Halodoc Beri Sinyal untuk IPO

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Halodoc mengungkapkan perusahaan memang memiliki rencana untuk pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO). Namun, startup kesehatan ini masih berfokus memperkuat bisnis, menjaga kualitas layanan, dan memastikan pertumbuhan perusahaan berjalan berkelanjutan.

Chief Operating Officer Halodoc Alfonsius Timboel mengatakan, IPO merupakan salah satu tonggak pencapaian bisnis yang ditunggu. “Dari sisi bisnis, saya rasa itu adalah satu tonggak pencapaian yang kami tunggu-tunggu, tinggal mencari waktu yang tepat saja,” kata dia dalam acara talkshow 10 Tahun Halodoc di Jakarta, Senin (25/5).

“IPO itu kematangan, tinggal menunggu waktunya yang tepat kapan,” ujarnya.

Alfonsius menyebut sejak awal berdiri, Halodoc dibangun dengan struktur bisnis dan tata kelola perusahaan yang jelas. Menurutnya, fondasi ini menjadi modal penting bagi perusahaan untuk berkembang di industri kesehatan yang mengandalkan kepercayaan publik.

Ia menambahkan, bisnis layanan kesehatan memiliki karakter berbeda dibanding sektor lain. Sebab bisnis ini sangat bergantung pada kredibilitas dan kepercayaan pengguna.

Oleh karena itu, Halodoc memilih tumbuh secara hati-hati tanpa mengambil langkah instan. “Kami bersyukur hubungan antar-pendiri, CEO, sampai manajemen punya kredibilitas dan prinsip yang jelas sehingga tidak terlalu mengambil jalan pintas,” ujarnya.

Di tengah perubahan iklim industri startup dalam beberapa tahun terakhir, Halodoc juga mulai meninggalkan pola pertumbuhan agresif dengan strategi ‘bakar uang’.

Perusahaan kini menitikberatkan pada keberlanjutan ekonomi bisnis.“Beberapa tahun lalu sempat ada musim dingin startup, sudah tidak ada lagi era bakar duit. Dari dua sampai tiga tahun lalu fokus kami bagaimana ekonominya bisa berkelanjutan,” kata Alfonsius.

Menurut dia, perusahaan tidak ingin hanya menghadirkan layanan kesehatan yang mudah diakses tetapi tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Kami tidak mau akses layanan semuanya simpel tapi hanya bisa bertahan satu tahun. Jadi semua layanan harus bisa berdiri dengan baik dan berkelanjutan,” ujar dia.

Pengembangan Teknologi AI

Meski fokus pada profitabilitas dan keberlanjutan bisnis, Halodoc memastikan tetap membuka ruang investasi untuk pengembangan teknologi masa depan. Ini termasuk kecerdasan buatan atau AI dan generative AI.

Alfonsius mengatakan perusahaan sebenarnya bisa lebih cepat mencetak keuntungan apabila hanya berfokus pada bisnis yang ada saat ini. Namun Halodoc memilih tetap mengalokasikan investasi untuk pengembangan infrastruktur teknologi jangka panjang.

“Kalau fokus ke bisnis sekarang saja, kita bisa menghasilkan keuntungan dengan gampang sekali. Tapi kami mengambil keputusan yang sulit untuk tetap investasi ke masa depan,” kata dia.

Ia menilai perkembangan teknologi kesehatan akan terus berubah, mulai dari era aplikasi digital hingga pemanfaatan AI generatif. Khususnya dalam menyederhanakan akses layanan kesehatan.

“Dulu penyederhanaan layanan kesehatan lewat aplikasi, sekarang harus berubah dengan AI, setelah itu berkembang lagi dengan AI generatif dan sebagainya. Itu yang membuat kami terus berinovasi dan investasi infrastruktur supaya lebih siap untuk inovasi ke depan,” ujar Alfonsius.

Namun, ia memastikan Halodoc tidak memandang AI untuk menggantikan dokter. Penggunaan AI hanya untuk membantu dokter dan pasien. Salah satunya, Halodoc menggunakan AI untuk meringkas konsultasi percakapan antara pasien dengan dokter. Sebab setelah konsultasi, setiap dokter harus memberikan rekam medis.

“Mereka tulis, konsultasi pasiennya mengenai apa. Tujuan rekam medis itu supaya bisa ditangkap datanya sehingga kalau pasiennya konsultasi lagi dengan dokter yang sama atau selanjutnya, dokter yang selanjutnya pun bisa melihat dengan gampang,” katanya.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pimpinan MPR: Literasi AI bagi disabilitas jalankan amanat konstitusi
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Membaca Prospek Saham Folago (IRSX) dari Konser Westlife hingga OTT Piala Dunia
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Curhatan Ega ke Dedi Mulyadi, Bantah Aman Yani Berhutang Ratusan Juta demi Biaya Pendidikan Kedokterannya
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Fenomena YouTube Marapthon: Ketika Ruang Digital Jadi "Kamar Kos Bersama"
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Nasib Guru Honorer 2027: Mendikdasmen Pastikan Guru Honorer Tetap Mengajar Hingga Penghujung 2026
• 10 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.