Industri Baja Nasional Menggantung Asa ke Pembenahan Pasar

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Industri baja nasional dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar, menyusul rendahnya tingkat konsumsi baja per kapita Indonesia dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Kondisi itu dipandang sebagai peluang strategis untuk mendongkrak utilisasi pabrik baja domestik sekaligus memperkuat industrialisasi.

Direktur Komersial, Pengembangan Usaha dan Portofolio PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) Hernowo mengatakan konsumsi baja per kapita Indonesia saat ini baru berada di kisaran 65–66 kilogram per orang per tahun. Angka itu masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang telah mencapai sekitar 150 kilogram per kapita.

“Di Asia Tenggara konsumsi baja kita paling rendah. Padahal konsumsi baja merupakan salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa,” ujar Hernowo, saat ditemui Bisnis, akhir pekan lalu. 

Menurutnya, kebutuhan dan konsumsi baja suatu negara berpotensi makin tinggi seiring dengan kemajuan yang meningkat. Karena itu, dia memandang rendahnya konsumsi baja domestik justru menunjukkan masih terbukanya peluang pertumbuhan industri baja nasional.

Hernowo menjelaskan bahwa konsumsi baja Indonesia dapat menyamai level rata-rata negara-negara di Asia Tenggara apabila konsumsi baja domestik mampu meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 130 kilogram per kapita.

Baca Juga : Tata Kelola Ekspor Baru Diyakini Perkuat Rupiah & Industri Baja Nasional

Dia melanjutkan besarnya potensi pasar Indonesia juga menjadi alasan banyak produsen baja asing, khususnya dari Cina, tertarik masuk ke pasar domestik. Di sisi lain, kondisi tersebut memunculkan tantangan serius bagi produsen lokal di tengah derasnya arus impor baja murah.

Persaingan industri baja saat ini dia sebut tidak lagi sekadar antarkorporasi, melainkan telah menjadi kompetisi antarnegara. “Kalau kita bersaing sebagai perusahaan saja pasti gak bisa. Makanya baja ini harus di-handle government to government,” katanya.

Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara menyampaikan bahwa derasnya arus impor baja murah telah memberi dampak signifikan terhadap industri baja domestik. Tekanan impor membuat harga pasar dalam negeri tertekan sehingga margin produsen lokal terus menyusut.

Menurut dia, kondisi tersebut menyebabkan utilisasi industri baja nasional sulit meningkat ke level ideal. Saat ini, utilisasi pabrik baja nasional masih berada di kisaran 52%–52,7%, jauh di bawah tingkat sehat industri yang diperkirakan mencapai sekitar 80%.

“Tekanan impor murah menyebabkan harga pasar domestik tertekan, margin industri mengecil, dan utilisasi pabrik baja nasional sulit naik ke tingkat yang sehat,” sebutnya.

Harry menuturkan dampak kondisi tersebut tidak hanya tecermin pada penurunan produksi, tetapi juga mulai mengganggu keberlanjutan investasi industri baja nasional. Jika tekanan impor terus berlangsung, lanjutnya, industri berisiko menghadapi penundaan investasi, pelemahan daya saing, gangguan arus kas, hingga potensi pengurangan tenaga kerja.

“Industri baja adalah industri padat modal dan strategis, sehingga kepastian pasar domestik menjadi faktor penting bagi keberlanjutan investasi,” tegas Harry.

Oleh sebab itu, IISIA menilai penguatan instrumen perlindungan perdagangan menjadi krusial untuk menjaga industri baja nasional di tengah kelebihan kapasitas baja global yang memicu banjir produk impor ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca Juga : Kantongi Sertifikat CBAM Serta 100 Persen Lokal, Baja Lapis Indonesia Tembus Eropa dan AS

Harry mengatakan kebijakan safeguard, antidumping, maupun tingkat komponen dalam negeri (TKDN) merupakan instrumen penting dalam melindungi industri baja nasional. Namun, efektivitas kebijakan tersebut dinilai masih bergantung pada kecepatan implementasi, ketepatan sasaran, hingga konsistensi pengawasan di lapangan.

Selama ini instrumen trade remedies kerap dipandang bersifat reaktif karena membutuhkan proses pembuktian yang panjang. Di sisi lain, arus impor dapat bergerak cepat melalui perubahan kode HS, perubahan negara asal, maupun praktik circumvention.

