Bandar Lampung: Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bandar Lampung menjadi korban penusukan yang diduga dilakukan teman sekelasnya. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka tusuk di bagian perut dan punggung hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Peristiwa duel antar pelajar SMP di Bandar Lampung itu mengakibatkan satu orang pelajar mengalami dua luka tusukan senjata tajam di bagian perut dan punggung. Korban saat ini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Moeloek, Lampung.
Kejadian berlangsung di Jalan Raden Pemuka, Kelurahan Gunung Sulah, Kecamatan Way Halim, Bandar Lampung. Lokasi tersebut tidak jauh dari tempat korban dan pelaku bersekolah.
Korban berinisial V, berusia 13 tahun, sementara pelaku berinisial KAS, juga berusia 13 tahun. Keduanya merupakan siswa kelas 1 SMP Negeri 44 Bandar Lampung. Peristiwa penusukan terjadi di luar lingkungan sekolah pada saat jam pulang sekolah.
"Saya tidak mengetahui secara langsung awal mula kejadian. Namun, saat tiba di rumah, kondisi lokasi sudah ramai dikerumuni warga," kata Bibi korban, Rini, Senin, 24 Mei 2026.
Baca Juga :
Kasus Penikaman Nus Kei, Polisi Kirim SPDP ke Kejari Maluku Tenggara
Menurut keterangan dari pihak keluarga, korban sempat pulang ke rumah dalam kondisi masih sadar. Korban bahkan masih sempat membuka sepatu sendiri dan mengeluhkan rasa sakit di tubuhnya.
Setelah diperiksa, keluarga menemukan luka tusuk di bagian perut korban yang sudah mengeluarkan darah. Ayah korban kemudian segera membawa V ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Akibat insiden ini, korban mengalami dua luka tusuk di bagian perut. Kondisi korban saat ini dilaporkan mulai membaik dan sudah sadar setelah mendapatkan penanganan medis di RSUD Abdul Moeloek.
Keluarga menyebut pelaku diduga merupakan teman satu sekolah korban dan masih duduk di kelas yang sama. Keluarga juga menduga saat kejadian berlangsung, korban tidak diserang sendirian. Hingga kini, kasus penusukan antar pelajar ini masih dalam penanganan pihak kepolisian untuk mengungkap motif dan kronologi lengkap kejadian. (Andi Apriyadi)




