Waktu berkualitas yang dihabiskan bersama anak membentuk diri mereka jauh lebih besar daripada investasi materi apa pun.
Walker Larson
Apa sumber daya paling berharga di dunia?
Bukan uang tunai, emas, atau perak. Bukan properti. Bahkan bukan buku—meskipun penulis mengatakan ini sebagai seorang pecinta buku. Yang paling berharga adalah waktu. Waktu adalah sumber daya paling berharga karena paling terbatas. Sekali hilang, ia hilang selamanya. Uang masih bisa dicari lagi, rumah masih bisa dibeli lagi, tetapi waktu kita terbatas dan berlalu sangat cepat.
Lebih dari itu, waktu adalah sumber daya yang memungkinkan kita memperoleh semua sumber daya lainnya, sehingga menjadi yang paling kuat di antara semuanya. Tanpa waktu, kita tidak bisa mengalami atau menikmati apa pun dalam hidup. Waktu adalah medium kehidupan itu sendiri.
Di bagian belakang salah satu jurnal saya, ada daftar kebiasaan yang ingin saya bangun. Saya fokus pada satu atau dua kebiasaan dalam satu waktu, lalu setelah menjadi rutinitas, saya berpindah ke kebiasaan berikutnya.
Salah satu kebiasaan yang cukup lama ada di daftar itu adalah: bermain dengan putri saya setiap hari. Saya terus berkata pada diri sendiri bahwa setelah berhasil membangun kebiasaan membaca yang baik atau rutinitas olahraga yang baik, saya akan mulai menyediakan waktu khusus ayah dan anak perempuan. Bukan berarti saya sama sekali tidak menghabiskan waktu bersamanya, tetapi itu belum menjadi kebiasaan harian yang teratur.
“Nanti saja dijadikan kebiasaan,” pikir saya. “Saya masih punya banyak waktu.”
Saya terus berpikir seperti itu selama sekitar satu tahun. Tiba-tiba, putri saya sudah berusia 3 tahun, bukan 2 tahun lagi.
Tindakan Lebih Keras daripada Kata-KataSaya pernah mendengar sebuah ungkapan: “Prioritas kita adalah apa yang kita lakukan. Selebihnya hanyalah omongan.”
Kita menunjukkan apa yang benar-benar penting bagi kita melalui apa yang kita gunakan untuk menghabiskan sumber daya paling berharga kita. Jika kita tidak mau benar-benar meluangkan waktu untuk suatu kegiatan, berarti kegiatan itu sebenarnya tidak terlalu penting bagi kita, meskipun kita berpura-pura seolah penting.
Kebenaran ini menghantam saya suatu hari, dan saya menyadari bahwa tidak ada alasan untuk menunda lagi waktu bermain rutin dengan putri saya—bukan minggu depan, bulan depan, atau tahun depan. Tetapi hari ini.
Jika keluarga benar-benar merupakan salah satu prioritas utama dalam hidup saya, maka saya harus meluangkan waktu untuk mereka sebelum hal lain—bahkan sebelum membaca. Selain itu hanyalah kata-kata kosong.
Jadi saya melakukannya.
Dalam buku Raising Good Kids: Back to Family Basics, Ray Guarendi, seorang psikolog klinis, ayah dari 10 anak, dan pakar parenting, menulis:
“Waktu adalah kerangka tempat seluruh keberhasilan keluarga bergantung.
“Butuh waktu untuk membicarakan masalah. Butuh waktu untuk mendisiplinkan anak secara konsisten. Butuh waktu untuk menyampaikan, ‘Kamu penting bagi saya.’ Dibutuhkan waktu dan pengulangan untuk mengajarkan karakter dan moral. Tidak ada jalan pintas. Jika Anda menghemat waktu, Anda sedang mengurangi hampir semua hal lainnya.”
Inilah kenyataan yang sulit diterima: Yang paling dibutuhkan dan diinginkan anak adalah kehadiran orang tua mereka.
Kehadiran membuktikan cinta, memberikan arahan, dan menciptakan kenangan. Kehadiran juga membuka peluang bagi percakapan penting yang mungkin tidak akan pernah terjadi tanpa itu.
