REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Matahari masih menyinari Stadion Etihad, Manchester pada Ahad (24/5/2026) petang saat Manchester City menjalani laga terakhir Liga Primer Inggris musim ini melawan Aston Villa. Hasilnya tak jadi perhatian karena City sudah dipastikan gagal mempertahankan gelar juara.
Lebih dari semuanya, fans City datang ke stadion ingin menyaksikan untuk terakhir kali sosok yang mereka sanjung mendampingi tim kesayangan mereka di pinggir lapangan.
- Kekalahan di Laga Terakhir, Era Guardiola di Manchester City Berakhir
- Manchester City Abadikan Nama Guardiola di Tribun Stadion Etihad
- Lepas Jabatan Pelatih Manchester City, Guardiola: Saya Tahu Ini Waktunya
Sosok itu adalah Pep Guardiola. Duel City kontra Villa bukan sekadar pertandingan penutup musim, melainkan juga menjadi laga terakhir Guardiola sebagai pelatih City setelah satu dekade penuh trofi. Dalam polesan tangan dinginnya, Guardiola membuat City mendominasi. Pria Spanyol itu juga merevolusi sepak bola Inggris.
Pep tampak tenang sepanjang laga. Ia duduk di bangku cadangan, sesekali memberi instruksi pendek. Bahkan ketika rekrutan anyarnya, Antoine Semenyo, membawa Villa unggul lewat tendangan voli, Guardiola nyaris tak bereaksi. Seolah, ia sedang menikmati setiap detik terakhirnya di Etihad.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Namun semuanya berubah pada menit ke-59. Papan pergantian pemain terangkat. Nomor 20 milik Bernardo Silva muncul. Kapten City itu berjalan keluar lapangan dengan mata sembab. Seluruh pemain City dan Aston Villa memberikan guard of honour. Tepuk tangan menggema dari tribun.
Guardiola yang berdiri di sisi lapangan akhirnya runtuh oleh emosinya sendiri. Air matanya luruhke pipi saat Bernardo Silva menghampiri dan memeluknya. Dua sosok yang menjadi bagian penting dominasi City dalam beberapa tahun terakhir itu berpelukan cukup lama di depan ribuan pendukung yang ikut larut dalam suasana haru.
Momen tersebut seperti merangkum seluruh perjalanan Guardiola di Manchester City. Sebuah era yang dipenuhi kemenangan, rekor, dan sepak bola indah.
Selama 10 tahun, Guardiola mengubah City menjadi mesin trofi. Enam gelar Liga Primer Inggris, satu Liga Champions, tiga Piala FA, lima Piala Liga Inggris berhasil diraihnya. City juga menjadi klub Inggris pertama yang menjuarai liga empat musim beruntun. Hanya Ferguson dari Manchester United, dengan 13 gelar, yang meraih lebih banyak trofi liga utama Inggris dibandingkan Guardiola, seperti dikutip dari BBC.
Tak heran sejak beberapa jam sebelum kick-off, kawasan Etihad sudah dipenuhi lautan biru. Syal, bendera, dan merchandise bergambar Guardiola laris manis diburu suporter yang ingin menjadi bagian dari akhir era bersejarah ini.
Sebuah spanduk besar terbentang di tribun Timur saat pemain memasuki lapangan. Tulisan itu berbunyi: “10 Years with Pep — Game Changer, History Maker, City Forever.” Tepat di sisi lain stadion, nama Guardiola kini juga resmi diabadikan menjadi nama tribun utara baru Etihad, yakni Tribun Pep Guardiola.
Ayah Guardiola, Valenti Guardiola yang sudah berusia 95 tahun, hadir langsung di stadion. Pep mengaku bangga nama keluarganya akan selamanya menjadi bagian dari Etihad.
Pelatih Aston Villa Unai Emery bahkan memberikan penghormatan khusus sebelum pertandingan dimulai. Emery menyebut Guardiola sebagai satu-satunya “jenius sepak bola” yang pernah ia hadapi sepanjang karier kepelatihannya.
Hasil pertandingan akhirnya tak berpihak pada City. Aston Villa menang lewat dua gol Ollie Watkins. Namun, peluit akhir justru menjadi awal dari gelombang emosi yang lebih besar di Etihad.
Guardiola berdiri di tengah lapangan untuk memberikan pidato perpisahan. Suaranya beberapa kali bergetar dan tercekat ketika seluruh stadion menyanyikan chant “We’ve got Guardiola” untuk terakhir kalinya.




