Pasar Penyintas Menjadi Simbol Kebangkitan Korban Gempa 2006

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Matahari bersinar cerah ketika Yuda (47) merapikan lapak Pippa Kitchen yang dikelola oleh Natia (46), istrinya, di Lapangan Garuda, kompleks Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). Pagi itu, keluarga tersebut mendapat kesempatan menjual produk andalan mereka dalam kegiatan Pasar Penyintas bersama puluhan pegiat UMKM lainnya yang merupakan korban gempa Yogyakarta tahun 2006.

Meski hampir 20 tahun berlalu, Yuda masih memiliki memori pahit tentang kejadian gempa 5,9 skala Richer pada 27 Mei 2006 yang mengubah jalan hidupnya itu. "Bangunan tobong genting kami di kawasan Godean roboh akibat gempa. Sejak saat itu, usaha keluarga kami yang sudah berjalan puluhan tahun berhenti total," ucap Yuda.

Sejak peristiwa itu, Yuda dan keluarganya banting setir menjadi pengusaha kuliner. Setelah dua dasawarsa berselang, usaha tersebut terus menjadi pendorongnya untuk bangkit dan menjadi penopang hidup keluarganya hingga saat ini.

Sejumlah penyintas gempa 2006 lainnya turut menggelar bermacam produk mereka dengan kekhasan masing-masing dalam acara Apel Kesiapsiagaan Peringatan 20 Tahun Gempa Jogja dan Jawa Tengah 2006 itu. Selain menampilkan produk kuliner, sejumlah penyintas mengedepankan produk kerajinan berbahan kulit maupun tekstil.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Lilik Kurniawan, kegiatan Pasar Penyintas merupakan upaya Pemerintah dalam membantu perekonomian masyarakat yang terdampak bencana. Peserta kegiatan itu menjadi bukti kebangkitan perekonomian yang diharapkan dapat menginspirasi masyarakat yang pernah menjadi korban bencana.

Kegiatan apel itu juga dihadiri oleh sukarelawan dari berbagai instansi yang selalu bergerak cepat dalam menangani bencana. Menurut Lilik, Peringatan 20 tahun pascagempa yang merenggut lebih dari 5.700 korban jiwa itu menjadi momen untuk memperkuat memori kolektif bangsa dalam memperkuat pengurangan risiko bencana.

Gempa tersebut tercatat berdampak pada rusaknya lebih dari 200.000 rumah dan menimbulkan kerugian sekitar Rp 2 triliun. Setelah dua dekade, warga di kawasan rawan bencana hendaknya tidak lengah dan senantiasa siaga menghadapi ancaman bencana yang dapat datang tiba-tiba.

Baca JugaSMA di Zona Rawan Gempa Yogyakarta Perkuat Mitigasi Bencana
Baca JugaUpaya Desa Menjaga Kearifan Lokal untuk Inspirasi Global

  

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Respon Protes Pembongkaran PKL Cicadas, Sebut Trotoar Bukan Tempat Berdagang
• 5 jam lalugrid.id
thumb
FTSE Russell Depak 4 Saham RI, Efektif Mulai 22 Juni 2026
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Tolak Mentah-mentah, Pascal Struijk Tegaskan Timnas Indonesia Bukan Pilihan Internasionalnya
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Komdigi Blokir Polymarket yang Terindikasi Judol Berkedok Prediction Market
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polda Metro Jaya Akan Limpahkan Perkara Roy Suryo Cs ke Kejaksaan, Refly: Pernyataan Normatif
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.