Zakat Melimpah dan Ironi Kesejahteraan Semu di Pelataran Masjid

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Masjid di Indonesia sejatinya lebih dari sekadar tempat sujud. Dengan jumlah melampaui 315 ribu bangunan (merujuk data SIMAS Kemenag 2025), masjid adalah infrastruktur sosial paling masif yang kita miliki. Hampir di setiap jengkal permukiman, menara masjid berdiri tegak.

Secara matematis, jika dikelola dengan visi yang strategis, jaringan ini memiliki kapasitas luar biasa untuk menjadi pusat resolusi ekonomi umat. Sayangnya, realita di lapangan masih jauh dari kata ideal.

Di satu sisi, potensi Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) nasional menyentuh angka yang fantastis: Rp327 triliun. Namun di sisi lain, kita masih sering melihat pemandangan ironis. Di sekitar pelataran masjid yang megah, masih banyak jamaah yang hidupnya kembang kempis, terjerat utang pinjol, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

Ada kontras yang menyayat hati di sini: dananya melimpah, tapi dampak kesejahteraannya terasa semu.

Akar Masalah: Bukan Kurang Dermawan, melainkan "Uang Tidur"

Jika ditarik ke akar masalah, kemandekan ini sama sekali bukan karena umat kurang dermawan. Justru sebaliknya, orang Indonesia diakui dunia sebagai salah satu masyarakat paling royal dalam urusan sedekah. Masalah utamanya murni ada pada sistem pengelolaan.

Banyak dana kas masjid yang pada akhirnya sekadar menjadi "uang tidur" (idle fund). Uangnya aman tersimpan di rekening, tapi tidak bergerak. Dipakai pun biasanya hanya berputar untuk kebutuhan operasional rutin atau berlomba-lomba mempercantik bangunan fisik.

Padahal, jika dikelola dengan pendekatan yang produktif, dana umat tersebut bisa menjelma menjadi modal usaha UMKM, bantuan alat kerja, atau program pemberdayaan yang benar-benar mampu memutus rantai kemiskinan jamaah.

Sertifikasi Amil: Niat Baik yang Terbentur Realita

Negara sebenarnya tidak tinggal diam. Upaya perbaikan sudah dilakukan, salah satunya lewat standardisasi amil (pengelola zakat). Kini ada sertifikasi resmi dari BAZNAS dan BNSP untuk memastikan dana umat dikelola oleh SDM yang profesional dan kompeten.

Secara konsep, langkah ini patut diacungi jempol. Namun di lapangan, muncul anomali baru: biayanya terlampau mahal.

Untuk mengikuti ujian sertifikasi amil, biayanya bisa mencapai Rp1,7 juta. Jika ditambah dengan paket pelatihan lengkap, angkanya bisa membengkak hingga Rp4–5 juta. Sekarang, mari kita bicara realita. Mayoritas pengurus masjid di akar rumput adalah relawan. Mereka bekerja tanpa digaji, murni karena panggilan ibadah. Lalu tiba-tiba, mengapa mereka diwajibkan membayar jutaan rupiah demi "diakui kompeten"?

Di sinilah letak paradoksnya. Standar profesionalisme ingin dikerek naik, tapi aksesnya justru menjadi tembok tebal yang membuat pengelola di tingkat bawah makin sulit berkembang.

Transparansi yang Berhenti di Papan Pengumuman

Akibat keterbatasan SDM dan akses kompetensi tersebut, pengelolaan dana umat di banyak masjid akhirnya stagnan. Transparansi keuangan pun sering kali hanya berhenti pada selembar kertas di papan pengumuman:

"Saldo kas masjid minggu ini: Rp50.000.000."

Laporan itu berhenti pada angka nominal, tapi kehilangan ruh sosialnya. Jarang sekali kita melihat masjid yang mempublikasikan laporan seperti:

  1. Berapa persen dana yang dialokasikan untuk menyelamatkan UMKM sekitar dari rentenir?

  2. Berapa banyak program produktif yang sudah berjalan bulan ini?

  3. Berapa jumlah mustahik (penerima zakat) di lingkungan masjid yang berhasil naik kelas menjadi muzakki (pemberi zakat)?

Ujung-ujungnya, angka kas masjid yang dibanggakan itu hanya sekadar saldo tak bernyawa, bukan solusi ekonomi.

Selama ini, kita terlalu nyaman bersembunyi di balik narasi "yang penting ikhlas". Padahal di era modern yang penuh tantangan ekonomi ini, ikhlas saja tidak cukup. Kita butuh sistem, butuh keahlian manajemen, dan butuh transparansi pengelolaan.

Zakat dan sedekah bukan sekadar ibadah personal, melainkan juga instrumen pemerataan ekonomi. Pertanyaannya sekarang sangat sederhana: Mau terus nyaman menumpuk saldo kas dengan cara lama, atau mulai sadar bahwa ada yang salah dengan cara kita mengelola dana umat?

Sebab, rasanya sungguh tidak pantas jika menara masjid berdiri menjulang dan saldo kasnya melimpah, sementara jamaah di bawah bayang-bayangnya masih harus berjuang sendirian melawan kemiskinan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Siapkan Aturan BLU Tampung Minyak Impor Rusia
• 27 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
RI desak komitmen pelucutan senjata nuklir di tengah kebuntuan NPT
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Pimpinan MPR: Literasi AI bagi disabilitas jalankan amanat konstitusi
• 27 menit laluantaranews.com
thumb
MBG Kini Bisa Di-Review Lewat Aplikasi Ini, Laporkan Jika Tidak Enak dan Tidak Berkualitas!
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Video: Bantuan Pangan Diperpanjang, Harga Bahan Pokok Akan Stabil
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.