Dia lantas berharap kebijakan TKDN didukung pemetaan kapasitas produksi baja domestik yang akurat, sistem verifikasi yang kuat, serta komitmen pengguna akhir untuk benar-benar memprioritaskan produk lokal ketika sudah tersedia secara teknis dan komersial.

“IISIA memandang perlindungan industri baja nasional bukan bentuk proteksionisme sempit, melainkan bagian dari fair trade, penguatan industri strategis, dan upaya menjaga kemandirian industri nasional di tengah kelebihan kapasitas baja global,” tuturnya. 

Baja Lokal Tembus Standar Internasional

Di tengah serangkaian tantangan ini, produk baja lapis buatan Indonesia baru-baru ini mendapat pengakuan di pasar global setelah berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan Eropa, di tengah ketatnya hambatan dagang internasional serta penerapan standar emisi karbon yang semakin tinggi.

Produsen baja lapis nasional PT Tata Metal Lestari (TML) pada Jumat (22/5/2026) diketahui melepas ekspor produk baja lapis ke Amerika Serikat dan Polandia dari fasilitas produksinya di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Ekspor tersebut dinilai menjadi pencapaian penting bagi industri baja nasional karena untuk pertama kalinya produk baja lapis Indonesia memperoleh compliance certificate Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa.

Baca Juga : Jalan Berliku Ekspansi Kawasan Industri: Terganjal Lahan hingga Regulasi

VP Operations Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi mengatakan, capaian tersebut menunjukkan produk baja nasional mampu memenuhi standar keberlanjutan dan ketertelusuran atau traceability yang kini menjadi syarat utama pasar global.

“Untuk pertama kalinya, baja lapis Indonesia mendapatkan Pre-Validation Report atau CBAM,” ujarnya. 

Dalam skema CBAM Uni Eropa, industri baja Indonesia sebelumnya disebut memperoleh default value emisi karbon sebesar 8,2 ton CO2 per ton produk. Namun, melalui proses verifikasi awal, Tata Metal Lestari berhasil mencatatkan emisi sekitar 2,2 ton CO2 per ton produk, setara dengan standar industri baja di Jepang dan sejumlah negara maju lainnya.

Menurut Stephanus, capaian tersebut membuka peluang lebih besar bagi produk baja nasional untuk masuk ke pasar Eropa yang kini memperketat pelaporan emisi karbon terhadap produk manufaktur impor.

Selain itu, produk ekspor TML juga menggunakan 100% baja substrat hasil proses melt and pour dalam negeri yang dipasok PT Krakatau Steel Tbk. Penggunaan bahan baku domestik itu dinilai memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekaligus memenuhi tuntutan traceability dari pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Dia menegaskan keberhasilan ekspor tersebut sekaligus membuktikan bahwa produk baja Indonesia mampu memenuhi ketentuan perdagangan internasional di tengah tuduhan praktik circumvention yang kerap diarahkan kepada produk baja Asia. 

“Amerika menuduh kita menggunakan baja dari Vietnam maupun China. Tapi ini bisa kita buktikan bahwa hari ini baja Indonesia 100% diproduksi di Indonesia dan masuk ke Amerika,” katanya.

Adapun produk yang diekspor meliputi baja lapis aluminium seng bermerek Nexalume, baja lapis seng Nexium, dan baja lapis warna Nexcolor. Ekspor ke Polandia diketahui memperluas pasar Eropa bagi TML setelah sebelumnya menembus Amerika Serikat, Australia, Asia Tenggara, hingga Amerika Latin.

Stephanus menjelaskan pemilihan pasar Amerika Serikat dan Eropa dilakukan karena kedua kawasan tersebut dikenal sebagai pasar paling ketat bagi industri baja global. Karena itu, keberhasilan menembus dua pasar tersebut menjadi indikator daya saing produk baja nasional di tingkat internasional. “Kalau kita bisa masuk Amerika dan Eropa, pasar lain akan jauh lebih mudah,” tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Film Korea dengan Pemeran Utama Ji Chang Wook, Terbaru Tayang di Cannes 2026
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
Kesaksian Relawan WNI Saat Ditahan Tentara Israel: Saya Dipukul, Diinjak, dan Disetrum
• 16 jam lalukompas.com
thumb
PNM dan MES Dorong Pendampingan UMKM Syariah Lewat Program Mba Maya 2026
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kronologi Pengantin di Bekasi Ditipu WO: Rp 85 Juta Raib, Gedung Belum Lunas
• 7 jam lalukompas.com
thumb
Trump Pertahankan Blokade Maritim hingga Kesepakatan dengan Iran Ditandatangani
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.