JAKARTA, KOMPAS — Menjelang akhir Mei 2026, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih terbatas. Meski sentimen global mendapat dorongan dari draf perdamaian Amerika Serikat-Iran, analis menilai katalis eksternal tersebut belum cukup kuat menopang laju indeks di tengah singkatnya waktu perdagangan pekan ini dan sikap investor yang masih cenderung wait and see.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan, Senin (25/5/2026), masih bergerak fluktuatif. Selama sesi pertama perdagangan, IHSG memberikan sinyal pemulihan dengan menguat 57 poin atau 0,93 persen ke level 6.219.
Indeks saham global pada hari ini mayoritas juga menghijau. Indeks Dow Jones AS menguat 0,58 persen, Indeks Nikkei Jepang menguat 2,87 persen, dan Indeks Shanghai China menguat 0,78 persen. Sementara, Indeks Kospi Korea Selatan menghijau dengan kenaikan 0,41 persen.
Meskipun sentimen global mendukung penguatan situasi perekonomian dalam negeri yang masih bergejolak membuat pelaku pasar dan investor asing cenderung berhati-hati.
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam laporannya siang ini mengatakan, apresiasi di awal pekan ini didorong oleh membaiknya risiko global seiring harapan akan kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan.
Dilaporkan bahwa pejabat senior AS mengindikasikan kedua negara hampir mencapai draf final yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Langkah ini berpotensi memulihkan aliran minyak dunia, menurunkan harga energi, serta meredam imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang yang pekan kemarin sempat meningkat ke level tertinggi setahun terakhir, hampir 4,7 persen.
Meskipun sentimen global mendukung penguatan, Pilarmas menilai, situasi perekonomian dalam negeri yang masih bergejolak membuat pelaku pasar dan investor asing cenderung berhati-hati.
Fondasi eksternal Indonesia tengah menghadapi tekanan setelah Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan I-2026 mengalami defisit hingga 9,15 miliar dolar AS. Realisasi ini memburuk dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatatkan defisit 6,07 miliar dolar AS sekaligus jauh lebih lebar dari periode yang sama pada 2025.
Sementara, defisit transaksi berjalan melebar ke 4 miliar dollar AS (1,1 persen terhadap PDB), dari 149 juta dolar AS pada periode sama pada 2025. Menyusutnya surplus perdagangan barang dari 10,2 miliar dolar AS menjadi 8 miliar dolar AS, menurut Pilarmas, mengindikasikan melemahnya kemampuan Indonesia dalam menghasilkan devisa.
Mereka menilai, penurunan ketahanan eksternal ini memicu kekhawatiran investor dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, yang sempat membuat rupiah menjadi mata uang terlemah di kawasan sepanjang waktu berjalan di triwulan II-2026.
"Jika tekanan berlanjut, BI berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi dan memperkuat intervensi valas. Langkah ini, meski demi stabilitas rupiah, berisiko menekan likuiditas dan pertumbuhan ekonomi domestik," kata mereka.
Oleh karena faktor tersebut, sisa pekan ini cenderung menantang. Dalam waktu perdagangan yang hanya berlangsung selama tiga hari akibat adanya libur nasional dan cuti bersama Hari Raya Idul Adha (27–28 Mei 2026), pasar global justru akan disorot oleh rilis data ekonomi penting dari AS.
Data Conference Board Consumer Confidence diproyeksikan kembali menurun. Sementara itu, data inflasi yang paling diperhatikan The Fed, yakni Real Personal Income dan Spending, juga diproyeksi turun. Namun, US Personal Consumption serta Core PCE Price Index, secara bulanan maupun tahunan, diproyeksikan naik.
Sejumlah variabel itu berpotensi mendorong inflasi tetap tinggi dan menjadi pertimbangan utama The Fed untuk mempertahankan, atau bahkan membuka ruang kenaikan suku bunga (higher for longer). Selain AS, investor juga menanti data laba industri dan PMI Manufaktur dari Tiongkok, serta data ketenagakerjaan (Jobless Rate) dan penjualan ritel dari Jepang yang diproyeksikan melambat.
Potensi pemulihan indeks hingga akhir Mei juga dibayangi oleh tingginya volatilitas menjelang penerapan komposisi indeks mutakhir oleh MSCI mulai 29 Mei 2026. Potensi pemulihan indeks hingga akhir Mei juga dibayangi oleh tingginya volatilitas menjelang penerapan komposisi indeks mutakhir oleh MSCI mulai 29 Mei 2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, dalam keterangan tertulisnya, menilai, potensi pemulihan indeks hingga akhir Mei juga dibayangi oleh tingginya volatilitas menjelang penerapan komposisi indeks mutakhir oleh MSCI mulai 29 Mei 2026.
Meski demikian, pasar mencatat kenaikan likuiditas dengan rata-rata nilai transaksi harian naik 15,68 persen menjadi Rp 21,77 triliun. Ini mengindikasikan adanya aktivitas distribusi dan reposisi portofolio yang tinggi oleh investor. Sentimen domestik juga terbantu oleh hasil review FTSE Russell yang relatif konstruktif sehingga meredakan kekhawatiran akan adanya outflow besar.
Di sisi lain, perhatian investor juga tertuju pada kepastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang tetap efektif mulai 1 Juni 2026, yang berpotensi menyisakan volatilitas pada saham-saham energi dan bahan baku (basic materials).
Pekan ini, Brigita memproyeksikan, saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big caps) juga masih rentan mengalami tekanan jual, melanjutkan aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 309,52 milar pada akhir pekan lalu. Tekanan ini sempat memangkas kapitalisasi pasar bursa sebesar 10,06 persen menjadi Rp 10.635 triliun.
Melihat performa sepekan lalu (18–22 Mei 2026), IHSG telah mengalami koreksi tajam sebesar 8,35 persen ke level 6.162, bahkan sempat menyentuh level terendah tahun ini di posisi 5.966. Berdasarkan analisis teknikal, tren pelemahan jangka menengah dinilai masih dominan.
"Penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama," jelas Brigita.
Dalam jangka pendek, IPOT memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways atay relatif datar dengan volatilitas tinggi pada rentang support atau batas bawah 5.996–5.899 dan resistance atau batas atas di 6.318–6.459. "Area 5.899 menjadi level penting untuk menjaga peluang rebound, sementara pergerakan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan," katanya.
Sementara itu, Pilarmas Sekuritas melihat ada probabilitas sebesar 61 persen bagi IHSG untuk bergerak menuju level 6.020, dengan titik terendah berada di level 5.900. Senada dengan Pilarmas, IHSG dinilai baru berpotensi berbalik arah (mengonfirmasi tren penguatan) apabila mampu melewati level resistansi kuat di posisi 6.380.
Setali tiga uang dengan pasar saham, pasar obligasi saat ini juga masih berada dalam fase penguatan yang tidak signifikan. Minimnya dorongan penguatan pada pasar pendapatan tetap ini terjadi utamanya setelah pengumuman kenaikan BI-Rate sebanyak 50 bps beberapa waktu lalu.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar disarankan untuk tetap defensif dan cermat dalam mengelola risiko portofolio hingga seluruh periode rebalancing dan ketidakpastian makroekonomi ini mereda.





