STASIUN Manggarai hari ini bukan lagi sekadar tempat orang naik dan turun kereta. Kawasan ini perlahan berubah menjadi jantung baru pergerakan Jakarta.
Dari pagi hingga malam, arus manusia terus berdatangan dari Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, hingga Jakarta Kota.
Ribuan orang berpindah jalur, mengejar waktu, dan menjadikan Manggarai sebagai titik temu utama transportasi perkotaan Jabodetabek.
Di atas peron yang semakin padat, pemerintah melihat peluang besar: jika seluruh pergerakan manusia itu dapat diintegrasikan dengan kawasan bisnis, hunian, dan ruang publik, maka Manggarai bisa berkembang menjadi pusat ekonomi baru berbasis transportasi rel.
Gagasan itulah yang kemudian melahirkan rencana besar pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) Manggarai.
Pemerintah bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) ingin mengubah kawasan stasiun ini menjadi pusat aktivitas modern yang disebut-sebut akan setara dengan SCBD.
Konsepnya tidak hanya membangun gedung tinggi di sekitar rel kereta, tetapi menciptakan kawasan perkotaan yang terintegrasi langsung dengan transportasi publik.
Penumpang KRL nantinya tidak hanya datang untuk transit, tetapi juga bisa bekerja, tinggal, berbelanja, hingga menikmati fasilitas publik dalam satu kawasan yang saling terkoneksi.
Di atas dan sekitar stasiun direncanakan berdiri apartemen, hotel, gedung perkantoran, area komersial, ruang terbuka publik, hingga jalur pedestrian dan Skybridge yang menghubungkan berbagai titik aktivitas tanpa harus bersentuhan langsung dengan kemacetan jalan raya.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin bahkan menyebut kawasan Manggarai akan dikembangkan menjadi “CBD keduanya Jakarta”.
Baca juga: Blackout Sumatera Berulang: Diagnosa atas Bias Investasi Kelistrikan
Luas kawasan yang dipersiapkan mencapai sekitar 62 hektar, meliputi area Stasiun Manggarai, Balai Yasa Manggarai, serta perumahan dinas KAI di sekitarnya.
Ambisinya besar. Manggarai ingin ditempatkan sebagai simbol baru transformasi kota berbasis rel, mengikuti pola pengembangan yang selama ini dianggap berhasil di Tokyo, Hong Kong, hingga Singapura.
Di kota-kota tersebut, stasiun tidak lagi dipandang hanya sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga mesin ekonomi perkotaan yang menghasilkan nilai bisnis sangat besar.
Namun, di balik gedung modern dan konsep “SCBD berbasis rel” itu, ada persoalan mendasar yang belum benar-benar selesai.
Pertama adalah soal akses kawasan yang hingga hari ini masih jauh dari ideal untuk menopang fungsi Central station terbesar di Indonesia.
Kedua adalah persoalan status aset dan tata kelola lahan yang menjadi pondasi utama proyek TOD Manggarai.
Tanpa penyelesaian dua masalah tersebut, proyek ini berisiko menjadi pembangunan megah yang indah di atas kertas, tetapi sulit berjalan optimal di lapangan.
Akses kawasanSecara historis, Manggarai memang memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem perkeretaapian Jakarta.
Stasiun ini dibangun sejak era Hindia Belanda dan mulai beroperasi pada 1 Mei 1918, sebagai titik persilangan jalur selatan dan timur Pulau Jawa.
Dalam perkembangan berikutnya, terutama setelah proyek Double-Double Track dan penataan ulang jaringan KRL Jabodetabek, fungsi Manggarai berubah drastis.
Pemerintah menetapkannya sebagai stasiun sentral KRL Jabodetabek. Hampir seluruh perjalanan commuter line kini bertumpu di Manggarai sebagai titik transit utama sebelum penumpang didistribusikan ke berbagai koridor lain di Jakarta.





