Polisi antihuru-hara di Turki menembakkan gas air mata ke markas partai oposisi utama, CHP, Minggu (24/5). Aparat juga mengusir pimpinan oposisi tersebut dari kantornya.
Penembakan gas air mata membuat kantor CHP diselimuti kabut tebal. Orang-orang di dalam gedung sempat melawan dengan melemparkan sejumlah benda ke arah pintu masuk tempat polisi berada.
Meski sempat terjadi bentrokan, belum ada laporan korban luka maupun korban jiwa akibat insiden tersebut.
Penyerbuan aparat kepolisian merupakan buntut keputusan pengadilan Turki yang mencopot Ozgur Ozel dari jabatan ketum CHP pada Kamis (21/5). Pengadilan menuduh Ozel melakukan penyimpangan dalam hasil kongres partai.
Ozel terpilih menjadi ketua partai oposisi terbesar yang menentang Presiden Recep Tayyip Erdogan pada 2023. Namun, pengadilan memutuskan hasil kongres CHP tahun 2023 tidak sah.
Kantor Gubernur Ankara kemudian memerintahkan pengusiran terhadap Ozel dan para pendukungnya dari markas CHP pada Minggu (24/5) waktu setempat.
Dalam putusan yang sama, pengadilan menetapkan jabatan pemimpin CHP diserahkan kepada Kemal Kilicdaroglu.
Meski sempat melakukan perlawanan, Ozel akhirnya berhasil diusir aparat keamanan dari kantornya.
“Kami sedang diserang,” tulis Ozel melalui media sosial X sesaat sebelum dipaksa keluar dari kantornya, seperti dikutip Reuters.
Setelah keluar dari markas CHP, Ozel menegaskan akan terus melawan pemerintahan Erdogan melalui aksi jalanan. Ia bahkan langsung memimpin demonstrasi di depan parlemen Turki yang berjarak sekitar 6 kilometer dari kantor CHP.
“Sampai perjuangan ini membebaskan kami dari pendudukan, markas kami ada di sini,” kata Ozel di depan gedung parlemen.
Insiden yang menimpa Ozel terjadi ketika pemerintah dan pengadilan Turki tengah mendapat sorotan tajam. Menjelang pemilu 2028, oposisi dan sejumlah media independen menuding pengadilan digunakan untuk membungkam lawan politik Erdogan.





