Timur Tengah Sengsara Gegara Miskalkulasi Amerika Soal Serangan ke Iran, Kata Pengamat

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Serangan dan tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai justru memperburuk penderitaan negara-negara di Timur Tengah serta memicu ancaman krisis energi global.

Pernyataan itu disampaikan profesor ilmu politik dari Kuwait University, Abdullah Alshayji, yang menyebut perang melawan Iran sejak awal merupakan “perang pilihan”, bukan kebutuhan mendesak.

Baca Juga: Senator Amerika Akui Negaranya Gagal Tekuk Iran: Mereka Justru Makin Kuat Setelah Perang

Menurut Alshayji, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah melakukan salah perhitungan besar dengan menganggap Iran berada di ambang kehancuran.

Trump believed that Iran was on its knees, could be toppled [and] the regime could be gone,” kata Alshayji dalam program Inside Story Al Jazeera.

Namun kenyataannya, Iran justru mampu bertahan dan kini dinilai memiliki posisi tawar lebih kuat dalam negosiasi.

Clearly it was a big miscalculation,” ujarnya.

Alshayji menilai dampak konflik tersebut kini dirasakan langsung oleh masyarakat Timur Tengah.

And because of that, we are suffering in this region,” katanya.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik Iran-AS telah memicu salah satu ancaman krisis energi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, ketegangan di kawasan Teluk membuat pasar global khawatir terhadap stabilitas distribusi minyak dunia, terutama terkait ancaman terhadap Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak global yang selama ini menjadi titik sensitif dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Di tengah ketegangan tersebut, Iran disebut memanfaatkan tekanan domestik yang kini dihadapi Trump, termasuk kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat.

Situasi itu dinilai membuat Washington semakin sulit memaksakan syarat-syaratnya kepada Teheran.

Sementara itu, proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung meski belum mencapai kesepakatan final.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa sebuah kesepakatan besar antara AS, Iran, dan beberapa negara lain pada dasarnya telah dirundingkan.

Namun belakangan Trump mengakui perjanjian tersebut belum sepenuhnya selesai dinegosiasikan.

Pemerintah Iran juga mengonfirmasi adanya kemajuan dalam pembicaraan tersebut.

Media semi-resmi Iran, Tasnim News Agency melaporkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup peta jalan untuk mengakhiri konflik di berbagai front.

Kesepakatan itu juga disebut membuka peluang pelonggaran sanksi terhadap ekspor minyak Iran selama negosiasi berlangsung.

Meski demikian, sejumlah isu utama masih menjadi hambatan besar, termasuk program nuklir Iran, pencairan aset Iran yang dibekukan, hingga cakupan gencatan senjata di Lebanon.

Baca Juga: Ini Profil Sosok Terduga Mata-Mata China di Jamuan Delegasi Amerika Serikat, Namanya Cheng Cheng

Kondisi tersebut membuat kawasan Timur Tengah tetap berada dalam ketidakpastian, sementara dampak ekonominya mulai dirasakan secara luas oleh dunia internasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Permendag Ekspor SDA Lewat Danantara Sumberdaya Ditarget Rampung Hari Ini
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Kemlu Usai 9 WNI Ditangkap Israel Tiba di Tanah Air: Buah Diplomasi Intensif
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Penyebab Putusnya Kabel Transmisi Muara Bungo–Sungai Rumbai Masih Diselidiki
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gejala DBD dan Hantavirus Mirip, Musim Hujan Berpotensi Picu Lonjakan Kasus
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Merah Rp81.300/Kg, Telur Ayam Rp33.100/Kg
• 3 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.