salah sasaran. Yang harus dilawan adalah kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan kesulitan hidup rakyat. Bukan orang yang mengingatkan bahwa masalah-masalah itu ada,” tegas dia.
Ajakan Bangun Demokrasi yang Lebih DewasaDi akhir pernyataannya, Asri Tadda mengajak seluruh elemen bangsa membangun budaya demokrasi yang sehat dan terbuka terhadap kritik.
“Demokrasi yang sehat tidak meminta rakyat diam demi menjaga optimisme. Demokrasi yang sehat memberi ruang bagi kritik agar pemerintah semakin kuat dan kebijakan semakin tepat,” tukasnya.
“Indonesia tidak membutuhkan optimisme yang dipaksakan. Indonesia membutuhkan optimisme yang lahir dari kejujuran, keberanian, dan kerja nyata,” pungkas Asri.




