Pontianak (ANTARA) - Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad memperkuat pengawasan udara di perbatasan Kalimantan Barat.
"Langkah ini dilakukan melalui pelatihan intensif kemampuan anti-drone guna mengantisipasi penyalahgunaan pesawat tanpa awak di wilayah perbatasan," kata Komandan Satgas Pamtas RI–Malaysia Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad, Letkol Arh. Andy Qomarudin, di Entikong, Sabtu.
Dijelaskan, pembekalan itu penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi, khususnya potensi penyalahgunaan drone.
"Personel harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman di daerah operasi," katanya.
Dia mengatakan penguasaan teknologi pengawasan dan penanggulangan drone menjadi kebutuhan penting di tengah berkembangnya ancaman keamanan berbasis teknologi di wilayah perbatasan.
Baca juga: Anggota DPR: Perkuat pengamanan perbatasan RI-Malaysia di Kaltara
Pelatihan yang dilaksanakan di wilayah Entikong tersebut melibatkan pemateri teknis dari Yonkomlek Puskomlekad dengan materi yang difokuskan pada kemampuan deteksi dini, identifikasi ancaman udara, hingga langkah penanggulangan (counter-drone) yang dapat diterapkan langsung di lapangan.
Sebanyak 24 personel inti Satgas mengikuti simulasi serta studi kasus yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan karakteristik wilayah perbatasan Kalimantan Barat.
"Selain kawasan perlintasan utama di Entikong, pelatihan serupa juga diperkuat di kawasan pesisir Pantai Temajuk sebagai langkah memperkuat pengawasan sektor perbatasan laut dan pantai," katanya.
Wilayah perbatasan Kalimantan Barat selama ini memiliki tantangan keamanan yang kompleks, mulai dari keberadaan jalur tidak resmi atau jalur tikus, potensi penyelundupan barang ilegal, hingga ancaman spionase lintas batas.
Kehadiran teknologi drone dinilai dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas ilegal apabila tidak diantisipasi secara maksimal.
Baca juga: 450 prajurit Kodam Pattimura rampungkan misi amankan perbatasan RI-PNG
Melalui peningkatan kemampuan anti-drone tersebut, TNI AD berupaya memperkuat sistem pengamanan perbatasan dengan mengintegrasikan pengawasan dimensi udara yang selama ini dinilai sulit dijangkau melalui patroli konvensional.
"Langkah itu juga menjadi bagian dari upaya modernisasi pengamanan wilayah perbatasan guna menjaga stabilitas keamanan dan kedaulatan negara di kawasan perbatasan RI–Malaysia, khususnya di Kalimantan Barat," kata dia.
"Langkah ini dilakukan melalui pelatihan intensif kemampuan anti-drone guna mengantisipasi penyalahgunaan pesawat tanpa awak di wilayah perbatasan," kata Komandan Satgas Pamtas RI–Malaysia Yonarhanud 1/PBC/1 Kostrad, Letkol Arh. Andy Qomarudin, di Entikong, Sabtu.
Dijelaskan, pembekalan itu penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi, khususnya potensi penyalahgunaan drone.
"Personel harus memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman di daerah operasi," katanya.
Dia mengatakan penguasaan teknologi pengawasan dan penanggulangan drone menjadi kebutuhan penting di tengah berkembangnya ancaman keamanan berbasis teknologi di wilayah perbatasan.
Baca juga: Anggota DPR: Perkuat pengamanan perbatasan RI-Malaysia di Kaltara
Pelatihan yang dilaksanakan di wilayah Entikong tersebut melibatkan pemateri teknis dari Yonkomlek Puskomlekad dengan materi yang difokuskan pada kemampuan deteksi dini, identifikasi ancaman udara, hingga langkah penanggulangan (counter-drone) yang dapat diterapkan langsung di lapangan.
Sebanyak 24 personel inti Satgas mengikuti simulasi serta studi kasus yang disesuaikan dengan kondisi geografis dan karakteristik wilayah perbatasan Kalimantan Barat.
"Selain kawasan perlintasan utama di Entikong, pelatihan serupa juga diperkuat di kawasan pesisir Pantai Temajuk sebagai langkah memperkuat pengawasan sektor perbatasan laut dan pantai," katanya.
Wilayah perbatasan Kalimantan Barat selama ini memiliki tantangan keamanan yang kompleks, mulai dari keberadaan jalur tidak resmi atau jalur tikus, potensi penyelundupan barang ilegal, hingga ancaman spionase lintas batas.
Kehadiran teknologi drone dinilai dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas ilegal apabila tidak diantisipasi secara maksimal.
Baca juga: 450 prajurit Kodam Pattimura rampungkan misi amankan perbatasan RI-PNG
Melalui peningkatan kemampuan anti-drone tersebut, TNI AD berupaya memperkuat sistem pengamanan perbatasan dengan mengintegrasikan pengawasan dimensi udara yang selama ini dinilai sulit dijangkau melalui patroli konvensional.
"Langkah itu juga menjadi bagian dari upaya modernisasi pengamanan wilayah perbatasan guna menjaga stabilitas keamanan dan kedaulatan negara di kawasan perbatasan RI–Malaysia, khususnya di Kalimantan Barat," kata dia.





