Sebuah studi baru menemukan banyak makanan bayi adalah makanan ultra-proses yang mengandung zat tambahan yang dikaitkan dengan gangguan usus, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), dan obesitas
George Citroner
Para orangtua yang mencari pilihan sehat di rak makanan bayi kemungkinan besar justru membeli produk ultra-proses—terlepas dari apa yang tersirat pada kemasannya.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa 71 persen makanan, minuman, dan camilan untuk bayi dan balita yang dijual di Amerika Serikat tergolong makanan ultra-proses. Menurut sistem klasifikasi NOVA, Ultra-Processed Food atau makanan ultra-proses adalah formulasi industri yang biasanya dibuat dengan lima bahan atau lebih yang tidak umum ditemukan di dapur rumah tangga.
Makanan ultra-proses sering mengandung zat tambahan, gula tambahan, dan bahan yang sangat dimurnikan yang semakin dikaitkan dengan berbagai potensi risiko kesehatan.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients tersebut meneliti data dari foto 651 produk yang diambil dari delapan jaringan supermarket terbesar di Amerika Serikat antara Maret hingga Mei 2023.
Tinggi Zat Tambahan dan GulaPeneliti dari The George Institute for Global Health menemukan bahwa zat tambahan merupakan jenis bahan yang paling umum digunakan dalam makanan bayi, terdapat pada 71 persen produk. Banyak produk memiliki daftar bahan yang sangat panjang, hingga mencapai 56 bahan, terutama pada produk camilan.
Secara keseluruhan, lebih dari 105 jenis bahan tambahan berhasil diidentifikasi. Yang paling umum adalah penguat rasa, ditemukan pada 36 persen makanan; pengental pada 29 persen; pengemulsi pada 19 persen; dan pewarna pada 19 persen produk.
“Pengemulsi berfungsi untuk memperbaiki tekstur dan memperpanjang masa simpan produk makanan,” kata Erica Corwin, ahli diet terdaftar senior di Divisi Gastroenterologi, Hepatologi, dan Nutrisi Pediatrik di Cohen Children’s Medical Center, yang tidak terlibat dalam studi tersebut, kepada The Epoch Times.
“Zat pewarna umum digunakan dalam makanan olahan untuk meningkatkan daya tarik visual atau menggantikan warna yang mungkin hilang selama proses produksi atau pengolahan.”
Contoh makanan bayi ultra-proses meliputi yogurt manis, makanan instan untuk balita, camilan buah, batangan sereal, susu berperisa atau formula balita, serta sereal sarapan bergula.
Makanan bayi ultra-proses juga mengandung gula dan garam dua kali lebih banyak dibandingkan alternatif yang lebih sedikit diproses.
Selain itu, produk ultra-proses cenderung lebih padat kalori akibat tambahan gula dan bahan olahan yang kekurangan serat serta nutrisi lainnya.
Format kemasan juga menunjukkan hal yang sama. Hampir semua produk berukuran camilan tergolong ultra-proses. Produk dalam kemasan pouch, yang penjualannya melonjak hampir 900 persen sejak 2010 karena dianggap praktis, termasuk yang paling banyak diproses.
Mengapa Ini Penting bagi BayiZat tambahan seperti pengemulsi dan pewarna buatan bukan sekadar untuk penampilan.
Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa bahan kimia sintetis yang digunakan sebagai zat tambahan makanan dapat menimbulkan risiko kesehatan. Penelitian mengaitkan beberapa zat tambahan dengan kondisi seperti ADHD, kanker, dan obesitas.
Selain itu, temuan baru menunjukkan bahwa zat tambahan tertentu seperti pengemulsi, pemanis buatan, pewarna, dan pengawet dapat mengganggu mikrobioma usus serta kesehatan saluran pencernaan.
Masa bayi merupakan periode penting dalam membentuk kebiasaan makan seumur hidup.
“Paparan pola makan sejak dini dapat membentuk preferensi jangka panjang, sehingga konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan dapat menyebabkan masalah pola makan dan kesehatan di masa depan,” kata Elizabeth Dunford, peneliti di The George Institute for Global Health sekaligus asisten profesor tambahan di Departemen Nutrisi University of North Carolina, kepada The Epoch Times.
Memberi makan bayi bukan hanya soal kalori, kata Lindsay Malone, ahli diet klinis di Case Western Reserve University, yang juga tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Menurutnya, hal itu juga berkaitan dengan pengenalan rasa dan tekstur.
“Bayi yang diperkenalkan pada berbagai tekstur sejak dini mungkin akan lebih mudah menerima berbagai makanan saat menjadi balita,” ujar Malone. “Terkadang apa yang terlihat sebagai perilaku pilih-pilih makanan sebenarnya hanyalah kurangnya paparan terhadap berbagai rasa dan tekstur selama masa bayi.”
Peraturan U.S. Food and Drug Administration mengklasifikasikan bahan dalam makanan bayi ke dalam dua kategori hukum utama: zat tambahan makanan yang disetujui dan zat yang “secara umum diakui aman.” Meskipun badan tersebut mengawasi penggunaannya, pembuktian keamanan sering kali dibebankan kepada produsen, bukan lembaga pengawas itu sendiri.
Apa yang Dapat Dilakukan Orang TuaMenurut Malone, orang tua sebenarnya memiliki lebih banyak kendali daripada yang terlihat di rak makanan bayi. Membuat makanan bayi sendiri jauh lebih mudah dan lebih murah daripada yang dibayangkan banyak orang, katanya.
“Caranya sederhana, murah, dan memungkinkan orang tua mengontrol bahan-bahannya,” ujarnya.
Misalnya, cukup dengan mengukus sayuran beku lalu menghaluskannya dengan sedikit air. Rasa dapat diperkaya secara alami menggunakan rempah segar seperti basil. Setelah dihaluskan, campuran dapat dituangkan ke dalam cetakan es batu, dibekukan, lalu disimpan dalam wadah khusus freezer.
“Orang tua tidak harus sempurna,” katanya. “Perubahan kecil menuju makanan utuh dan minim proses dapat secara berarti membentuk selera makan anak dan kesehatan jangka panjangnya.”
Dunford menekankan pentingnya membuat pilihan yang berdasarkan informasi.
“Di Eropa, beberapa produk diwajibkan mencantumkan label peringatan jika mengandung zat tambahan tertentu yang dikaitkan dengan dampak kesehatan merugikan,” katanya. “Secara pribadi, saya ingin di masa depan perusahaan juga mencantumkan fungsi zat tambahan dalam daftar bahan agar konsumen lebih memahami apa yang mereka berikan kepada anak-anak mereka.”




