KOMPAS.com - Fenomena video dan isu pocong viral di media sosial dinilai tidak hanya berkaitan dengan hoaks dan keresahan warga, tetapi juga menyangkut pertimbangan moral pihak yang membuat maupun menyebarkan konten tersebut.
Psikolog sekaligus Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim, mengatakan seseorang perlu memikirkan dampak sosial sebelum mengunggah konten yang berpotensi memicu ketakutan atau kepanikan publik.
“Nah ini yang harus diperhatikan. Mereka itu sudah tahu dampaknya untuk orang lain itu seperti apa,” kata Rose.
Menurut dia, pembuat konten seharusnya tidak hanya memikirkan apakah unggahannya akan ramai ditonton, tetapi juga mempertimbangkan nilai moral dan edukasi dari konten tersebut.
“Orang yang menggunakan kemampuannya untuk masukkan suatu ke media sosial ngelihat impact dari ini apa? Apakah ini mengedukasi orang, ataukah ini ada kaitannya dengan kemampuan hati manusia untuk membedakan baik buruk atau disebut moral,” ujar Rose.
Ia menilai aspek moral dan pendidikan seharusnya menjadi pertimbangan penting sebelum seseorang mengunggah konten ke media sosial.
“Dari sisi moralnya seperti apa, dari sisi segalanya juga pendidikannya ada enggak sih kalau saya upload ini? Itu harus dipertimbangkan,” lanjut dia.
Baca juga: Mengapa Orang Mudah Percaya Hoaks Pocong? Ini Kata Psikolog
Konten Sensasional Dinilai Sengaja Dibuat Agar ViralDalam wawancara tersebut, Rose juga menyinggung fenomena konten viral yang kerap dibuat dengan narasi sensasional agar menarik perhatian publik.
Menurut dia, masyarakat cenderung tertarik pada konten yang memicu rasa takut sekaligus rasa penasaran.
“Orang itu kalau baca berita yang menakutkan dan sebagainya, itu biasanya memang atau ada videonya bahkan itu biasanya mereka pasti akan ngerasa eh takut, enggak nyaman, tegang, dan sebagainya,” kata Rose.
Namun di sisi lain, rasa takut tersebut justru membuat banyak orang tetap mencari dan menonton konten serupa.
“Tapi anehnya memang mereka biasanya suka nyari, makanya kan juga film horor yang kemudian sering ditonton orang, itu karena orang ada penasarannya di sana,” ujar dia.
Rose mengatakan konten-konten viral sering dibuat sedemikian rupa agar memancing perhatian publik.
“Yang membuat ini pasti ada niatannya. Semua orang ingin apa yang dibuatnya itu menjadi viral,” kata Rose.
Ia juga menyinggung bahwa dalam fenomena umum media sosial, viralitas sering dikaitkan dengan keuntungan ekonomi.