Profesor filsafat John Cuddeback, menulis untuk Institute for Family Studies dan sependapat dengan Guarendi.
Ia menulis:
“Anak-anak ‘membutuhkan’—dalam arti penting dari kata itu—interaksi yang teratur dan bermakna dengan kedua orang tua, meskipun jumlahnya tidak harus sama, dan mereka perlu merasakan kehadiran itu sebagai konteks normal dan dapat diandalkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.”
Waktu bersama ini tidak harus rumit agar bermakna: bermain permainan, berjalan-jalan, memasak dan makan bersama, atau bekerja bersama.
Kegiatan-kegiatan sederhana ini—jika dilakukan tanpa gangguan, dengan kehadiran yang bukan hanya fisik tetapi juga emosional dan mental—akan menghasilkan manfaat besar dalam kehidupan anak.
Tania Johnson, seorang psikolog terdaftar dan terapis bermain, menulis untuk Institute of Child Psychology:
“Kehadiran orang tua yang tenang dan penuh perhatian membisikkan, ‘Kamu aman. Kamu dicintai. Kamu diperhatikan.’ Pesan-pesan tenang ini, yang diulang dalam ritme kehidupan sehari-hari, menjadi fondasi tempat rasa percaya diri dan ketangguhan anak dibangun.”
Data Mendukung Naluri KitaData ilmiah juga mendukung semua ini. Sebuah penelitian yang dilakukan di Inner Mongolia University of Technology menemukan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan anak bersama orang tua berkorelasi langsung dengan tingkat kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
Dongxu Li dan Xi Guo, penulis studi tersebut, menulis:
“Untuk setiap tambahan satu jam kebersamaan, kemungkinan kesejahteraan di bawah rata-rata menurun 0,21 persen, kemungkinan kesejahteraan rata-rata menurun 1,68 persen, kemungkinan kesejahteraan di atas rata-rata meningkat 0,31 persen, dan kemungkinan memiliki kesejahteraan sangat baik meningkat 1,62 persen.”
Mereka menemukan bahwa “semakin banyak waktu yang dihabiskan orang tua bersama anak-anak, semakin tinggi tingkat kesejahteraan anak.”
Sejauh pengalaman saya, hal ini memang benar. Menghabiskan 30 menit waktu khusus bersama putri saya setiap hari memberikan banyak manfaat.
Pertama, hal itu membantu saya lebih terhubung dan memahami dirinya, sekaligus memberi kami banyak momen tertawa bersama.
Kedua, tampaknya suasana hatinya menjadi lebih baik—bukan hanya selama waktu bermain atau membaca bersama, tetapi sepanjang hari.
Terakhir, perilakunya secara umum juga lebih baik dibandingkan sebelum saya menerapkan strategi ini. Ia lebih mau mendengarkan dan lebih jarang merengek atau mengeluh.
Salah satu alasannya mungkin karena perilaku mencari perhatian sering kali muncul dari kebutuhan anak akan perhatian. Jadi ketika ia mendapatkan perhatian yang cukup dan merasa yakin bahwa saya benar-benar peduli padanya melalui waktu khusus bersama, ia tidak merasa perlu mencari perhatian dengan cara lain.
Sedikit waktu fokus antara orang tua dan anak setiap hari tampaknya merupakan “senjata rahasia” dalam parenting. Hal itu membuat semua aspek pengasuhan menjadi lebih mudah dan membantu meningkatkan kesejahteraan anak—yang pada akhirnya merupakan keinginan setiap orang tua.
Ini bukan sesuatu yang mewah atau revolusioner. Kadang bahkan terasa membosankan, terutama ketika saya merasa tertekan oleh daftar pekerjaan yang panjang.
Tetapi saat itu terjadi, saya mencoba berhenti sejenak dan mengingatkan diri sendiri:
“Inilah hal paling penting dalam daftar tugas saya saat ini. Inilah prioritas utama. Jadi buktikan dengan meluangkan waktu untuknya. Dalam jangka panjang, hasilnya akan sangat besar.”





